Oleh: Maman El Hakiem

Udara gurun yang panas tidak menyurutkan niat untuk menaiki bukit Uhud. Di bawahnya lembah yang menjadi saksi bisu betapa kesetiaan itu sangat berarti,tidak boleh tergoda limpahan harta. Para pemanah yang harusnya tetap bertahan di atas bukit tergoda rayuan harta rampasan perang, padahal laga belum usai. Seorang ksatria bernama Hamzah terurai ususnya dikunyah wanita pendendam, bernama Hindun. Tetapi, bukan salah hati wanita melainkan hidup adalah ujian keimanan.

Hampir saja Fikri tergoda oleh kemolekan gadis Turki yang dikenalkan seorang kawannya. Wanita berjilbab hitam rombongan dari Turki itu, selalu berpapasan karena tinggal satu hotel. Fikri yang belum menikah,selalu berusaha menjaga pandangan terlebih di tanah suci, betapa setiap lintasan hati merasa terawasi Allah SWT. “Fik, kenapa tidak berdoa biar dapat jodoh di tanah suci? Tuh banyak wanita suci yang terjaga perangainya?” Tanyaku menyindirnya.

“Apa boleh berniat mencari jodoh saat umroh? Padahal, ibadah itu harus semata-mata karena Allah bukan?’ Tanya Fikri. ‘Betul, niat menentukan nilai amalan kita, tetapi berdoa yang terbaik di tempat yang mustajabah tidak masalah.” Jawabku datar.

“Niat umrohmu apa, Fik?” Aku semakin penasaran.

“Jujur saya banyak dosa, dengan ibadah umroh ini ingin membersihkan diri. Selama ini saya terjerumus oleh kehidupan pergaulan yang salah, banyak menyakiti hati wanita. Sering ganti-ganti pacar sewaktu kuliah.” Jawabnya panjang lebar.

“Wah macan kampus juga

“Apaan sih…kan macan itu keren, gagah berwibawa dan bikin hati wanita takluk.” Jawab Fikri .

“Ya, tapi macan itu yang semula gagah ketika sudah masuk perangkap hanya tinggal tontonan.” Mendengar jawabanku, Fikri nanya bisa manggut-manggut. Dirinya baru sadar jika ketampanannya bukan untuk menaklukan hati wanita, tetapi bagaimana menjadikan hati wanita terhormat. Solusinya bukan pacaran, tetapi berani nikah meskipun masih belia.

Di bukit Uhud itu, Fikri menyadari jika Hamzah yang gagah harus bersimbah darah di hadapan seorang wanita. Tetapi, keperrkasaan seorang lelaki dibuktikan di medan pertempuran dalam membela agama, bukan karena menaklukan hati wanita.

‘Coba lihat Fik, di bawah lembah itu kini adalah makam para syuhada…salah satunya adalah Hamzah yang gagah berani, menitikan darah terakhirnya dengan tubuh yang dicincang-cincang. Para pemanah yang harusnya melindunginya, malah turun merebutkan harta yang belum pasti di genggaman. “Kamu mau memilih pemanah atau Hamzah?” Tanyaku.

“Pemanah asmara maksudnya ya? Mak Jleb banget hehe…” Fikri tersenyum tertawa lepas.

“Hidup ini pilihan Fik, tetapi bukan memilih semuanya.” Ucapku.***
(Bersambung).