Oleh: Muslihah AQ
(Komunitas Remaja Muslimah Tangguh)
Sumedang

Berdasarkan Radarsumedang.id Pemkab Sumedang akan segera menerapkan sistem tatap muka dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dua sekolah sudah ditunjuk menjadi proyek percontohan belajar tatap muka di masa pandemi Covid-19, yakni SMAN Tanjungkerta, dan SMA Al-Mustofa Kecamatan Pamulihan.
Bupati mengatakan secara keseluruhan SMAN Tanjungkerta sudah siap menggelar pembelajaran metode tatap muka, seperti sudah disiapkan tempat cuci tangan, pembagian masker dan face shield kepada peserta didik. Siswa yang hadir di sekolah juga hanya 20 persen jumlah total siswa. (sumedang.radarbandung.id 07/10/2020).


Karut marut akibat pandemi bukan hanya di sektor ekonomi dan medis saja tapi juga terhadap sektor pendidikan. kebijakan pendidikan di tengah pandemi mengorbankan nasib para pelajar. Di tengah itu juga, Kemendikbud tengah menggodok kurikulum baru yang mulai digunakan pada 2021 di sekolah-sekolah penggerak. Sebagaimana Kurikulum Darurat, rancangan kurikulum baru tersebut juga merupakan penyederhanaan dari Kurikulum 2013 yang mengusung Merdeka Belajar.


Sering banget ganti-ganti kurikulum Ini tidak hanya akan berdampak pada siswa bisa jadi kelinci percobaan, Para Guru juga yang dituntut untuk memahami kebijakan baru, sementara proses pelatihan guru tidak terjadi dengan optimal. Jika terjadi maka target pendidikan tidak akan kecapai.
Ritual ini pula sudah jadi kewajiban sistem pendidikan dan prodak sistem pemerintahan yaitu sistem Demokrasi. Sistem dari kapitalisme ini adalah syarat akan biaya tinggi, dari biaya perlengkapan sekolah setiap semester atau setiap tahunnya terus berganti, dan biaya bergantinya kebijakan baru. Dari mulai para guru sampai para siswa.


Padahal PR pemerintah masih banyak sekali, PR fasilitas pendidikan yang kurang, PR terbentuknya kepribadian pada siswa, kriminalitas dan pergaulan bebas masih merajalela, pada masalah utama pendidikan hari ini adalah masalah tujuan pendidikan yang biasa, hilang esensi dan jauh dari nilai-nilai agama. Sekularisme menjadi asas pendidikan. Hasilnya, anak-anak didik yang miskin perilaku (kepribadian) para siswa, juga visi ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak berpihak kepada umat dan peradaban mulia.


Walhasil ganti kurikulum dan kebijakan itu ganti-ganti kurikulum Ini hanya menyentuh masalah teknis. Tidak menyelesaikan masalah pendidikan sampai ke akar.
Kebijakan Merdeka Belajar juga berorientasi pada pasar tenaga kerja yang kapitalistik. Pendidikan diselenggarakan agar lulusannya bisa terserap sebesar-besarnya dalam pasar kerja. Ini semua adalah tuntutan kapitalis yang membajak dunia pendidikan.


Konsep pendidikan Islam yang terbaik untuk diterapkan adalah Sistem Khilafah. Adanya pendidikan itu iyalah untuk memelihara akal manusia, pola pikir dan sikap akan berubah dengan Islami. Seperti dalam QS. Az-Zumar ayat 9
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
أَمَّنْ هُوَ قٰنِتٌ ءَانَآءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ الْأَاخِرَةَ وَيَرْجُوا رَحْمَةَ رَبِّهِۦ  ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبٰبِ
Para siswa harus mampu menghindari kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Kriminalitas dan pergaulan bebas pasti bisa ditekan habis dengan menerapkan kurikulum islam milik Khilafah, Kebijakan negara secara sistematis akan mendesain pendidikan dengan seluruh progres sistemnya. Bukan, hanya dari sisi anggaran, namun juga terkait media, riset, tenaga kerja industri sampai pada tataran politik luar negeri.
Maka dari itu Sistem Khilafah baik saat pandemi atau tidak, dengan adanya asas yg sahih, tujuan yang jelas, dan fleksibel dalam hal uslub.akan gemilang di sistem pendidikan Islam dimasa keemasan khilafah.
Wallahu A’lam Bi-shawwab.