Oleh : Sri Wahyuni, S. Pd


“Memilukan! Penguasa tetap tak bergeming atas kebijakan pengesahan RUU Ciptaker meski gelombang demo terus berlanjut di sejumlah daerah.”
Belum usai kekecewaan rakyat atas dinginnya sikap penguasa dalam menyambut para demonstran, munculnya surat edaran oleh Kemendikbud Nadiem Makarim yang berisi imbauan agar Mahasiswa tidak turut berpartisipasi dalam kegiatan demonstrasi memicu kecaman keras dari Badan eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BMSI). “Surat imbauan Kemendikbud untuk meredam gerakan Mahasiswa atau penolakan terhadap UU Omnibus law Cipta Kerja sesungguhnya telah menyalahi prinsip kebebasan akademi,” kata Koordinator Pusat Aliansi BEM SI, Remi Hastian (detiknews, 12/10/20).
Bukan hanya Mahasiswa, bahkan para pelajar yang mengikuti aksi demonstrasi pun terancam dipersulit mendapat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Hal itu salah satunya akan diterapkan oleh Polresta Tangerang, Banten. “Benar, akan dicatat dalam SKCK,” kata Kapolrsta Tangerang Kombes Ade Ary Syam Indradi. Adi menuturkan pencatatan terkait SKCK itu untuk mencegah kemudaratan yang dapat merugikan para pelajar. Pihak kepolisian pun berharap para orang tua nantinya lebih mengawasi anak-anaknya (CNN Indonesia, 14/10/20).


Munculnya larangan hingga ancaman terhadap para pelajar dan Mahasiswa yang melakukan unjuk rasa sesungguhnya bukanlah sikap tepat yang ditunjukkan Penguasa, bahkan menyalahi kebebasan yang selama ini diagung-agungkan di negeri ini. Apalah arti kebebasan berpendapat jika suara para intelektual muda dibungkam. Apakah kebebasan Demokrasi hanya untuk kalangan tertentu? Adanya standar ganda dalam sistem demokrasi menimbulkan kebingungan, sebab kebebasan itu nyatanya hanya untuk mereka yang sejalan dengan kehendak penguasa bukan untuk mereka yang lantang mengoreksi kebijakan cacat penguasa. Berpangkal dari pembungkaman suara kritis intelektual muda inilah sesungguhnya akan memandulkan potensi mereka. Betapa tidak, jiwa yang fitrahnya memang memiliki sikap pemberani dan peduli lantas ditundukkan dengan ancaman serta larangan. Harusnya potensi seperti ini terus ditumbuhkan oleh Negara dengan edukasi yang benar yakni memahamkan mereka akan politik dan bagaimana seharusnya aspirasi itu disampaikan. Tentu tak cukup dengan hanya edukasi, melainkan Negara perlu memberikan teladan terbaik yakni mendengarkan aspirasi mereka bukan mengabaikan atau justru menantang dengan meminta mengajukan banding ke MK jika tak sepakat atas pengesahan suatu kebijakan. Jika selama ini aksi unjuk rasa selalu diwarnai dengan kericuhan maka harusnya Negara melakukan evaluasi bukan mengamputasi.


Lebih jauh lagi harusnya Negara bisa melihat sisi positif atas keberanian dan kepedulian para intelektual muda ini. Bayangkan jika potensi ini tumbuh dengan edukasi yang baik ditambah kecerdasan intelektual dan spiritual, maka ini akan menjadi benteng yang melindungi negeri dari segala bentuk penjajahan. Dan bayangkan jika peran mereka hanya dibatasi di bangku sekolah dan kampus, bukan tidak mungkin jika potensi mereka akan semakin terkikis dan hilang sehingga menyisakan sikap apatis atas kondisi negeri.
Berbeda dengan respon penguasa hari ini dalam menghadapi para pengunjuk rasa yang cenderung mengamputasi peran dan potensi mereka, penguasa muslim dalam Daulah Islam bukan hanya mempertimbangkan aspirasi mereka sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab atas protes seorang perempuan dalam persoalan mahar. Lebih dari itu, penguasa akan mengarahkan potensi mereka sesuai dengan fitrah penciptaan manusia yakni mengabdi kepada Sang Khaliq dan memberi manfaat bagi umat. Maka melalui sekolah dan kampus akan ditanamkan pendidikan yang akan menumbuhkan kesadaran untuk tunduk kepada setiap perintah dan larangan Allah Swt, serta membekali keahlian yang nantinya dapat berguna untuk umat. Sehingga keberanian dan kepedulian mereka adalah dalam rangka menyingkirkan berbagai bentuk kedholiman yang tak sesuai Syariat Islam. Dimana semua itu ditujukan untuk mendapatkan ridho Allah Swt semata. Dengan pendidikan yang demikian, tak heran jika di masa kepemimpinan Islam, banyak melahirkan generasi pemberani dan memiliki jiwa kepedulian yang luar biasa sekelas Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah yang meski tebasan pedang musuh memisahkan tangan dengan badannya namun sedikitpun tak gentar untuk terus memerangi musuh demi meninggikan kalimat Lailaha Illallah hingga wafat sebagai syuhada’. Bahkan bukan hanya laki-laki yang syahid di medan perang, seorang perempuan mulia Nusaibah Binti Ka’ab bahkan menjadi syuhada’ pertama di medan jihad. Apalagi jika bukan karena keberanian melawan kedholiman yang berbalut ketaatan luar biasa kepada Allah Swt.