Oleh: Maman El Hakiem

Yang tercela itu mengejar dunia, bukan menjemput rezeki. Bagi orang yang beriman, mendapatkan rezeki tidak harus diperbudak dunia. Berjalanlah sebentar ke Tsaqifah Bani Saidah, meskipun kini hanya berupa taman kecil yang dijadikan cagar budaya. Padahal, dulu tempat tersebut menjadi sejarah penting, ada sosok Abdurahman bin Auf yang berkeliling ke setiap penduduk kota Madinah untuk meminta pendapat akan sosok pengganti kepemimpinan sepeninggal baginda Nabi saw.

Abdurrahman itu saudagar kaya tetapi tidak diperbudak dunia. Kekayaannya yang berlimpah di Makkah rela ditinggalkan untuk memilih hijrah bersama Rasul. Setibanya di Madinah yang ada hanya pakaian yang melekat dan bekal yang semakin tipis. Kaum Anshar berusaha memberinya tempat tinggal dan harta, tetapi Abdurrahman hanya mengambilnya beberapa dinar sebagai pinjaman untuk menuju pasar. Kemudian, ia berniaga dengan modal yang ada dan menikah dengan seorang wanita yang dapat meneguhkan agamanya.

“Cepatlah menikah, Fik, maka kamu akan kaya!” Aku masih saja memotivasi Fikri agar segera menikah, meskipun baru lulus kuliah. “Aku belum bekerja, nanti istri mau dikasih nafkah dari mana?” Tanyanya seakan belum percaya dengan asumsi menikah itu pangkal kaya.

“Justru kalau belum bekerja, menikah dulu saja…nanti banyak kerjaan di rumah…hehe.” Aku sedikit berkelakar. ‘Paling kerja bersih-bersih rumah kan? Kepala rumah tangga harusnya keluar rumah mencari rezeki buat istri.” Fikri berusaha berasumsi.

“Burung terbang dengan sayapnya, manusia yang berakal tanpa sayap bisa terbang. Bukan perkara keluar rumah, tetapi jadilah orang yang bertakwa, maka rezekimu dari jalan yang tak terduga.” Jawabku agak panjang lebar.

Sore di taman Tsaqifah, banyak sekali jamaah yang mengunjunginya. Sekedar memperhatikan tulisan yang ada di papan baca tentang sekilas pengangkatan khalifah pertama Abu Bakar ash Shiddiq. Betapa penting mengangkat seorang pemimpin agar urusan agama ini ada yang menjaganya.

“Kenapa Abdurrahman bin Auf tidak bernafsu menjadi penguasa? Padahal, ia seorang hartawan, pengusaha sukses…wah kalau jaman sekarang modal utama bisa berkuasa ya?” Tanya Fikri.

“Itulah bedanya sistem Islam dengan sistem sekuler. Orang yang beriman tidak akan bernafsu menjadi kepala negara, karena jabatan itu amanah bukan prestise. Sedangkan dalam sistem sekuler, jabatan seolah kebanggaan meskipun tidak amanah.” Jawabku.

Sungguh berat mengemban amanah itu, namun ketika ia mampu menjalaninya akan membuahkan limpahan pahala. “Kamu mau seperti Abdurrahman bin Auf atau Abu Bakar ash Shiddiq?” Tanyaku.

“Jadi pengusaha atau penguasa, jika mereka bertakwa, semuanya baik…asal separuh agamanya telah sempurna….menikah dulu ah…hehe” Jawab Fikri mulai encer pikirannya. (Bersambung).****