Oleh: Maman El Hakiem

“Perhatikan bagaimana unta diciptakan?” Kutipan firman Allah SWT tersebut membuatku penasaran. Meskipun memikul beban yang berat di punggungnya, tidak tampak letih. Kapan unta berhenti berjalan?” Pertanyaan yang ingin tahu jawabannya, seiring bis ini melaju menuju Makkah. Jarak tempuh lewat darat yang cukup jauh. Tergambar perjalanan Rasulullah Saw, dulu saat memfutuhat Makkah, setelah sekian tahun lamanya, kampung halamannya tersebut ditinggalkan.

Kehidupan baru di Madinah, bukan berarti dakwah keluar terhenti. Makkah, sebagai kampung halaman Nabi dan para sahabat adalah kota yang harus disinari cahaya Islam. Memori pengusiran dan penganiayaan secara fisik yang dialami baginda Rasulullah saw. tidak menjadi dendam dalam hatinya, melainkan sebagai agenda dakwah yang tertunda karena belum adanya kekuasaan. Setelah Madinah menjadi negara yang menerapkan syariah secara kaffah, maka selanjutnya Makkah sebagai tujuan agar kemulian Islam tegak di sana.

Aku duduk di bangku pinggir bis yang melaju dengan kecepatan sedang, seperti memberi kesempatan agar para jamaah dapat menikmati pemandangan gurun yang sesekali terlihat sekawanan unta beriringan. ‘Unta itu ternyata tidak pernah merasa lelah, dan berhenti pada jarak tertentu saat ditemuinya ada oase untuk mengisi cadangan makanan dan minumannya, sebagai bekal berjalan di atas panasnya gurun pasir.” Itulah sekilas yang ada dalam pikiranku.

Bis para peziarah dua kota suci tersebut, begitu lancar melaju karena jalanan tidak terlalu ramai, berbeda dengan suasana jalanan dalam kota yang hiruk pikuk. Di deretan bangku depan, tampak seorang ibu dan anak perempuannya yang asyik mengobrol.

“Nak, keberkahan rezeki dari ayahmu yang telah tiada. Kita harus bisa membadalkan ibadah umroh untuknya ya?” Tanya ibu tersebut.

Anak perempuan itu bernama Kirani, usianya sekira 32 tahun, tetapi belum menikah. Ia dari awal fokus dengan mencari ilmu, sehingga gelar S2 telah diraihnya. Namun, sayang urusan menikah jadi terabaikan, padahal teman-temannya telah banyak yang sudah menikah dan dikarunia anak.

“Ya, Bu. Kirani faham, papa memang telah tiada. Kirani sebenarnya ingin papa bisa menyaksikan jika nanti menikah, maaf ya Bu, sampai saat ini Kirani belum menikah juga.” Jawab Kirani.

Jauh dalam lubuk hati Kirani, sebenarnya ingin cepat ada yang melamar dirinya. Tetapi, ia tidak mau tebar pesona, keseriusannya menuntaskan pendidikannya semata-mata karena ingin mengisi kekosongan hatinya untuk mengisi rasa sepi dalam hidupnya.

“Iya Nak, ibu sebenarnya bangga kamu telah meraih gelar doktor, tetapi rasanya ada kebahagian lain bagi seorang ibu, jika di rumah terasa hangat dengan kehidupan baru anak dan menantu…apa harus ibu carika?” Tanya ibu pada Kirani.

‘Ah ibu, nanti pada saatnya Allah SWT akan memberikan jodoh yang terbaik. Lihat Bu! Sebentar lagi bis berhenti di Dzul Hulaifah, kita akan segera mengambil miqat disana.” Jawab Kirani seolah mengalihkan perhatian ibunya.*** (Bersambung).