Oleh: Ummu Hafidz
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Ujian Nasional diselenggarakan untuk mengukur pencapaian kompentensi lulusan peserta didik pada jenjang satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah sebagai hasil dari proses pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi kelulusan (SKL). Tujuan diadakan ujian nasional adalah untuk memetakan tingkat hasil belajar siswa pada satuan pendidikan salah satu upaya mewujudkan pendidikan yang berkwalitas. Ujian nasional yang selama ini dijalankan pemerintah akan dihapus dan diganti dengan Asemen kompensi mimimum yang disampaikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Totok Suprayitno. Ujian nasional masih didominasi dengan level rendah tingkat kognitifnya, maka dibutuhkan kognitif lebih tinggi. Pernyataan ini diungkapkan Totok didepan perwakilan guru yang hadir dalam acara Beranda Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan yang membahas tentang Asesmen Kompetesi Minimum, di Kemendikbud, Jakarta kamis 19 Desember 2019.

Pada tahun 2021 ujian nasional akan diganti menjadi Asemen Nasional untuk memetakan mutu pendidikan pada seluruh sekolah madrasah dan program kisaran jenjang sekolah dasar dan menengah,menurut Bapak Mendikbud Asemen Nasional merupakan ujian yang tidak lagi mengevaulasi capaian peserta didik secara individu, melainkan mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan yang mencakup proses input juga hasilnya. Penghapusan ujian nasional di Indonesia bukan hanya sekedar wacana, sebab penghapusan dikaji oleh pihaknya berdasar usulan dari banyak pihak. Menurut Mendikbud, usulan penghapusan ujian nasional tidak hanya datang dari masyarakat tetapi guru. Salah satu alasan adalah untuk menghindari murid stres, selain itu ujian ditengah jenjang memungkinkan fihak pendidik punya waktu untuk memperbaiki kwalitas siswa sebelum lulus dalam suatu jenjang, entah itu lulus SD, SMP, SMA. Perbaikan berdasar hasil asemen dan survey tidak akan bisa dilanjutkan bila hasilnya baru diketahui akhir jenjang pendidikan. Ujian nasional salah satu upaya pemerintah dalam menjadi mutu pendidikan.Ujian nasional dilakukan tiap tahun. Memiliki tujuan untuk mengukur siswa selama belajar dalam jenjang pendidikan, walaupun tidak menjadi jaminan kelulusan. Ujian nasional dijadikan sarana untuk melanjutkan kejenjanh lebih tinggi, dan sebagai tolok ukur untuk masuk ke sekolah yang terfavorit di kotanya.

Penghapusan ujian nasional alasan pemerintah yang mengakibatkan anak didik setres tidak masuk akal. Faktanya ujian nasional yang dilaksanakan pemerintah sebelum pemerintahan saat ini tidak menimbulkan apa yang mereka fikirkan justru dengan adanya ujian nasional merupakan salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan lembaga pendidikan, dan sarana anak didik untuk melakukan kompentasi yang positif, sejauh mana anak didik memahami pelajaran yang dipelajari selama mereka menempuh pendidikan. Jika ujian nasional diganti, ini bukan suatu persoalan yang ringan. Mungkin dibenak kita, apabila ujian nasional dihapus, apakah pendidikan akan lebih maju? tentu saja tidak,karena saat anak didik tidak dibebani dan tidak melakukan kompetisi untuk mendapatkan nilai yang tinggi, tentu anak didik akan bersikap santai, bahkan mengabaikan mata pelajaran dan menjadi anak yang tidak bertanggungjawab, hura-hura dan tidak memikirkan masa depan. Lalu mau dibawa kemana generasi muda. Generasi yang hanya mengikuti hawa nafsu saja akan mudah disetir, seperti kerbau yang cocok hidungnya. Mengikuti kemana tuannya. Pada akhirnya mudah dikuasai melalui pembodohan generasi.Inilah salah satu strategi penjajah untuk menjajah negeri muslim.

Pendidikan di negara khilafah mempunyai konsep yaitu membentuk pola tingkah laku anak didik yang berdasar akidah Islam, yang senantiasa merujuk kepada Al Qur’an dan Al Hadis. Dan menguasai ilmu kehidupan dan pengetahuan yang bertujuan menguasai saingan dan teknologi sehingga dapat mengembangkan pengetahuan dan berinofasi dalam berbagai bidang. Evaluasi pendidikan Islam sangatlah penting dilakukan secara komprehensif untuk mencapai tujuan pendidikan dilakukan melalui tulisan dan lisan. Dengan cara ini akan diketahui pengetahuan siswa dalam bidang apa yang menjadi keahliannya, dan mencetak generasi qurani. Generasi sebagai ulama juga generasi intelektual. Pendidikan Islam menghantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan yang berpedoman pada syariat Allah yang akan membawa pada keimanan, ketundukan pada syariat islam.

Ketika kebijakan pendidikan Islam dituntut masyarakat karena ada penyimpangan, maka khalifah segera mengevaluasi dan menganalisa, bagaimana pendidikan yang diterapkan ditengah -tengah masyarakat, apakah menyimpang dari aturan syariat maka kholifah akan menggantinya sesuai dengan kurikulum pendidikan dasar Islam yaitu Al quran’an dan Sunah.

Sejarah telah mencatat bahwa Islam telah mengalami masa lampau yaitu padamasa Dinasti Abbasiyah. Kejayaan bagi dunia tersebut dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu umum, yang memberikankontribusi besar tidak hanya bagi dunia Islam tetapi juga bagi bangsa itu dan pengaruhnya masih terasa hingga saat ini. Dari sekian banyak Khalifah yang pada masa Dinasty Abbasiyah yang menorehkan tinta emasnya, Khalifah Al Makmun, Putra dari Khalifah Harun Al-Rasyid, merupakan salah satu Khalifah yang menunujukan kegigihannya di dalam mewujudkan kejayaan Islam melalui kebijakannya di dalam mengembangkan pedidikan Islam. Al-Ma’mun banyak menyiapkan lembaga-lembaga pendidikan yang dijadikan pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat pada waktu itu.