Oleh: Maman El Hakiem

Apa yang menguatkan hati, saat orang-orang yang kita cintai pergi? Tidak lain karena semua hanyalah titipan. Betapa sedih. Rasulullah saw ditinggal istri tercintanya, Siti Khadijah ra. Sosok wanita mulia yang terjaga kehormatannya, meskipun lama menjanda. Kekayaan yang dimilikinya tidak pernah bermaksud membeli hatinya Rasulullah Saw. Satu-satunya yang membuat hatinya terpikat, karena penilaian Maisarah, yang ditugasi menemaninya berniaga. Bagi wanita mulia, tidak pernah berkhalwat, sekalipun dengan mitra bisnisnya.

Aku berusaha membaca shirah Nabi Saw. secara mendalam. Akhirnya aku temukan jawaban, baginda mulia berpoligami karena dakwahnya perlu pendamping, karenanya istri-istri yang dinikahinya beragam latar belakang, itu pun dilakukan atas petunjuk wahyu bukan nafsu semata. Ada seorang wanita yang dinikahinya karena beda akidah, juga seorang wanita tawanan perang untuk menyelamatkan kehormatannya.

“Jiee…baca-baca tentang poligami nih tadz?” Canda Fikri yang rupannya ngintip juga.

“Kan…poligami itu syari, menolaknya berarti gak nyunnah…hehe.” Jawabku mencari dalih.

“Sungguh dalih seorang lelaki, apa harus ijin istri?” Fikri seolah mencoba mengujiku.

“Bukan ijin istri, tapi istri harus tahu, setidaknya menikah itu bukan aib, maka harus diumumkan biar tidak jadi fitnah!” Jawabku agak serius. “Udah lah jangan ngomongin poligami, gimana sudah punya gambaran calon istri gak?” Tanyaku membelokan arah pembicaraan.

“Hehe…pinter, setelah dipikir-pikir, aku agak tertarik dengan nomer telepon yang dikasih teman ustadz yang muthowif itu.” Jawabnya. Aku mengerutkan kening sebentar, “Oh nomer akhwat yang dikasih Ustadz Zaki, oh itu jangan dipakai telepon-teleponan loh…” Pintaku.

“Ya..nggaklah aku ingin serius hijrah, makanya dekatin ustadz bukan untuk ngintip tentang poligami…tapi ingin telepon dia, ada saksinya orang ketiga gitu loh…” Paparnya.

‘Wah tega nih…orang ketiga berarti setan! Naga-naganya mau serius nih?” Fikri hanya senyum-senyum sendiri, lalu ia menekan-nekan angka di telepon genggamnya.

Tidak lama kemudian telepon berdering, sengaja pakai loud speaker biar pembicaraannya terdengar kami berdua. “Ayo Fik, mau ngomong apa, tuh dia sudah nyahut..” Aku mencandainya.

“Gak jadilah…aku tiba-tiba jadi kaku, mungkin beda ya aura kota Makkah, serasa dosa walaupun sekedar ingin menyapa.” Fikri menutup lagi telepon genggamnya.

‘Alhamdulillah…kamu ternyata luar biasa, sekarang begitu dekat hatimu dengan Allah SWT. Semoga jodohmu nanti adalah wanita yang hatinya sama-sama takut kepada Allah SWT.” Ucapku.

“Iya tadz…aamiin, besok jangan lupa kita persiapan untuk thawaf, ingin rasanya berdoa di multazam.” Kata Fikri, malam itu menunjukan pukul 22.00 Waktu Saudi.*** (Bersambung).