Oleh : Nadia Fransiska Lutfiani (Aktivis Dakwah )

Katakanlah “ Jika Kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( TQS Ali-Imran 3 : 31),

Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam dilahirkan hari Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah (Ibnul Qayyim, Zadul Maad, I/28).

Kelahiran beliau sebagai nabi terakhir yang diutus untuk seluruh manusia didunia sampai akhir zaman. Risalah dan petunjuk yang dibawanya adalah Syariah Islam.

Sebagai umat Baginda Nabi dalam membuktikan wujud taat yaitu dengan meneladani dan mengikuti sunnahnya. Berusaha agar tidak keluar dari jalur yang telah dicontohkan beliau.

Kecintaan kepada Baginda Nabi SAW harus terus diupayakan berusaha meneruskan perjuangan Rasulullah terhadap syariat Islam

Kecintaan seseorang pada sesuatu tergantung dari cara pandang dan pemahamannya. Dalam buku Nizhamul Islam bab Jalan menuju Iman karya Syekh Taqqiyudin an-Nabhani, artinya kecenderungan seseorang dalam memandang atau mencintai sesuatu sesuai dengan mahfum atau persepsi dan pemahamannya, hal ini dibentuk melalui pemikirian. Sebab pemikiranlah yang akan memperkuat persepsi terhadap cara pandangnya.

Begitupun kecintaan kepada baginda Nabi. Harus terbentuk dari pemikiran yaitu berupa kesadaran atas pemahaman yang diperoleh. Maka perbanyaklah pemahaman tentang apapun yang Rasulullah cintai berupa syariat.

Paham syariat akan menuntun kita memahami apa yang Rasulullah bawa dan perjuangkan semasa hidupnya.

Bulan Rabi’ul awal, sebagai peringatan maulid Nabi saw tidak bisa dilepaskan dari kedudukan beliau sebagai rasul utusan Allah; dan tidak boleh dilepaskan dari risalah yang beliau bawa dan dakwahkan.

Peringatan ini sebagai momen yang penting, bukan semata memperingati dan mengenang hari lahir. Namun harus mengandung perenungan tentang sikap kita terhadap Nabi saw, dakwah beliau dan risalah yang beliau bawa, dan bagaimana kita menerapkan semua itu dalam kehidupan.

Satu hal penting tidak boleh dilupakan. Yaitu bahwa beliau bukan hanya memiliki satu kedudukan sebagai Nabi saja.

Peran Rasulullah SAW tidak sekedar mencerminkan sosok seorang insan dengan kepribadian luhur, namun beliau adalah seorang Kepala Negara yang memimpin sebuah negara yang dikenal dengan Dualah Islamiyah. Beliau menjalankan politik dalam negeri dengan cara menerapkan syariah Islam secara kaffah kepada warga negara dan menjalankan politik luar negeri yang bersifat baku yakni dengan dakwah dan jihad.

Sungguh sangat disayangkan jika mengenal Rasulullah SAW hanya sebatas akhlak namun buta akan betapa luar biasanya Beliau sebagai seorang kepala negara yang mampu mengangkat marwah Bangsa Arab hingga menjadi negara Adidaya dibawah panji Islam.

Hal itu bisa dibuktikan dengan nash al-Quran.Sebagai Nabi dan Rasul, tugas beliau hanyalah menyampaikan risalah. Allah SWT berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (risalah Allah) dengan terang.” (TQS at-Taghabun [64]: 12)

Disamping itu, Nabi saw juga diperintahkan Allah untuk memutuskan perkara di antara manusia. Allah berfirman:
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TQS al-Maidah [5]: 48)

Perintah yang sama juga dinyatakan oleh Allah dalam ayat-ayat lainnya, tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah Allah hanya bagi Nabi.

Maka perintah tersebut ditujukan kepada umat Islam untuk memutuskan perkara di tengah manusia, menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah, yaitu menurut syariah Islam. Sekaligus merupakan perintah untuk menerapkan hukum-hukum syariah secara total dalam seluruh perkara di tengah masyarakat.

Selanjutnya, terkait sunnah hadits yang mengandung pesan penting tersebut membuktikan kecintaan terhadap Rasulullah –shallâLlâhu ‘alaihi wa sallam-, adalah hadits dari Anas bin Malik r.a., Rasulullah –shallâLlâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

«مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ»

 “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa saja yang mencintaiku, maka ia bersamaku menjadi penghuni surga.” (HR. Al-Tirmidzi, al-Thabarani, dll)

Sunnah sendiri asalnya bermakna thariqah (metode) dan sirah (jalan hidup), dan disebutan secara syar’i, yang dimaksud dengannya adalah apa-apa yang Nabi  saw – perintahkan, dan beliau –larang, serta puji baik berupa perkataan, maupun perbuatan, selain ungkapan ayat al-Qur’an.

Dimana gambaran hidup Rasulullah saw-, menggambarkan keteladanan praktis penegakkan Islam secara totalitas (kâffah) dalam seluruh aspek kehidupan, dari mulai kehidupan pribadi, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari mulai perkara syahadat dan shalat, hingga urusan imamah dan siyasah.

Bukti Cinta pada Nabi saw dan syariat yang dibawanya dengan meneruskan dan mengembalikan syariat yang dibawanya, untuk diamalkan dalam kehidupan.

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) di dalam Tafsîr al-Qurân al-Azhîm menjelaskan tentang QS. Ali Imran ayat 31 dengan menyatakan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengklaim cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad saw. (tharîqah al-Muhammadiyyah), maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariah Muhammad saw. secara keseluruhan.”

Kecintaan kepada Baginda Nabi saw. tentu harus dibuktikan secara nyata dengan meneladani dan menaati beliau. Imam Syafii (w. 204 H) menyatakan dalam penggalan bait syairnya: Andai cintamu benar, niscaya kau taat kepadanya Sungguh pencinta itu sangat taat kepada yang dia cinta.

Bukti cinta adalah dengan taat dan perjuangan, maka perjuangkanlah cinta kepadanya dengan menjalankan syariatnya.

Bentuk mencintai Nabi,sebagai jalan perjuangan umat muslim diseluruh penjuru negeri dengan menjaga jalan perjuangan, menjalankan perintah dan menjauhi segala laranganNya. Mewujudkan syariah islam secara total disegala lini kehidupan.

[]