Oleh : Aiska Miranti Indrasari (Pelajar SMPIT Insantama Bogor)

Saat ini dunia dikejutkan dengan mewabahnya suatu penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus yang bernama corona atau dikenal dengan istilah covid-19 (Corona Virus Disease-19).

Dikutip dari Tribunternate.com, pada Sabtu (17/10/2020) siang, tercatat ada 4.301 kasus positif terkonfirmasi. Sehingga total kasus virus corona di Indonesia menjadi 357.762 orang. Untuk jumlah pasien yang sembuh bertambah sebanyak 4.048 orang. Sedangkan 12.431 pasien positif virus corona dilaporkan meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah 84 dari pengumuman di hari sebelumnya.

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk memutus penyebaran virus covid-19 dengan membuat beberapa kebijakan yang diawali dengan kebijan Work From Home (WFH), Social Distancing, Physical Distancing yang pada akhirnya di berlakukanlah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan demikian kebijakan ā€“ kebijakan tersebut menghentikan sektor ā€“ sektor perekonomian di Indonesia.

Mengutip dari laman Oborkeadilan.com, Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah Redjalam mengatakan ekonomi Indonesia sudah berada dalam ambang resesi, CORE juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2020 akan berada di kisaran minus 5%. Setelah itu, pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020 sebesar minus 3-4% dan triwulan IV minus 1-2%.

Memperbaiki ekonomi dikarenakan serangan virus corona tentu menjadi tugas pemerintah yang sangat berat. Apalagi, vaksin dari virus itu sendiri yang belum ditemukan hingga sekarang, ditambah lagi penularan virus tersebut masih sangat tinggi hingga saat ini. Artinya, usaha pemulihan masih membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit.

Tidak dapat dipungkiri Indonesia sudah mengalami kerugian yang sangat besar akibat pandemi ini. Pemerintah telah habis-habisan dalam memberikan insentif dan bantuan untuk masyarakat pada saat pandemi ini. Kementrian keuangan memprediksi kerugian akibat pandemi ini mencapai 316 T pada kuartal I-2020.

Tak terkecuali, bidang pendidikan juga ikut terdampak terhadap kebijakan ini. Keputusan pemerintah yang mendadak meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi di rumah membuat kelimpungan banyak pihak. Proses belajar mengajar tetap harus dilaksanakan meskipun dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) demi mencerdaskan anak bangsa.

Setidaknya, meskipun belajar secara daring (online), setiap pelajar tetap menggunakan otaknya untuk tidak berhenti berpikir dan tetap dipakai untuk terus mengasah materi-materi. Tetapi hal ini tentunya membutuhkan perhatian lebih dari orang tua untuk terlibat dalam memantau setiap anak ketika belajar di rumah. Dengan kata lain, peran orang tua sangatlah penting dalam kondisi seperti ini. Tentu saja perubahan kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi Covid-19 ini menimbulkan dampak positif dan dampak negatif terhadap pendidikan di Indonesia.

Dampak positifnya antara lain adalah ada lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama keluarga, orang tua juga dapat mendampingi dalam kegiatan belajar, selain itu ada banyak sekali situs belajar online yang dapat diakses oleh setiap pelajar. Sedangkan untuk dampak negatifnya adalah terganggu dengan jaringan yang tidak stabil, tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan efektif karena beberapa faktor seperti tidak konsentrasi, kurang memahami materi yang disampaikan, dan kurangnya pengawasan penggunaan gawai oleh orang tua.

Pada masa awal ditetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak keluarga yang mengalami kesulitan dalam mengikuti metode pembelajaran baru ini karena keterbatasan sarana seperti laptop dan hp serta keterbatasan internet. Yang mengalami kesulitan ini tidak hanya orang tua dan siswa saja, tetapi juga dialami oleh sebagian guru.

Dengan demikian, harapannya setiap pelajar tetap belajar dan memiliki semangat belajar yang tinggi di tengah pandemi covid 19. Karena ini merupakan sebuah tantangan bagi para pelajar untuk menggapai cita-citanya. Bahwasannya, pelajar Indonesia tidak boleh lalai dan lengah dalam belajar, karena para pelajar adalah aset Bangsa dan Negara. Edukasi atau pendidikan harus tetap diperjuangkan dalam urutan pertama demi terwujudnya Indonesia yang cerdas, maju dan bekeadaban.

Semua upaya pemerintah tersebut harus ada dukungan dari masyarakat, dikarenakan masyarakat berperan sangat besar dalam penanganan pandemi ini, kesadaran seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai penyebaran virus covid 19 ini. Maka dari itu agar wabah virus covid-19 ini cepat teratasi di butuhkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat agar mematuhi semua peraturan yang telah di keluarkan oleh pemerintah guna untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 ini.****