Oleh : Watini Alfadiyah S. Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Merdeka belajar kian diperjuangkan dalam dunia pendidikan.
Artinya merdeka belajar unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan. Kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Inilah arti merdeka belajar dalam rezim yang bebas/merdeka. Namun, merdeka belajar dalam kubangan rezim kapitalisme kian diberangus. Dilansir tatkala ada mahasiswa dari berbagai kampus melakukan unjuk rasa tolak omnibus law UU Cipta Kerja (Ciptaker), sementara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan surat edaran yang mengimbau agar mahasiswa tidak ikut demonstrasi.


Hal ini tertuang dalam surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Nomor 1035/E/KM/2020 perihal ‘Imbauan Pembelajaran secara Daring dan Sosialisasi UU Cipta Kerja’. Surat ini diteken oleh Dirjen Dikti Kemendikbud Nizam pada Jumat (9/10).

Surat itu ditujukan kepada pimpinan perguruan tinggi serta ditembuskan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto, dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I-XVI.

Dalam surat itu, Kemendikbud mengimbau mahasiswa tidak berpartisipasi dalam kegiatan penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan kesehatan mahasiswa, seperti demonstrasi atau unjuk rasa. Sebab, pandemi di Tanah Air belum mereda.

“Menginstruksikan kepada para dosen untuk senantiasa mendorong mahasiswa melakukan kegiatan intelektual dan mengkritisi UU Cipta Kerja maupun produk kebijakan lainnya dan tidak memprovokasi mahasiswa untuk mengikuti atau mengadakan kegiatan demonstrasi/unjuk rasa/penyampaian aspirasi yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan para mahasiswa/i,” ucap Nizam.

Selain itu, Kemendikbud pun meminta perguruan tinggi tetap melaksanakan pembelajaran secara daring dari rumah masing-masing. Kemudian, dosen juga diminta tetap mengadakan pembelajaran dan memantau kehadiran mahasiswa saat melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). (14/10/2020/news.detik.com)

Bahkan, ada kebijakan kepolisian yang akan mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi anti-UU Cipta Kerja, yang kini menuai kritik dari sejumlah pihak.

Kepolisian mengklaim kebijakan itu akan ditempuh untuk memberikan “efek jera” kepada para pelajar tersebut, namun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan para pelajar.

Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) biasanya menjadi semacam prasyarat untuk digunakan ketika anggota masyarakat melamar pekerjaan.(15/10/2020/BBCNewsIndonesia).

Memaknai hakikat merdeka belajar dalam kubangan rezim kapitalisme disini ternyata tidak lepas dari upaya untuk mengeksplore potensi generasi dalam koridor memuluskan kepentingan kapitalisme itu sendiri. Dimana telah tampak tatkala generasi menentang kebijakan dari sistem kapitalisme dan menuntut adanya perubahan hakiki ternyata justru diberangus atau dimandulkan. Yang pada dasarnya, generasi muda memiliki potensi yang lebih dan semestinya diarahkan untuk mewujudkan terhadap perubahan yang hakiki.

Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang mengarah pada fitrah dari penciptaan itu sendiri. Yang mana
manusia ada di dunia ini bukan terjadi dengan sendirinya. Mereka ada karena ada yang menciptakan mereka. Dialah Allah Swt.
Semestinya pula mudah bagi manusia melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. Pasalnya, untuk tujuan itu Allah Swt menciptakan mereka. Sebagaimana Allah Swt berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan agar mereka beribadah kepada-Ku” (TQS. Adz-Zariyat: 56).

Makna ibadah secara khusus yakni setelah berucap syahadat, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji bila mampu. Dan makna ibadah secara umum yakni melaksanakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Sementara, perintah dan larangan Allah Swt yang mencakup seluruh aspek kehidupan harus diambilnya secara keseluruhan sebagai konsekwensi dari keimanannya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”(TQS. Al-Baqarah (2) : 208).

Dengan demikian, potensi generasi muda muslim seharusnya diarahkan untuk mewujudkan penerapan sistem Islam secara keseluruhan/kaffah karena sebagai konsekwensi dari keimanannya. Yang mana dibutuhkan adanya sebuah sistem yang dapat menaungi penerapan Islam secara kaffah dalam rangka untuk mengabdi kepada sang pencipta (Al-kholiq) dan sang pengatur (Al-mudhabir). Dengan begitu akan memberi dampak yang positif atau manfaat bagi kehidupan umat manusia semuanya. Wallahu’alam bi-ashowab.