Oleh : Khairunnisa
Pegiat Dakwah Alfathline

Ditengah kondisi wabah yang tak kunjung usai ancaman ketersedian pangan mengahantui beberapa negara. Sebelumnya FAO telah menghimbau negara-negara di dunia untuk mempersiapkan kondisi menghadapi ancaman krisis pangan pada saat dan pascawabah Covid-19 ini (liputan6.com).

Bahkan menurut WEF negara-negara Eropa sudah mulai mengalami gangguan pasokan pangan, karena sejumlah negara produsen pangan mengalami wabah yang parah (liputan6.com).

Di Negara Indonesia sendiri, kesulitan pangan dan ketersedian pangan masih diambang kekhawatiran (katadata.co.id). Penyebab utama adalah pada data stok pangan yang seringkali data yang dimiliki pemerintah tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Akibatnya stok yang dibutuhkan dilapangan tidak teratasi dengan baik.

Kejadian seperti ini tidak hanya sekali terjadi, ketika pemerintah menyatakan stok pangan mencukupi, namun kelangkaan barang terjadi dan berakibat melambungnya harga.

Ditambah pula sejumlah komoditas masih tergantung pada impor seperti beras, gula, dan daging, dsb. Saat ini barang-barang tersebut menjadi mahal.

Saat khilafah Islamiyah pada masa Umar bin Khattab diterpa krisis pangan diakibatkan masa paceklik selama 3 tahun,

Umar mengumpulkan sahabat-sahabatnya di rumahnya, seraya berkata, “Apa yang Anda harapkan untuk menyelesaikan krisis ini!”

Salah seorang mereka berkata, “Aku mengharapkan seandainya kampung ini (Madinah) dipenuhi dengan emas, lalu aku infakkan semua di jalan Allah.” Umar mengulangi ucapannya, “Silakan yang lain!’’

Sahabat lain berkata, “Aku mengharapkan seandainya kampung ini penuh dengan permata dan intan yang bisa aku sedekahkan semuanya di jalan Allah.” Umar mengulangi sekali lagi permohonananya, tapi para sahabat serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukiminin, kami belum menangkap apa yang kauinginkan?’’

Beliau menjawab, “Kalau menyelesaikan sebuah krisis, aku mengharapkan sumber daya manusia (SDM) unggulan, seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Salim budak Abu Hudzaifah, yang semuanya bisa membantuku berjuang dalam menegakkan perintah Allah swt.’’

Tidak hanya memerlukan SDM dalam penanganan krisis pangan. Khalifah Umar bin Khatthab ketika menghadapi krisis beliau juga telah membangun pos-pos penyedia pangan di berbagai tempat, bahkan beliau mengantarkan sendiri makanan ke setiap rumah.

Khalifah Umar bin Khattab merupakan sosok teladan pemimpin yang dalam persoalannya selalu berlandaskan takwa.

Beliau dan para gubernur atau pemangku jabatan tidak pernah memikirkan untuk memerintah saja tapi beliau dan para jajaranya (istilah) tak luput ikut berkontribusi membagikan makanan.

Khalifah Umar bin Khattab tidak akan mampu mengatasi krisis dengan cepat, tanpa adanya sinergis peran negara memfasilitasi para petani untuk menyediakan pangan sendiri dan tersedianya stok pangan di Baitul Mal. Bukan tersedianya pangan dengan impor. Wallahu a’lam bushawab.