Oleh : Widia Sucitra

Untuk kesekian kalinya umat Islam Indonesia jadi korban kerakusan para kapital. Baru-baru ini dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Wakil Presiden pada tanggal 15 Oktober 2020 yang lalu, bahwasanya “Indonesia bercita-cita menjadi negara penghasil produk halal terbesar di dunia.” Yaitu dengan melakukan penguatan terhadap industri-industri kecil atau usaha mikro dan kecil (UMK) yang bergerak dalam pembuatan produk-produk halal dan layanan sertifikasi halal akan dilakukan secara satu atap atau one stop service.

Dengan itu Undang-Undang (UU) Cipta Kerja atau Omnibus Law telah mengubah sistem penerbitan sertifikasi halal. Jika sebelumnya sertifikasi halal hanya dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), kini UU Ciptaker memberi alternatif sertifikasi halal dapat diberikan ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Aminudin dalam dialog kepada PRO-3 RRI, Rabu (14/10/2020) Menyatakan “Bagaimana BPJH mengeluarkan sertifikat halal, kalau itu bukan fatwa. Ini bisa melanggar syariat, karena tidak tau seluk beluk sertifikasi”

Inilah bukti kebobrokan pemikiran kapitalis yang serampangan dalam menentukan kebijakan, membuat aturan hanya untuk kepentingan sendiri dan mengorbankan rakyat dengan menyelewengkan standar halal. Ingin menyelesaikan suatu permasalahan dengan mengandalkan akal manusia yang lemah juga hawa nafsu yang rakus hanya untuk menuruti kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Sehingga yang terjadi bukan malah menyelesaikan masalah, tetapi menambah masalah yang semakin rumit dan tak ada ujung.

Tidakkah kita menyadari belum satu abadpun kita melalui hidup tanpa syariat Islam, saat ini kita hidup dengan aturan manusia yang lemah dan terbatas, seluruh umat mengalami kesengsaraan yang tanpa henti.

Maka satu-satunya solusi hakiki yang mampu menyelesaikan masalah, juga menyejahterakan seluruh umat tanpa keuntungan sebelah pihak yaitu dengan penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan , sebuah aturan yang datang dari Sang Maha Pencipta manusia Allah SWT.

Dan tidak diragukan lagi sudah sejatah telah membuktikan hingga 13 abad lamanya menaungi 2/3 umat di dunia. Yang ketika itu pemimpin shalih meriayah umat dengan adil, sehingga terciptanya kesejahteraan, tak perlu khawatir adanya makanan haram berceceran, semua makanan terjamin halal thoyyiban . Sehingga terciptanya Ruhiyah yang kokoh, dikarenakan tak ada makanan haram yang masuk dalam tubuh yang menjadikan tertolak amalan kebaikan. Dan tentunya melahirkan generasi-generasi yang cerdas, dan unggul dalam segala aspek.
Sungguh kita harus kembali pada syariat Islam agar tegak kembali untuk menjadi Islam Rahmatan Lil Alamin.