oleh : Zai (aktivis mahasiswi)

“Pendidikan Indonesia semakin lama semakin ambyar saja” begitulah omelan masyarakat selama kurang lebih 8 bulan sejak penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Bahkan semakin kesini, permasalahan didalam dunia pendidikan semakin pelik yakni sampai memakan korban. “Kebacut” istilah Jawa jika kebijakan PJJ ini tidak dikritik. Sebagaimana kita ketahui bersama pendidikan adalah hal utama yang menjadi pilar pembangunan bangsa. Jika situasi ini dibiarkan seperti ini saja. Maka bisa jadi tamatlah riwayat pendidikan bangsa Indonesia.

Sudah selayaknya evaluasi dari pelaksanaan PJJ selama ini mendapat rapor merah. Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI) Retno Listyarti mengungkapkan alasan mengapa pihaknya memberikan nilai 55 untuk kebijakan pembelajaran jarak jauh ( PJJ) yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Mukarim. Penilaian tersebut dikeluarkan dalam rangka menyoroti kinerja Nadiem Makarim dalam setahun menjadi Mendikbud sejak dilantik 23 Oktober 2019 lalu.

Diantara alasan pemberian rapor merah itu yakni PJJ yang tidak didukung dengan data yang komprehensif dan didasarkan pada kondisi daerah yang berbeda-beda dan PJJ yang baru-baru ini telah memakan korban jiwa. Antara lain, siswa SD yang dianiaya orangtuanya karena diduga sulit diajari saat PJJ daring dan siswi SMA di Gowa yang bunuh diri juga karena diduga depresi dengan tugas-tugas sekolah. Selain itu tidak pernah ada pemetaan masalah PJJ yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) secara berjenjang dengan menggunakan data terpilah. Apalagi setiap daerah bisa mempunyai problem yang berbeda. Salah satunya soal jaringan yang sulit sehingga menyebabkan sekitar 30 persen anak saja yang terlayani daring. Dengan demikian, bantuan kuota internet pun menjadi tak berguna. (25/10/20 Kompas.com)

Permasalahan pendidikan saat ini memanglah tidak bisa diselesaikan secara parsial-parsial saja. Sebab permasalahan ini adalah permasalahan sistemik. Dimana dibutuhkan suatu sistem pengaturan secara keseluruhan. Dimulai dari penyelesaian masalah ekonomi, kesehatan, SDM, SDA dll. Jika pada ekonomi dan kesehatan saja masih bermasalah, maka pendidikan pun akan terpengaruh. Inilah fakta sistem kehidupan kapitalisme dengan asas sekulerisme atau memisahkan agama dari kehidupan. Permasalahan-permasalahan tak henti ujungnya. Karena memang sistem ini buatan manusia. Yang sangat lemah akalnya sehingga kita membutuhkan pengaturan sang pencipta Allah SWT.

Allah SWT memberikan aturan yakni dalam Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dari bangun tidur hingga bangun negara. Maka solusi sesungguhnya untuk permasalahan pendidikan yakni menerapkan sistem kehidupan Islam dibawah institusi Khilafah. Sepanjang sejarah, khilafah sudah terbukti mampu mencapai kegemilangan peradaban. Bahkan pendidikan dalam sistem khilafah dahulu memiliki keterkaitan kuat dengan kemajuan teknologi saat ini. Hal ini adalah salah satu alasan mengapa pendidikan dalam sistem Islam layak kita terapkan.