Oleh: Ummu Ahtar (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Setelah disahkan DPR, Omnibus law UU Cipta Kerja menuai banyak kritikan. Tak sedikit para pakar maupun aktivis mengkritik kebijakan yang serba asal-asalan ini. Paling tersorot adalah unjuk rasa mahasiswa disemua daerah. Dan sebagian anak dibawah umur ikut serta dalam unjuk rasa itu. Jiwa muda meronta atas ketidak adilan rezim sehingga unjuk rasa terjadi dimana saja. Sayang , jiwa kritis para pemuda-mudi ini ditekan oleh beberapa kebijakan. Yang mana seolah para pemuda-mudi ini lebih baik diam dan belajar daring di rumah saja. Sungguh, apakah akan terulang lagi dimasa reformasi 1998 ?

Seperti dilansir news.detik.com, (10-10-2020) – Mahasiswa dari berbagai kampus melakukan unjuk rasa tolak omnibus law UU Cipta Kerja. Sayangnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menolak hingga mengeluarkan surat edaran Nomor 1035/E/KM/2020 perihal ‘Imbauan Pembelajaran secara Daring dan Sosialisasi UU Cipta Kerja’ dan melarang mahasiswa ikut demonstrasi.

Tak hanya itu saja, muncul kebijakan lain juga. Seperti dilansir dalam bbc.com, (15-10-2020) – Kebijakan Kepolisian akan mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi anti-UU Cipta Kerja. Tujuannya memberikan efek jera kepada para pelajar tersebut.

Namun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan para pelajar. Karena Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kebanyakan menjadi persyaratan untuk melamar pekerjaan. Sehingga pencari kerja kesulitan bekerja di sektor formal yang mana mensyaratkan calon pekerjanya bersih dari catatan kriminal. Lalu layakkah jika kritikan ini tak ditanggapi secara postif oleh rezim?

Indonesia adalah negara berdasarkan Demokrasi Pancasila yaitu berhak mengapresiakan pendapatnya. Menjunjung tinggi suara terbanyak dan kedaulatan tinggi ditangan rakyat. Kenyataannya, saat ini hanya omong kosong belaka. Seakan suara terbanyak hanya didominasi kaum Kapitalis. Dan kedaulatan tertinggi ditangan Kapitalis. Sehingga kebenaran hanya kabar angin saja, bahkan diberantas sampai dalam. Sungguh bangsa ini hanya setelan para Kapitalis kakap yang haus akan kekayaan melimpah ibu pertiwi.

Sebuah fitrah bila naluri manusia menolak kebatilan. Apalagi naluri tersebut terdorong dengan pemikiran yang dibuktikan dengan fakta dan dalil. Sebut saja naluri manusia salah satunya adalah gharizatu taddayun, yaitu naluri manusia yang membutuhkan petunjuk agama. Pemenuhan naluri ini dengan mencari dan mempelajari ilmu agama. Karena petunjuk itu hanya dapat diraih dengan membuka tabir ilmu. Semakin manusia memahami hakikat ilmu dan dikaitkan dengan hakikat keberadaan dirinya hidup di dunia, akal akan mampu menyimpulkan tujuan hidup sebenarnya.

Agama sebagai aturan kehidupan yang menjadikan makhluk tunduk pada aturan Sang Khaliq. Naluri alami kebutuhan akan agama tidak bisa dihindari. Selagi akal manusia masih normal, mereka tidak bisa menolak kebenaran Allah SWT
dan aturan-Nya dalam kehidupan.

Negara wajib menjaga fitrah akal dari kebodohan dan kesesatan. Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya hanyut dalam kebodohan dan kesesatan. Namun sebaliknya, di negeri ini malah negara yang menekan rakyat mengungkapkan kebenaran dan memerangi kebatilan.

Lalu sudah pasti dijawab bahwa negeri ini menganut sistem batil. Yaitu sistem abu-abu yang mengarah pada Sosialisme ataupun Kapitalisme yang hanya berdasar hawa nafsu manusia. Sehingga menyalahi fitrah akal yang akan menjauhkan petunjuk dan berkah dari Allah SWT.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa yang membentuk unsur pergerakan dan dinamisasi. Dia mempunyai kekuatan yang produktif yang bisa berkontribusi secara terus menerus. Suatu umat tidak akan runtuh kecuali ada di pundak para pemuda yang cerdas dan semangatnya didasari ruh.

Namun, musuh-musuh Islam telah mengetahui kebangkitan para pemuda. Maka mereka secepat mungkin membuat rintangan atau merubah cara pandang hidup para pemuda. Baik dengan memisahkan dari agama atau menjauhkan dari kedekatan mereka diantara ulama dan masyarakat. Mengkaburkan image Islam atau membuat profokasi buruk mengenai itu.

Kita semua mengetahui bahwa pemuda Islam mempunyai peran yang sangat penting untuk mengubah negeri dari zona batil ini. Penting untuk menjaga fitrah dan bangkit memerangi kebatilan sebagai penjaga agama. Yaitu dengan mempelajari dan mengetahui ilmu agama islam.

“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah). Maka mengetahui, belajar dan mengajarkan ilmu agama adalah wajib bagi setiap muslim, tidak mungkin orang bodoh memahami agamanya. Membela agama juga butuh ilmu.

Berbicara akan hakikat dan tangung jawab pemuda islam dalam pengembangan masyarakat seakan tidak pernah usai. Artinya begitu banyak peran pemuda untuk mewujudkan dan berkontribusi dalam membangun masyarakat, bangsa, dan negara. Selain mencari ilmu seperti yag disebutkan diatas, kontribusi positif yang bisa pemuda berikan adalah dengan berdakwah mengajarkan ilmu Allah dan mengajarkan orang-orang untuk ikut mengajarkan agama Allah. Seperti dijelaskan dalam al Qur’an. Allah SWT. berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imroh 104).

Islam punya banyak pemuda kebanggan di masa itu. Semisal, Usamah bin Zaid. Ketika umurnya masih 18 tahun, Rasulullah mengangkatnya secara langsung sebagai komandan perang pasukan Islam untuk menyerbu wilayah Syam. Padahal masih banyak prajurit senior dan berpengalaman dari dirinya, seperti Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan sahabat Rasulullah lainnya. Hal itu sebagian kecil tauladan pemuda kita.

Menjadi pemuda adalah usia yang spesial untuk mengelola hidup meraih kebahagaian hakiki nantinya di akhirat. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW bersabdah: “Tujuh golongan yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya, Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ketaatan kepada Tuhannya..” (Muttafaq’alaihi).

Di zaman millenial ini , tentunya negara membutuhkan peran pemuda untuk mengubah sistem batil ini. Tentu saja dengan dakwah. Apalagi perang era pemikiran masih berlanjut untuk mengubah pola pikir yang tak sesuai dengan Islam. Yang mana sekarang di era digital yang dilancarkan melalui media. Oleh karena itu, di zaman modern saat ini butuh kekuatan dan ketajaman untuk menjadikan dan mengomunikasikan ide kreatif dan imajinatif.

Jika media dikuasai , saatnya semua umat bangkit. Menyuarakan aturan Islam kaffah. Tentunya saja aturan tersebut tidak akan terwujud dengan adanya Khilafah. Dengan tegaknya Khilafah, memberantas semua aspek batil. Dan terciptalah rahmatan lil alamin.

Wallahu’alam bish Shawwab