Oleh: Marvha Mirandha
(Aktivis Mahasiswi)

Omnibus Law nyatanya mampu meyedot perhatian berbagai pihak. Hal ini terbukti dengan banyaknya kalangan yang ikut turun ke jalan guna mendemo kebijakan ini. Tak terkecuali para pelajar. Jumlah massa aksi di sejumlah daerah angkanya bisa mencapai ribuan orang, terutama aksi di kota-kota besar yang memiliki banyak kampus dan sekolah. Sebab selain berasal dari kalangan buruh, aksi penolakan omnibus law UU Cipta Kerja juga banyak berasal dari mahasiswa, hingga pelajar.(Kompas.com)

Namun, ditengah kontribusi aspirasi mereka dengan ikut turun dijalan mereka terencam akan kesulitan untuk pembuatan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Kebijakan kepolisian yang akan mempersulit pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) kepada para pelajar yang terbukti melanggar hukum dalam demonstrasi anti-UU Cipta Kerja, dikritik sejumlah pihak. Kepolisian mengklaim kebijakan itu akan ditempuh untuk memberikan “efek jera” kepada para pelajar tersebut, namun Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai mekanisme itu justru mengancam masa depan para pelajar.(bbc.com)

Menyampaikan aspirasi memang menjadi hak bagi segala pihak. Begitu juga dengan aspirasi dari pelajar. Membuat pelajar yang turun demo terancam kesulitan mendapat SKCK, tak dapat dipungkiri akan menyulitkan masa depan pelajar. Hal ini sebagaimana kita ketahui bahwa banyak pekerjaan yabg menyaratkan adanya SKCK. Lalu apa yang harus dilakukan sebagai pelajar dan bagaimana mestinya riayyah negara akan pelajar?.

Negara berkewajiban penuh dalam mengembangkan potensi yang ada pada pelajar. Membuat mereka bebas belajar sekaligus bebas menyampaikan aspirasi dibatasi dengan syariat islam merupakan kewajiban yang harus dipenuhi negara. Potensi pelajar tidak hanya dikembangkan demi tercapainya banyak manfaat berupa materi. Dalam islam potensi pelajar dikembangkan sedemikian rupa dengan pembatasan syara’ guna menjadikan pelajar memiliki kemampuan yang nantinya akan berguna bagi ummat secara keseluruhan.

Pelajar merupakan pemuda yang senantiasa diharapkan menjadi tonggak perubahan kehidupan menjadi lebih baik. Maka tak heran sejak dizaman Rosulullah SAW pemuda selalu menjadi yang pertama dalam memusuhi kedzaliman dan berusaha menyuarakan cahaya kebenaran islam. Pemuda pemuda seperti ini pernah ada pada masa kegemilangan islam, seperti halnya Ali bin Abu Tholib, Mus’ab bin Umair, Al Arqam bin Abi Arqam, Saad bin Abi Waqqas dan masih banyak lainnya merupakan pemuda yang sangat berani menyuarakan kebenaran islam.

Jika saat ini muncul pemuda pemuda pemberani yang besar kepekaannya terhadap ummat, peduli dengan keberadaan dan kesejahteraan ummat, maka sudah seharusnya pemuda pemuda seperti ini harus diapresiasi serta ditunjukkan pada arah perjuangan yang hakiki, yakni perjuangan akan islam dan kemuliaannya. Mengapa demikian?, karna ketika islam mampu diterapkan dalam segala aspek kehidupan keridhoan Allah akan tercurah limpah, dan kebaikan kebaikan akan datang dari langit dan bumi. Kebijakan yang didasarkan pada syariat islam nyatanya telah terbukti kurang lebih hampir seribu tiga ratus tahun dapat membawa dan menjamin kesejahteraan bagi ummat. Maka ketika hukum islam kembali diterapkan kebaikan kebaikan akan kembali dalam kehidupan. Arahkan pemuda pada perjuangan yang hakiki. Wallahu’alam bis showwab