Oleh: Maman El Hakiem

Air mata itu tidak selamanya menandakan lemahnya jiwa atau cengeng. Karena ada air mata yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu air mata yang dirindukan surga, air mata taubat. Taubat bukan semata karena telah berbuat dosa, melainkan karena hati lalai dalam mengingat Allah SWT.

Detik-detik waktu perjalanan hidup manusia adalah detak jantung yang tiada henti, meskipun tubuh manusia tertidur. Aku masih saja setia disamping Fikri yang lemah kondisinya. Aku mencoba meraba tangannya,”Fik, andai ada keajaiban, dzikir lisan ini mohon tersampaikan pada aliran darahnya.” Gumamku, detak nadi tangan Fikri masih terasa.

“Subhanallah…Alhamdulillah….Laillaha ilaAllah….Allahu Akbar.” Dzikir agar hati tidak lalai dan menguatkan diri dalam menghadapi segala kesulitan hidup.

Beberapa saat kemudian, mata Fikri mulai membuka, sepertinya tampak siuman. “Fik, masya Allah..bangun ya..ini aku!” Bisikku. “Tadz…dimana ini?’ Tanyanya dengan nada pelan.

“Alhamdulillah…masya Allah Fik, kamu masih di tanah suci,kita akan sama-sama thawaf lagi ya?” Ucapku dengan hati yang bahagia karena Fikri sudah sadarkan diri.

“Iya Fik, kita masih di tanah suci, besok kita akan berkunjung ke rumah tempat kelahiran Rasulullah saw. Mau ikut kan?” Ajak Ustadz Hanan yang baru masuk ruangan. “Kamu juga akan bertemu, seseorang yang akan melengkapi separuh agamamu.” Lanjutnya.

‘Apa sih tadz, maksudnya?’ Tanya Fikri dengan memberi isyarat kepadaku.

‘Ah kura-kura dalam perahu. Itu loh…menjemput bidadari surgamu.” Jawabku mencandainya.

Fikri tersenyum. Rasanya bahagia bisa melihat senyumnya lagi. “Fik, mau gak dipertemukan dengannya sekarang?” Tanyaku sedikit mencubit tangannya.

“Mana tadz?’ Jawabnya. “Menunggu ya?” Aku sengaja mencandainya.

Seorang ibu masuk ruangan. “Loh kok ibu-ibu, gak salah ini tadz?” Tanya Fikri heran.

‘Hehe….ya jelas salah, itu ibunya….yang akan jadi bidadari puteri kesayangannya yang masih menunggu di balik pintu. Benar kan bu?’ Tanyaku pada ibu yang berdiri disamping Ustadz Hanan.

“Iya Fik, anak ibu bernama Kirani yang akan menjadi sahabat hijrahmu dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kirani…masuk Nak!” Ibu itu memanggil anaknya, Kirani.

Semua lelaki di ruangan rumah sakit itu seketika terkesima oleh paras Kirani. Wanita berjilbab hitam itu, mendekati ibunya dengan tertunduk, karena kemolekan wanita hanya boleh dilihat wajahnya saja, itupun sekejap sekedar isyarat bahwa ia bersedia dilamar.

“Gimana Fik, jadi nih traktir nasi kebuli?” Fikri hanya bisa tersenyum, hatinya penuh rasa bahagia karena Allah SWT telah mempertemukan dia dengan orang-orang yang memberinya semangat untuk istiqomah di jalan-Nya. Wallahu’alam bish Shawwab.***