Oleh : Anisa
(Pelajar SMKN 3 Banjarmasin)

Tragedi kedzaliman berlangsung dimana-mana.
Yang kuat menindas yang lemah.
Yang lemah menjerit tiada daya.
Disana-sini rawan, akibat ulah kaum bangsawan.
Rakyat kecil dipermainkan, oleh muliawan-muliawan gadungan.
Ratap, tangis, jerit, pilu, adalah melodi tirani yang menyayat tiada berpri kemanusiaan.
Dunia merintih, bumi bergetar lirih.
Tapi kemunafikkan tetap tegak di muka bumi.

12 Rabiul Awal sampai di tahun itu.
Adalah titik tolak Hijratul umat generasi baru.
Ditengah kemelut duniawi.
Ditengah kebobrokan mental manusiawi.
Lahirlah manusia suci.
Cikal bakal pemimpin atas bumi.

Api abadi di kota Parsi Padam seketika.
Berhala-berhala dalam Ka’bah runtuh tiba-tiba.
Kabut hitam nan pekat atas tanah Arab, sirna.
Berganti cahaya nan kemilau.
Seluruh makhluk berseri menyambut kehadiran-Nya.
Dia adalah Muhammad Rasulullah.
Rasul terakhir seluruh umat.
Figur manusia sepanjang masa.

Ya Rasulullah, betapa derita datang silih berganti.
Engkau lahir ke dunia, tak sempat jumpa ayah tercinta.
Saat Kau damba belai kasih ibunda, ia pun pergi untuk selamanya.
Kembali kehadirat Allah, Maha Segala.
Tinggallah kakek tempat-Mu bergantung.
Ia pun wafat saat Engkau butuh tempat berlindung.

Oh, sungguh pahit masa kecil-Mu ya Rasulullah.
Namun, tak terdengar ratap dan tangis lewat bibir-Mu.
Engkau tetap berdiri kokoh dengan kebesaran jiwa-Mu.

Andai engkau masih disini ya Rasulullah.
Dan engkau bertanya bagaimana kondisi umat mu.
Rasanya tak mampu bibir ini mengucapkan.
Malu, takut, sedih, untuk membicarakan kepada mu Ya Baginda.

Tapi aku dan para pemuda yang berdiri tegak disini bertekad.
Kan kami teruskan perjuangan-Mu Ya Baginda.
Kan kami amalkan citra Islam Agama peninggalan-Mu.
Kan kami ajarkan seluruh ajaran-Mu.
Hingga tercipta, umat yang penuh kasih antar sesama.
Umat yang cinta persaudaraan.
Umat yang bersatu dalam membangun agama, bangsa dan negara.