Oleh : Suci Hardiana Idrus

Dengan dalih kebebasan berekspresi, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengizinkan majalah Charlie Hebdo menerbitkan gambar karikatur yang sarat penghinaan terhadap Nabi besar umat Islam, Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Hal ini pun otomatis memicu sikap kecaman dari banyak negara terutama negara-negara muslim di dunia seperti Turki, Sudan, Palestina, termasuk Indonesia dan lainnya.

Melansir dari Serambinews.com, pada 30 Oktober 2020, Presiden Prancis Emmanuel Macron tetap teguh membela kebebasan berekspresi meskipun ada reaksi keras, termasuk boikot produk Prancis di beberapa negara Muslim.
“Kami tidak akan pernah menyerah,” tweeted Macron pada Minggu (25/10/220).

Dia tetap mendukung hak Charlie Hebdo menerbitkan kartun Nabi Muhammad, walau menyebabkan pelanggaran.
“Kami menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian,” kata Macron.

Dampak atas pernyataannya, sejumlah negara telah melakukan aksi pemboikotan terhadap produk-produk asal Prancis seperti Timur Tengah. Setidaknya kurang lebih ada 37 produk Prancis yang berpotensi akan ramai-ramai diboikot oleh negara ataupun masyarakat di seluruh dunia.

Penghinaan dan pelecehan terhadap Islam tidak terjadi sekali dua kali, Islam senantiasa tersudutkan meski Islam itu sendiri yang mendapatkan pelecehan. Orang-orang yang tak suka dengan Islam tidak henti-hentinya menghujat Islam, bahkan tidak tanggung-tanggung menghina Islam dengan terang-terangan, blak-blakkan tanpa memikirkan apakah mereka yang beragama Islam tersakiti atau tidak. Bahkan penistaan itu berlindung dibalik Undang-undang dengan dalih kebebasan berekspresi. Namun tatkala umat kritis menyuarakan ajaran Islam, segala macam Undang-undang sudah disiapkan sebagai alat bungkam. Penangkapan para tokoh ulama dan aktivis diseret ke penjara. Jangankan bicara syariah Islam, simbol-simbol Islam pun dikriminalisasi bahkan dimusuhi. Ar-Raya dan al-Liwa’ misalnya, yang merupakan bendera Rasulullah SAW sempat dilarang, disita dan dituding sebagai simbol terorisme.

Sistem Demokrasi yang melahirkan HAM dan aturan-aturan cacat lainnya hanya merusak tatanan kehidupan masyarakat. Demokrasi yang dikenal menjunjung tinggi nilai kebebasan nyatanya tak sepenuhnya memberikan kebebasan, tak semuanya dapat merasakan kebebasan, kecuali segelintir yang bisa membelinya dengan materi. Hukum yang dibuat tidak sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk kemaslahatan elit-elit pengusaha konglomerat. Meminggirkan urusan rakyat sangat niscaya terjadi dalam sistem Demokrasi-Kapitalisme. Semua bisa diatur dengan materi. Jumlah nominal menjadi penentu kebijakan.

Dari ragam peristiwa yang dialami umat Islam di dunia, seolah ingin menyadarkan kita semua bahwa sistem yang rusak dan bathil tentu tidak layak untuk diterapkan ditengah-tengah masyarakat dan negara. Negara atau masyarakat yang lemah akan hancur dan tunduk di tangan-tangan penguasa tiran dan para kapitalis yang rakus. Islam, akan selamanya dinista oleh kaum-kaum penista. Bahkan Islam diperangi atas nama pemberantasan radikalisme-terorisme. Semudah itu!

Dalam konteks negara, salah satu peran penting pemerintah adalah bertindak sigap dalam melindungi agama dari segala bentuk penistaan. Banyaknya kasus penistaan agama membuktikan bahwa negara telah gagal melindungi agama. Padahal peran agama dalam sebuah negara amat sangat penting. Ibnu Taimiyyah menyatakan agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama.

Ibnu Taimiyah dalam bukunya As-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul (Pedang Terhunus untuk Penghujat Rasul), menjelaskan batasan tindakan orang yang menghujat Nabi Muhammad
“Kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabatnya, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan.”
(Lihat Ibnu Taimiyyah, as-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul, I/563).

Maka, dari Ibnu Taimiyyah, pernyataan Presiden Prancis termasuk tindakan menghujat Nabi. Bagi umat muslim, menghina atau menghujat Nabi hukumnya haram. Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati.

Ada seorang wanita Yahudi yang menghina Nabi, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun, Nabi menggugurkan hukuman apa pun darinya [sahabat itu].”
(HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Hadits di atas jelas menyampaikan pada kita bahwa penghina Rasul hukumannya adalah mati. Begitu pun yang pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad.

Untuk menghentikan tindakan penistaan terhadap Islam, tidak hanya berhenti pada kecaman atau pemboikotan. Namun kita perlu ikut memboikot segala sistem yang diterapkannya atas negara saat ini. Sistem Demokrasi terbukti gagal dan menciptakan banyak masalah yang tak terselesaikan secara tuntas dalam menata kehidupan masyarakat. Sebab ia lahir dari pikiran manusia yang terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Sedangkan sistem Islam yang diturunkan oleh Allah menjamin manusia hidup dalam naungan keadilan dan keberkahan tatkala syariat diimplementasikan ke dalam institusi negara yang bernama Khilafah. Khilafah tidak akan membiarkan penista tumbuh subur. Kebebasan dalam Islam tentu berbeda dengan paham kebebasan dalam sistem kapitalisme. Khilafah akan menerapkan sanksi sesuai petunjuk Al-Qur’an, bukan sesuatu kemauan manusia yang penuh hawa nafsu.

Ketiadaan khilafah sampai hari ini telah membuat kondisi umat semakin terpuruk. Masalah demi masalah terus dihadapi umat akibat tidak adanya pemimpin yang amanah dalam menjaga harta maupun memelihara kehormatan agama. Kepemimpinan yang amanah hanyalah kepemimpinan yang didasarkan pada syariah Islam. Dengan kata lain, pemimpin yang amanah hanyalah pemimpin yang benar-benar menerapkan dan menjalankan syariah Islam secara kaffah dalam mengurus semua urusan rakyatnya. Termasuk urusan penistaan terhadap suatu agama. Tanpa syariah Islam, mustahil para penguasa dan para pemimpin bisa amanah dalam mengurus rakyat.

Wallahu’alam..