Dalam momentum Maulid Nabi 1442 H, hari ini (29/10) telah di adakan acara Maulid Akbar online terbesar seluruh Indonesia dengan tema Cinta Nabi, Tegakkan Syariah, Wujudkan Keadilan, Lenyapkan Kezaliman.

Acara yang diselenggarakan via zoom dan live streaming di tv.maxbuzz.com ini diikuti oleh para tokoh masyarakat, ustadz, ustadzah dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia Maulid Akbar menyatakan peserta yang terdaftar dalam acara ini tak kurang dari 70 ribu orang.

Dalam pembukaannya KH Rokhmat S Labib menyampaikan bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Taala harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. “Artinya, barang siapa yang mengaku cinta Allah SWT tetapi tidak mengikuti Rasulullah SAW maka cintanya palsu!” tegas beliau.

Ustaz Labib, begitu sapaan akrabnya, pun mengutip firman Allah Subhanahu wa Taala dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 31, yang artinya, “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.”

Beliaupun menjelaskan tema acara, “Cinta Nabi, Tegakkan Syariah”. Menurutnya, itu adalah wujud dari cinta kepada Rasulullah, tentu syariah yang diambil tidak pilih-pilih sekehendak hati seperti prasmanan tetapi harus diambil secara keseluruhan. Tidak hanya syariah dalam mengatur individu tetapi juga dalam perkara bernegara karena Rasulullah tak hanya memberi teladan sebagai individu, berkeluarga, dan bersosial semata. Namun, beliau juga mengajarkan berpolitik dan bernegara sesuai tuntunan Islam.

Dalam kesempatan yang sama, Ustadz Ismail Yusanto juga menjelaskan bahwa di dalam sistem demokrasi saat ini tampak jelas bahwa hukum hanya tajam kebawah dan tumpul keatas, dan wakil rakyat yang semestinya bekerja sebagai pelayan rakyat malah membuat kebijakan yang sangat merugikan rakyat. Begitupun kapitalisme, sistem ini selalu menciptakan kesenjangan, tidak seperti Islam yang penuh dengan keadilan dan keberkahan. Kapitalisme masih berdiri saat ini karena ada negara yang menopangnya. Saat ini umat Islam tidak diperbolehkan memiliki negara Islam padahal negara komunis dan kapitalis tidak dilarang. Dan yang lebih miris apabila yang menolak negara Islam itu adalah dari umat Islam sendiri.

Dr. Ihsanuddin Noorsy, BSC, SH, MSI (Pengamat Politik dan Ekonomi), Prof. Dr. Suteki, S.H.,M.HUM (Guru Besar Ilmu Hukum), KH. Thoha Cholili (Pengasuh Ponpes Al Muntaha Al Kholiliyah, Madura), dan Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.SI (Wakil Sekjen MUI pusat) turut mengisi dalam sisi Talkshow acara ini.

Dr. Ihsanuddin Noorsy sangat heran kenapa para penguasa muslim saat ini tidak merujuk pada kepemimpinan nabi? adahal Michael H.Hart pengarang buku 100 orang yang paling berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam diperingkat satu dalam bukunya. Kalau saat ini ada pemimpin muslim yang menolak bahkan malah menghalang-halangi dalam penerapan syariat seperti yang di dicontohkan oleh nabi maka hal ini sangat aneh sekali, kalau bukan nabi Muhammad sebagai panutan lalu siapa yang lebih baik dari beliau?

Gejolak yang terjadi di dunia saat ini membuat KH. Thoha Cholili merasa sangat prihatin dan sedih, dimana saat momentum maulid nabi malah ada negara yang menistakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penghinaan yg dilakukan perancis ini membuat seluruh muslim di seluruh dunia geram dan marah karena umat Islam tidak rela nabi mereka dinistakan dan dihina begitu pula dengan ajaran Islam karena Islam adalah petunjuk, ideologi, pemikiran dan jalan hidup agar menjadi hamba Allah seutuhnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Umat Islam harus bersatu dan tidak termakan perpecahan yang didengungkan oleh kelompok lain.

Begitupun dengan Wakil Sekjen MUI pusat, Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.SI
MUI. Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah tegas dalam hal kezholiman. Cinta tidak sekedar cinta tapi mempraktekkan apa yang telah dicontohkan nabi dengan menegakkan syariat Islam sesuai dengan sila pertama yaitu ketuhanan yang maha esa serta menolak perilaku kedzoliman dan ketidakadilan sesuai sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kita harus mencintai nabi Muhammad lebih dari yang lain karena nabi sangat mencintai kita, buktinya beliau meminta agar bisa memberi syafaat kepada umatnya di hari kiamat kelak. “Maka kita bisa membuktikan rasa cinta kita dengan cara ikut memperjuangkan menegakkan syariah, tanpa nanti, tanpa tapi” pungkas prof. Suteki.

Oleh Evi Sulistiani
(Karyawan Swasta)