Oleh : Mak Ayu

Pakaian kesombongan hanya milik Allah. Ketika sebagian orang sering merasa paling benar dengan perbuatan yang dilakukannya, merasa sudah benar dan lebih baik dari orang lain, maka dalam hatinya sudah terselip sifat-sifat sombong. Hal ini berbahaya jika tidak segera disadarinya. Perlahan akan membentuk rasa hasad dalam dirinya tanpa tersadari.

Bahwa di atas langit masih ada langit. Merasalah kecil karena pasti akan selalu ada orang yang lebih diatas kita. Karena fitrah manusia serba kurang dan terbatas. Kesempurnaan itu hanya milik Allah semata.

Sifat merasa paling benar itu bisa membuat kita meremehkan perbuatan orang lain yang dilihatnya tidak ngumumi (berbeda) di tengah bermasyarakat. Padahal kita tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi dan tujuan dia melakukannya. Karena itu bagian amaliyah individu.

Sebagaimana sebuah kisah sosok mayat yang diabaikan. Kisah menakjubkan yang diabadikan Sultan Murad IV dalam buku hariannya. Saat itu, kegelisahan meliputi Sultan Turki Murad IV yang merasa tidak nyaman tinggal dalam Istananya, dia ingin keluar jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas semata ingin menemukan jawaban atas kegelisahannya.

Sultan Murad Ahmad atau Murad IV (1623-1640) adalah seorang Khalifah Turki Utsmani yang terkenal tegas memberantas korupsi dan segala kemungkaran. Ditemani pengawalnya, blio melakukan blusukan hingga sampai pada satu lorong sempit dan menemukan sesosok mayat laki-laki tergeletak di atas tanah.

Tapi Sultan Murad IV merasa ada yang aneh, karena melihat banyak orang lalu lalang, namun tak sedikitpun mempedulikannya, bahkan memandang hina lelaki tersebut. Kemudian Sultan memanggil mereka dan bertanya mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya. Salah seorang di antara orang-orang itu menjawab, “Orang ini zindiq, suka menenggak minuman keras dan berzina.

Maka diantarkannya mayat itu ke rumahnya dan tinggallah Sultan dan pengawalnya di rumah itu. Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya, “Semoga Allah merahmatimu wahai waliyullah (wali Allah). Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang saleh.” Ucapan istrinya membuat Sultan Murad IV kaget. Bagaimana mungkin orang yang dicela dan hina banyak manusia sampai mereka enggan untuk mengurusnya, termasuk wali Allah?

Sang istri menjawab: “Sudah kuduga pasti akan begini,” katanya. “Setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras (khamar), dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawanya ke rumah lalu ditumpahkannya ke dalam toilet, sambil berkata: “Aku telah meringankan dosa kaum muslimin”.
“Dia juga selalu pergi menemui para pelacur, memberi mereka uang dan berkata: “Malam ini kalian sudah dalam bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”
Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku, “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensalatimu dan menguburkan jenazahmu.” Tapi ia hanya tertawa dan berkata, “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disalati oleh Sultannya kaum muslimin, para ulama dan para wali.”
Kegelisahan Sultan Murad IV terjawab disitu. Karena prasangka manusia itu tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Kemudian sultan Murad IV mengurus sendiri jenazah wali yang di sangka manusia orang yang suka bermaksiat pada Allah.

Dari sini kita bisa mengambil nasehat bahwa manusia tidak boleh memandang diri telah baik dan mencela yang lainnya, karena manusia tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf : 76 “Dan disetiap orang yang berpengetahuan itu ada yang lebih mengetahui”. Wallahu’alam bishawab