Oleh: Maman El Hakiem

Lemahnya pemahaman dan salahnya penerapan Islam telah menjadi sebab keruntuhan khilafah Islamiyah, setelah seribu tiga ratus tahun lebih bertahan dan menguasai dunia. Hal demikian dimanfaatkan oleh ahlu dzimah, negeri-negeri kafir yang semula terikat perjanjian dengan daulah Islam, melakukan upaya pemberontakan dan menyusupkan agen-agennya di tubuh daulah.

Melalui gerakan misionaris dan orientalis, mereka mencetak kader-kadernya di tubuh negeri kaum Muslim. Sebuah gerakan pemikiran yang meracuni pemahaman Islam yang benar. Racun tersebut tidak lain sekulerisme, yaitu faham yang menjadikan Islam berada pada sudut sempit, ritualitas ibadah semata.

Negara-negara barat yang telah melakukan gerakan revolusi sistem kekuasaan sebelumnya dari monarkhi menjadi demokrasi, berupaya merongrong sistem kekhilafahan dengan berbagai cara yang tidak terpuji. Tidak hanya menyusupkan antek-antek Yahudi, terapi juga menyebarkan faham nasionalisme dan patriotisme kebangsaan yang seakan menjadi solusi, padahal itulah pemecah belah persatuan. Negara kebangsaan (nation state) menjadi jualan antek Inggris, Mustafa Kamal Pasha dalam upaya meruntuhkan kekhilafahan Utsmaniyah, lalu dijadikan negara kecil kebangsaan bernama Turki.

Dia bagi negara sekutu penjajah dunia, Inggris, Perancis dan Amerika dijadikan pahlawan karena telah berhasil menumbangkan kekhilafahan Islam yang telah menguasai dunia kala itu. Fakta sejarah tersebut menjadi duka mendalam di hati kaum Muslim seluruh dunia. Ketiadaan sistem khilafah telah menjadi awal malapetaka segala bencana peradaban manusia di kemudian hari.

Kaum muslimin yang telah tercuci otaknya oleh faham demokrasi menjalar ke berbagai gerakan yang semula Islami menjadi sekuler, seperti pada gerakan Wahabi yang membuat Ibnu Saud memberontak dari khilafah dan mendirikan negara kerajaan yang kini dikenal dengan Saudi Arabia.

Begitupun pengaruh pemikiran sekulerisme di tanah air, berhasil menancapkan pengaruhnya melalui gerakan Boedi Oetomo, yang telah melahirkan Dwidjosewoyo yang menginisiasi pemerintah Hindia Belanda membentuk volksraad atau DPR-nya Belanda di tahun 1916. Itulah awal munculnya benih-benih faham sekulerisme yang menjadikan sistem pemerintahan di negeri ini, setelah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 mengadopsi sistem demokrasi dengan berbagai bentuknya.

Karena itu kebangkitan umat Islam tidak lain harus dimulai dari pemahaman tentang Islamnya yang harus kaffah. Cara pandang kehidupan dengan aturan Islam itulah kunci perubahan. Jika, kaum Muslimin dengan sistem khilafahnya pernah berjaya di masa lalu, tentu cara kembali bangkitnya harus dari perubahan pemikiran secara total. Karena itu upaya menyadarkan umat tentang pemikiran Islam yang utuh dan menyeluruh adalah dakwah yang harus konsisten dilakukan agar racun pemikiran demokrasi tidak lagi mematikan kehidupan kaum muslimin.
Wallahu”alam bish Shawwab.***