Oleh: Maman El Hakiem

Perintah Allah SWT: “Masuklah Islam secara kaffah!” (QS Al Baqarah: 208). Kaffah artinya keseluruhan, tidak setengah-setengah. Ibarat sebuah bangunan, Islam dibangun dengan dasar keimanan sebagai pondasinya. Disangga dengan lima tiang penyangga yang dinamakan rukun Islam, sehingga jika kelima rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, zakat, shaum dan ibadah haji telah terlaksana. Bangunan Islam baru selesai terbentuk, namun keindahannya belum terpancar memberikan rahmat bagi seluruh alam.

“Pokok segala perkara itu Islam dan tiang utamanya adalah shalat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Kedudukan shalat itu teramat penting, tiang induknya bangunan. Sehingga bangunan masih dianggap kokoh, jika tiang induknya masih terjaga. Inilah duduk permasalahan yang sering orang salah tafsir, jika ada pemimpin yang masih menegakkan shalat kita harus taat, tentu harus dilihat bangunan fisiknya, jika bukan bangunan Islam, sudah pasti bukan pemimpin yang dimaksud.

Bangunan yang dimaksud adalah sistem aturan kehidupan yang diterapkan dalam mengatur segala urusan agama dan dunia. Pilihannya ada dua, bangunan dengan sistem Islam atau sistem sekuler (bukan Islam). Jika aturan yang digunakannya Islam, maka dinamakan bangunan Islam, saat ada pemimpinnya yang zalim, tetapi masih shalat, maka masih wajib taat, namun tetap harus dikoreksi oleh rakyatnya. Namun, jika aturan yang dipakainya bukan aturan Islam, bangunan tersebut adalah bangunan sistem sekuler yang batil. Tidak wajib taat, justru rakyat wajib berupaya menyampaikan kebenaran Islam kepadanya.

Jika ada yang berpendapat, urusan Islam ini telah khatam saat seorang yang mengaku Muslim telah mampu menegakkan rukun Islam. Saat negara tidak mengganggu kebebasan beribadah, meskipun tidak diterapkan aturan Islam. Ini cara berpikir Islam yang masih setengah-setengah, belum kaffah. Karena perkara Islam itu tidak hanya menyangkut dimensi keshalihan indiviidual, melainkan juga keshalihan komunal dan global.

Mereka yang telah sempurna rukun Islamnya, tetap harus mendakwahkan Islam sebagai kewajiban yang utama. Karena Islam, sebagaimana agama pada umumnya tidak sekedar dipeluk, namun juga disebarkan. Kewajiban dakwah ini juga berlaku bagi negara, karena hakikat negara sesungguhnya terikat dengan syariat atau aturan hukum yang sama. Maka, dakwah yang diemban negara akan menjadikan Islam menyebar ke seluruh dunia. Cahaya kemuliaan Islam menjadi rahmat untuk seluruh alam.

Sepeninggalnya Rasulullah saw. tidak akan ada lagi nabi dan rasul,karenanya untuk menjaga agama harus ada khalifah atau pemimpin yang menerapkan aturan Islam. Itulah kekhilafahan yang berlangsung hingga runtuhnya khilafah Utsmaniyah di Turki 1924 M. Sampai saat ini, tidak ada negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Marwah Islam masih terhinakan oleh sistem sekuler dunia, sehingga Palestina saja tidak mampu dilindungi. Nabi dihinakan, tidak ada negara yang berani menghukumnya, hanya sekedar ucapan boikot produk yang dirinya saja sangat bergantung dan terikat dengan kerjasama asing.
Wallahu’alam bish Shawwab.***