Oleh : Ummu Hadiid

Wacana mengimpor tenaga kesehatan luar negeri muncul disaat Indonesia mengalami pandemi Covid-19, yang mana pada saat itu ratusan ribu jiwa menjadi korban keganasan virus Covid-19 ini, diantara korban itu ada lebih dari 100 dokter yang gugur.

Hal tersebut bukanlah sekedar wacana karena sebentar lagi akan terwujud, karena pemerintah sudah mengizinkannya. Mengutip pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan sejumlah rumah sakit (RS) asing akan masuk ke tanah air. Mereka berasal dari Australia hingga Singapura.Ia mengungkapkan, ada beberapa RS yang sudah diajak berinvestasi. Mereka antara lain Mayo Clinic, John Hopkins Medicine, dan Anderson Hospital. Keputusan ini di ambil karena menurut Pak Luhut Binsar Panjaitan,banyak masyarakat Indonesia yang menjadi wisatawan medis ke negara tetangga sekitar 600.000 orang, dan ini terbesar di dunia dibandingkan dengan Amerika yang hanya 500.000 orang ditahun yang sama. Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan medis kita sebesar US$ 3,000 – 10,000 per orang. (www.cnbcindonesia.com). Beliau juga mengungkapkan “Tetapi ada satu pengalaman yang saya dengar tentang seorang dokter mata bahwa banyak pasien yang biasa berobat ke Singapura sekarang berobat ke Indonesia karena mereka kurang nyaman dengan adanya karantina,” kata Luhut.

Dengan alasan itulah pemerintah akhirnya memuluskan rencana ini, karena menganggap ini sebuah peluang untuk menciptakan “trust” guna menumbuhkan rasa percaya wisatawan medis ke Indonesia. Hal ini juga diharapkan pula nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara -negara yang lebih sejahtera.

Hal ini tentunya bukan hanya peluang tetapi juga ancaman yang akan membahayakan rakyat Indonesia khususnya tenaga kesehatan, jika kepentingan menarik arus investasi kemudian diikuti dengan makin longgarnya persyaratan perizinan bagi tenaga kesehatan asing, dan kelonggaran ini berisiko mengancam eksistensi dan peluang Sumber Daya Manusia (SDM) kita. Jika pemerintah tidak mengimbangi dengan meningkatkan kompetensi dan keahlian SDM kita, inilah yang dikhawatirkan, rakyat akan tersingkirkan di negerinya sendiri.
Rakyat Indonesia tentunya juga harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas karena sudah dipastikan RS asing itu bertarif internasional, jelas hanya kalangan elit yang mampu membayar dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Lalu bagaimanakah dengan nasib rakyat jelata, bisakah pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat dirasakannya tanpa perlu banyak mengeluarkan biaya?.

Pada era kapitalis ini, dimana untung rugi sebagai patokanya. Tentunya akan sulit bagi rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas,murah, bahkan gratis, karena RS sekarang sudah di komersialkan tentu lebih memikirkan bagaimana mendapatkan

keuntungan yang diperoleh.

Lantas dimanakah peran pemerintah ?. Pemerintah secara tidak langsung telah mengalihkan tugas utama sebagai fasilitator dan pengayom rakyat, justru bertindak sebagWaalaikumsalam warahmatullahi wabarokatu baik ustadzah syafakillah ustadzah mudah mudahan lekas sehat lagi aamiin ya rabbal alamin ai regulator serta menyerahkan urusan dan tanggung jawabnya kepada korporasi bahkan asing. Mahalnya layanan kesehatan ini berbanding terbalik dengan layanan kesehatan di negara yang memakai sistem Islam. Dimana pemerintah yang akan menjamin layanan kesehatan rakyatnya dengan gratis dengan memanfaatkan baitul mal dan kekayaan alam yang di kelola dengan baik untuk kepentingan rakyatnya. Tanpa adanya campur tangan asing dan aseng.

Jaminan lain yang di berikan oleh pemerintah Islam adalah jaminan tempat tinggal bagi pasien yang tidak mempunyai tempat tinggal. Serta kebutuhan pokok lainya seperti sandang dan pangan,semua itu akan di berikan ketika pasien keluar dari RS karena tidak bisa mencari nafkah.

Semua jaminan dan pelayanan kesehatan terbaik ini di berikan secara umum kepada rakyatnya tanpa membedakan kelas, dan tanpa ada diskriminasi. Dengan pelayanan terbaik ini sudah pasti rakyat tidak akan mencari pengobatan keluar negri, karena mereka sudah mendapatkan semua fasilitas dan pelayanan terbaik di dalam negeri.

Negara juga tidak akan memberikan kesempatan kepada swasta asing untuk masuk ke sektor kesehatan, karena itu akan menjadi ancaman kedaulatan negara. Saatnya kita semua sadar, bahwa kita butuh penguasa yang benar-benar mengayomi rakyat dengan menggunakan sistem Islam dalam kehidupan individu maupun bernegara.

Wallahua’alam***