Oleh: Rina Andyta Deviningrum, SE (Semarang, Jawa Tengah)

Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia, namun faktanya juga menjadi penyumbang suara terbesar dalam menyebarkan moderasi beragama. Salah satunya diranah civitas akademisi berbasis Islam bahkan menerima rekor MURI.

Terlebih dibalik fakta terjadi generasi milenial UIN Walisongo sangat produktif terhadap gagasan moderasi beragama, hal ini dibuktikan dengan berhasil mengunggah 5.712 video moderasi beragama dengan konten menyejukkan dan rahmatallil’alamin. Rektor UIN Walisongo, Imam Taufiq mengatakan pencapaiannya harus terus dijaga dan meminta warga UIN Walisongo terus menebar kedamaian. (SinarJateng 27/10/2020)

Jika ditelisik moderasi beragama memang masuk secara halus tidam mudah ditelisik, mengangkat konsep toleransi dan menciptakan Islam yang damai serta kondusif, namun faktanya memunculkan persepsi negatif generasi milineal terhadap ajaran Islam. Generasi milineal saat ini menjadi sangat toleran terhadap ide-ide kufur, seperti HAM, pergaulan bebas, LGBT, feminisme, dan lain sebagainya. Namun pada saat yang sama, sangat membenci hukum-hukum Islam salah satunya mengenai pemerintahan Islam yakni Khilafah.

Maka moderasi beragama berbahaya untuk diajarkan terlebih disebarluaskan, karena akan menjauhkan Islam yang haqiqi terhadap kaum Muslim itu sendiri. Yang dibutuhkan generasi milineal adalah pemahaman yang shohih tentang Islam kaffah. Menjadi generasi muslim yang seutuhnya, meneruskan perjuangan Rasulullah, dan tidak terjebak dalam lingkaran musuh-musuh Islam yang tersirat namun mematikan.***