Oleh : Mey Melly Melani

Raut wajahnya terlihat berbeda. Ada mendung menghiasi. Pasti sesuatu telah terjadi, tapi seperti biasa ia lebih memilih diam seperti biasa. Aku coba mencari tahu, ternyata kekasih halal sedang resah karena mendapat telepon dari wanita yang dia sangat cintai selain aku.

Wanita lain itu mengabarkan kondisinya sedang tidak fit. Sudah beberapa hari mengeluh pinggangnya sakit, jadi sulit untuk bisa beraktifitas. Sebelum sakit, sudah sebulan ini, hampir setiap hari wanita yang dicintai suami terus menelepon, mengungkapkan rasa rindu.

Terkadang, aku suka merasa sedikit egois, merasa ingin memiliki suami sepenuhnya. Saat tersadar aku langsung banyak beristighfar. Ada wanita lain yang juga merindukannya. Wanita lain yang juga berhak memiliki suamiku. Wanita itu adalah ibunya. Wanita mulia yang telah berjasa melahirkan kekasih halalku.

Tidak seperti biasa, mama sebulan ini selalu bilang kangen sama kami terkhusus pada suamiku–anak sulungnya. Mama beberapa kali juga mengatakan kapan kami bisa pulang, karena mama sudah ingin bertemu.

Terakhir kami bertemu akhir Desember–awal Januari, saat anak-anak liburan sekolah. Akibat pandemi ketika lebaran, kami tak bisa lagi pulang menengok mama. Pandemi ini memaksa kami untuk menahan rindu untuk berjumpa mama di kampung.

Sepuluh bulan cukup sudah, seorang anak dan ibu saling menahan rindu. Tadinya ingin memaksakan diri agar kami semua bisa berangkat, tapi beberapa kondisi tidak memungkinkan membuat kami membatalkan perjalanan untuk mudik.

Akhirnya, suami memutuskan untuk pulang hanya ditemani anak pertamaku. Pagi ini mereka berangkat, untuk bisa segera saling melepas rindu. Terpancar wajah suami yang sumringah penuh semangat. Betapa suami begitu menyayangi dan menghormati ibunya.

Pikiranku melayang kepada mama mertua. Usianya kini sudah semakin senja. Rambut hitamnya sudah tak bisa kudapati lagi, semuanya sudah memutih. Kukit di wajah beliau pun sudah berkeriput. Punggungnya tampak mulai bongkok. Jari-jari tangan yang selalu gemetar saat memegang benda yang agak berat. Ya Rabb … tak terasa bulir-bulir di mata membasahi pipi.

Sejauh ini, setiap berkunjung ke rumah mama, aku selalu mencoba menahan diri berdekatan dengan suami. Aku mencoba menjaga perasaan mama. Karena pernah suatu hari kami berdua bercanda di depan mama secara spontan, mama tampak tersenyum, tapi dalam senyum mama juga tersirat ada kesedihan. Aku paham mama bukan tidak senang melihat kerukunan dan kebahagiaan kami. Akan tetapi ini soal rasa cemburu yang pastinya sulit diungkapkan.

Aku bisa merasakan dan bisa membacanya. Karena itu aku coba memahami dan memaklumi. Saat ini Allah telah mengamanahkan kami enam anak. Empat diantaranya laki-laki. Lalu aku membayangkan, jika suatu saat anak laki-laki kami menikah dan beriringnya waktu aku pun pasti menua. Aaah … tak sanggup membayangkannya. Bulir-bulir di mata kembali mengalir lembut.

Suatu saat nanti, mungkin aku akan merasakan apa yang mama rasakan. Aku pasti akan merindukan anak-anakku. Mungkin aku juga akan cemburu jika anak lelakiku sudah jarang berkunjung. Atau terlalu memperlihatkan kesenangan berlebihan di depanku bersama keluarganya. Tak mudah buat seorang ibu untuk kehilangan anak lelakinya. Tak mudah buat seorang ibu menerima masa tuanya.

Karena rasa empati inilah, aku jadi menjaga sikap di depan mama. Sering membiarkan suamiku berduaan dengan mama. Memberikan mereka kesempatan untuk saling melepas rindu dan sayang. Terkadang, suami malah pulang tanpa kami sekeluarga. Hanya pulang sendiri atau hanya ditemani salah satu dari anak kami. Agar suami lebih punya quality time bersama mamanya.

Bagi seorang ibu, walau anaknya sudah beristeri dan mempunyai keturunan. Berapapun usia buah hatinya kini, tetap akan selalu dianggap sebagai anak kecil kesayangannya. Keakraban seorang anak dan ibu pada saat-saat tertentu akan semakin harmonis, jika tak ada pihak lain yang mengganggu.

Sudah semestinya isteri selalu mendukung suami, agar senantiasa melakukan berbagai ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Salah satunya berbakti kepada orang tua atau birrul wâlidain terutama kepada ibunya. Karena menyambung tali silaturahim dengan baik pada orang tua setelah menikah adalah salah satu bentuk ketaatan pada Allah.

Pernikahan itu tidak berarti menghalangi bakti kepada orang tua. Semakin anak berbakti dan memuliakan orang tua, kehidupan rumah tangganya pasti akan bahagia pula.

Maafkan aku, mama, jika selama ini aku banyak salah pada mama. Aku juga ingin banyak mengucapkan terima kasih karena telah melahirkan putra yang shalih. Mama telah sukses mendidik anak yang kini telah menjadi pendamping hidupku. Suami yang sangat bertanggung jawab. Yang tahu bagaimana, memperlakukan, menjaga dan menyayangi isteri juga anak-anaknya dengan sangat baik.

Sudut Kamar, 2 Nopember 2020

Nubar

NulisBareng

Level2

BerkreasiLewatAksara

menulismengabadikankebaikan

week1day1

RNB030Jatim

rumahmediagrup