Shafna Aulia Yardha
Alumni Pendidikan Agama Islam UMM

Sejumlah pihak mengkritik kebijakan kepolisian yang dinilai akan menyulitkan pelajar untuk membuat SKCK, pihak kepolisian mengatakan bahwa para pelajar terbukti melanggar hukum sebab mereka turut dalam demonstrasi anti UU cipta kerja yang terjadi beberapa waktu lalu. Konon kebijakan ini diklaim akan ditempuh untuk memberi efek jera, meski mendapat komentar yang tidak baik dari KPAI karena dinilai akan menyulitkan pelajar untuk bekerja di sektor formal pada masa depan, pihak kepolisian tetap akan melanjutkan kebijakan tersebut.

Sebelumnya, sejurus setelah demonstrasi, surat edaran yang mengimbau mahasiswa untuk tidak melakukan demo dikeluarkan oleh Kemendikbud, pihaknya menilai hal itu akan membahayakan keselamatan dan kesehatan mereka. Tidak ketinggalan pula, sosialisasi di kampus juga dilakukan guna mendorong mahasiswa untuk melakukan kegiatan intelektual seperti yang tertuang dalam program merdeka belajar dan tidak terprovokasi untuk melakukan demonstrasi.

Meski hakikatnya merdeka belajar juga bisa dimaknai dengan kemerdekaan berpikir, namun nyatanya ketika para pemuda, dalam hal ini mahasiswa ingin menyampaikan aspirasi hasil dari buah pikir mereka justru dibungkam. Realitanya yang terjadi adalah potensi yang ada pada para mahasiswa seperti halnya hasil riset dan inovasi yang mereka kembangkan digunakan hanya untuk memuluskan kepentingan kapitalis. Jurnal penelitian yang berkaitan dengan industri contohnya, hasil penelitian dan pengembangan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan perusahaan. Dari sini dapat kita lihat bahwa potensi intelektual para terpelajar juga menjadi sasaran empuk untuk meraup keuntungan. Beberapa riset diboncengi oleh para kapitalis yang berujung pada kepentingannya guna meraup keuntungan. Pembajak utama potensi-potensi pemuda kaum terpelajar adalah sistem kapitalis di negeri ini. Maka tidaklah heran jika di segala lini kehidupan berubah menjadi ladang bisnis, pun dengan dunia pendidikan.

Sedangkan potensi pemuda untuk menentang kapitalisme dan menuntut perubahan hakiki justru diberangus dan dimandulkan. Pemuda, yang pada dirinya melekat predikat stok iron, agent of change, guardian of value dan juga social control dengan segala potensi yang dimilikinya sudah seharusnya diarahkan kepada hal-hal yang dapat bermanfaat baik di dunia dan juga akhirat, yakni dengan cara mengoptimalkan potensi dengan memulai untuk peduli pada umat dan bergerak untuk umat menuju perubahan yang hakiki.

Tentunya perubahan hakiki akan terjadi manakala mengambil pandangan hidup dan aturan yang benar. Allah berfirman dalam surah Ali Imron ayat 19, “sesungguhnya agama disisi Allah adalah Islam, tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Alkitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungannya”

Dengan demikian untuk meraih perubahan hidup yang hakiki adalah dengan menjadikan negeri ini melandaskan segala aktifitas didalamnya atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah dengan dasar Islam. Sebab Islam mengarahkan potensi sesuai dengan fitrah penciptaannya, yakni untuk mengabdi kepada sang khaliq dan menebar manfaat bagi umat.