Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

Rasa rindu bercampur sesal itu menyeruak ketika kita mendengar nama Rasul kita disebut. Rindu karena berharap ingin berjumpa dengan beliau dan menyesal karena belum bisa membuktikan sepenuhnya cinta kita kepadanya. Kamis, 29 Oktober 2020 (12 Robiul awal) bertepatan dengan peringatan hari kelahiran nabi, Maulid Nabi Muhammad saw mengingatkan kita apa yang ada dalam surat Al anbiya ayat 107.

“Dan tiada lah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Ketika kita belum merasa rindu kepada beliau, mungkin karena sejatinya belum mengenal beliau. Kebesaran beliaupun diakui oleh Michael H. Hart, pengarang buku 100 orang paling berpengaruh didunia yang menempatkan Rosul diperingkat satu dalam bukunya. Dia katakan Nabi Muhammad bukanlah pembohong karena kebohongan tidak akan bertahan setelah lebih dari 1400 tahun dan anda tidak akan pernah mampu membohongi 1 miliyar manusia.

Dan dalam qs. Al ahzab ayat 21.
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa dalam diri rosul ada teladan yang baik, maka sudah sepatutnya kita tidak perlu melirik lagi suri tauladan lain selain Rasul. Setiap perkataan, perbuatan dan diamnya ada suri tauladan yang bisa kita ambil. Kehadiran beliau sungguh nikmat yang luar biasa bagi kita. Dan semakin mengenal sosok beliau, semakin membuncah rasa cinta ini. Ya Rasulullah, aku mencintaimu.

Tanpa kesabaran, kecerdasan dan kebersihan hati beliau, kita tidak akan merasakan begitu indahnya Islam.

Kalau kita lihat pribadi beliau, bagaimana beliau memperlakukan anak-anak bahkan balita membuat hati ini semakin cinta kepadanya. allahumma sholi ala Muhammad.
Beliau pernah dikencingi oleh anak kecil dan ibu anak tersebut langsung merenggut anaknya dari gendongan Rasulullah dengan keras. Saat itu Rasul berkata, “Air kencing ini bisa dibersihkan tapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka.” MasyaaAllah pendidikan yang luar biasa untuk kita.

Berkata pula Anas Bin Malik: “Pernah suatu hari Rasulullah menyuruhku keluar untuk suatu kebutuhan. Maka aku berkata: “Demi Allah saya tidak mau pergi, padahal sebenarnya aku mau melakukan apa yang disuruh oleh Nabi.”

Maka aku pun keluar, sampai aku melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar, maka Rasulullah (mencariku dan) memegang bajuku dari belakang. 

Maka ketika aku menoleh, kulihat beliau tertawa sambil berkata: “Ya Unais, apa kamu pergi seperti yang aku suruh?” Aku menjawab: “Iya wahai Rasulullah.”

Sungguh demi Allah, aku telah melayani beliau selama 9 tahun, dan aku tidak pernah melihat beliau berkata terhadap apa-apa yang aku kerjakan: “Kenapa kamu melakukan itu?” atau terhadap sesuatu yang tidak aku kerjakan “Mengapa kamu tidak melakukan itu ?” (tidak memarahi).

Kesibukan beliau juga tidak menghalangi beliau bercengkrama dengan anak-anak dan menasehati mereka. Nasihat yang pernah rosul sampaikan kepada Abdullah Ibnu Abbas di atas kendaraannya dengan bahasa yang mudah dicerna dan penuh makna adalah “Wahai anak kecil, jagalah Allah niscaya ia akan menjagamu”.

Beginilah Nabi bersikap sabar terhadap kenakalan dan kekurangan adab anak-anak, menasehati mereka tanpa teriakan, celaan, apalagi kekerasan.

Perlakuan beliau kepada orang dewasapun MasyaaAllah, bahkan beliau tidak pernah membedakan apakah orang tersebut kaya atau miskin, karena dalam Islam kefakiran bukanlah suatu aib. Derajat seseorang dilihat dari ketaqwaannya. Menjadi muhasabah buat kita ketika kita bersikap terhadap orang kaya atau miskin. Bukan berarti ketika ada tamu dari orang kaya kita memberikan jamuan yang luar biasa, akan tetapi sebaliknya untuk tamu yang miskin kita tidak memberikan jamuan karena mereka miskin.

Masih banyak lagi perkataan dan perbuatan beliau yang ketika mengenalnya akan tumbuh kerinduan yang sangat dalam diri ini. Lantas, masihkah kita berpaling dari beliau? Mencari sosok lain untuk kita teladani?

Meneladani Bukti Cinta

Cinta itu perlu bukti, jangan biarkan cinta itu hanya cinta yang hanya terucap di lisan tanpa bukti. Karena cinta itu berarti cinta palsu. Meneladani Rasulullah sebagai kekasih hati dalam segala hal yang beliau lakukan. Islam yang beliau bawa adalah rahmatan lil alamin dan aturannya kaffah (menyeluruh).
Islam mengatur semua sisi dalam kehidupan kita, dari mulai ibadah, muamalah bahkan sampai urusan pemerintahan (politik). Adanya aturan ini menunjukkan cinta Allah kepada kita. Aturan yang akan menjadikan umat Islam memimpin kembali peradaban dan menjadikan umat Islam sebagai umat yang terbaik.

Tahun ini bisa kita sebut sebagai tahun politik bagi Indonesia karena insyaaAllah di bulan Desember akan diadakan pilkada. Tahun ini juga bisa kita sebut sebagai tahun pandemi karena di tahun ini pandemi covid masih tinggi penyebarannya. Maka sangatlah wajar jika pilkada tahun ini menimbulkan polemik.

Sebagian masyarakat menolak dalam pelaksanaan pilkada ini karena kekhwatiran akan penyebaran covid lebih lebih luas, akan tetapi pemerintah bersikeras untuk tetap melaksanakannya dengan berbagai argumen yang disampaikan.

Ahli wabah Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintah. Terutama pada penanganan wabah Covid-19 di era Pilkada saat ini.

“Sebagai sebuah bangsa, tidak bijak melaksanakan Pilkada dalam situasi penanganan wabah yang tambal sulam dan manajemen yang buruk, ujarnya.”(Akurat.co, 30/09/2020).

Pilkada sudah berulang kali diadakan tapi tidak kunjung ada perubahan hasil. Rakyat masih banyak yang masih kesulitan memperoleh penghasilan yang layak, apalagi dalam masa pandemi ini. Banyak mereka yang terkena PHK karena efek pandemi. Masih banyak kita jumpai mereka yang tergolong masyarakat dengan ekonomi menengah cenderung rendah. Korupsi masih merajalela. Masalah pendidikan juga tak kalah pelik, dari mulai sarana maupun prasarana yang tidak memadai, terlebih lagi adanya PJJ saat ini. Dalam masalah kesehatan apalagi, sebagai garda terdepan dalam mengatasi pandemi, terlihat banyak masalah yang belum teratasi didalamnya.

Apakah pilkada tahun ini bisa memberikan perubahan yang berarti? Perubahan itu tidak sebatas melihat orangnya, akan tetapi juga sistem apa yang digunakan. Demokrasi sejatinya hanya mempersilahkan secara fisik kaum muslimin untuk masuk ke dalam sistem tetapi tidak membawa sistem Islam kedalamnya. Saat ini banyak dari anggota DPR adalah kaum muslimin akan tetapi undang-undang yang lahir bukan dari Islam. Fakta yang masih hangat sekarang adalah undang-undang omnibus law. Terlihat sekali siapa yang diuntungkan dalam perundang-undangan ini.

Kalau kita mempelajari siroh nabawiyah, perubahan yang Rasul contohkan adalah dengan jalan perubahan umat. Rasul membangun kesadaran dalam diri umat, mengokohkan iman mereka dengan Islam. Itulah yang Rasul lakukan saat fase Mekah. Pada fase Mekah ini Rasul masih melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi karena saat itu masih diperintahkan untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Berbeda saat di Madinah. Dakwah di Madinah dilakukan secara terang-terangan. Rasul mengutus Musab bin Umar untuk melakukan interaksi dengan masyarakat di Madinah. Menyiapkan masyarakat di Madinah untuk bisa menerapkan Islam secara menyeluruh. Membangun opini Islam di tengah-tengah mereka. Hingga akhirnya Islam bisa diterapkan secara kaffah di Madinah.

Secara asas antara demokrasi dengan Islam berbeda. Dalam Islam kedaulatan ditangan as syar’i (pembuat hukum) yaitu Allah. Satu-satunya yang tahu yang terbaik buat makhluknya. Sedangkan dalam demokrasi kedaulatan ada di tangan rakyat. Meskipun pada faktanya bukan rakyat secara keseluruhan yang berdaulat. Pemilik modal lah yang berdaulat.

Berharap pada demokrasi menjadi sebuah kemustahilan adanya perubahan untuk rakyat. Aspirasi hanyalah sekadar aspirasi. Jargon dari, oleh dan untuk rakyat hanyalah pemanis demokrasi. Demokrasi sejati hanyalah sebuah teori. Sudah saatnya kita membuktikan cinta kita dengan kembali kepada sistem yang dibawa oleh kekasih hati. Rasulullah saw. Waallahua’lam bi showwab