Oleh: Enny wahidah
Prancis kembali lagi berulah dengan melakukan penghinaan yang dilakukan oleh Emmanuel Macron, presiden Prancis terhadap umat muslim dengan menampilkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW. Panghinaan tersebut bukanlah pertama kalinya, namun sudah kesekian kalinya yang berawal pada tahun 2015 silam yang menampilkan karikatur Nabi Muhammad pada cover depan majalah satire Prancis, atau yang disebut dengan Charlie Hebdo. Penghinaan yang dilakukan oleh negara Prancis melalui majalah Charlie Hebdo, memantik 2 orang kakak beradik untuk melakukan serangan balik kepada yang memuat karikatur tersebut, yakni para staff majalah Charlie Hebdo. Sehingga ada 12 korban yang meninggal di kantor redaksi majalah, akibat dari serangan tersebut (bbcnewsindonesia, 9/01/15).

Tak puas dengan kasus pada tahun 2015, sekarang majalah controversy tesebut kembali berulah dengan memasang kartun Nabi Muhammad SAW di gedung pemerintahan, Mongtepellie dan Toulouse selama kurang lebih 4 jam. Demikian, penghinaan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada guru sejarah, Samuel Paty yang dibunuh karna menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW kepada muridnya di dalam kelas yang dianggap sebagai bahan ajar dalam kebebasan berekspresi (suara.com, 17/10/20). Bentuk penghormatan yang ditujukan oleh negara Prancis untuk sang guru, bagi umat islam adalah bentuk penghinaan. Sehingga tumbuh kemarahan dan kecaman untuk memboikot produk-produk mereka. Pemboikotan terhadap negara Prancis dilakukan massal oleh negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, Kuwait, Qatar, Palestine, Yordania dan termasuk negara kita sendiri, Indonesia (cnbcindonesia,28/10/20).

Walaupun, banyak negara-negara yang mengecam tindakan pemerintah Prancis, lantas tidak membuat Prancis takut dan menyerah. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai umat Nabi Muhammad SAW atas penghinaan tersebut? Cukupkah dengan marah dan dilanjutkan dengan pemboikotan barang-barang dari Prancis? Tentu pemboikotan adalah salah satu bentuk penolakan atas kemungkaran yang dilakukan oleh Prancis. Maka pastikanlah 2 hal yang harus kita campakkan dari Prancis. Pertama, tentu adalah barang-barang yang berupa kosmetik, brand-brand mewah, industry dan lain sebagainya. Hal ini sebagai bukti bahwa kami, orang Muslim tidak rela jika suri taulan umat Muslim dihinakan. Kedua, pemikirannya. Berangkat dari Raja yang semena-mena terhadap rakyanya, menimbulkan terjadinya revolusi Prancis yang melahirkan paham Liberalisme, Demokrasi, Sekulerisme dan HAM, dari pemikiran inilah kebebasan berekspresi itu di dapat.

Hari ini, Prancis menggunakan kebebasan yang mereka agung-agungkan untuk menghinakan islam dan melakukan perlawanan terhadap islam yang mereka sebut dengan ideology ekstrimis. Kasus tewasnya seorang guru sejarah adalah moment yang pas untuk mereka gaungkan sebagai bentuk penyerangan yang dilakukan oleh Islam. Akibatnya, orang-orang di Prancis bahkan diluar negara tersebut merasa muak dan benci terhadap islam. Sehingga mendarah daginglah Islamophobia. Menarasikan islam sebagai agama yang buruk tentu bukanlah tanpa tujuan. Islamophobia yang dihembuskan di negara Prancis adalah salah satu bentuk untuk mencegah bangkitnya islam dan juga bentuk kebencian mereka dengan islam.

Lalu bagaimanakah islam memandang terhadap negara yang menghinakan Rasulullah? Secara lugas, islam menjelaskan bahwa haram hukumnya menghinakan Rasullulah. Adapun hukuman yang pantas bagi orang yang menghinakan Rasulullah adalah dengan hukuman mati atau ta’zir. Selanjutnya, jika yang berulah adalah sebuah negara, maka jihad adalah satu-satunya cara, dijelaskan oleh al-Qadhi Iyadh dalam kitab al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Musthafa. Inilah sanksi menjerahkan yang dikeluarkan oleh negara pemberani yakni Khilafah. Sehingga tidak ada orang maupun negara yang berani melakukan pelecehan atau penghinaan dengan dalih kebebasan berekspresi.