Oleh : Mey Melly Melani

Media sosial sempat dihebohkan dengan viral video seorang laki-laki, yang sedang endorse mempromosikan suatu produk jajanan kaki lima. Dengan pantun asal-asalan, gaya nyeleneh ditambah menggunakan kata-kata kasar dan penuh emosi, membuat video ini banyak diperbincangkan.

Awalnya, saya memang tidak tahu tentang video viral tersebut. Karena banyak orang yang memakai caption kata-kata kasar di postingan, akhirnya membuat saya jadi penasaran juga. Kemudian coba searching untuk melihat video yang sedang booming itu. Setelah selesai menonton. Saya sama sekali tidak merasa tertarik. Sungguh, tidak lucu jauh dari kata kreatif. Untuk bisa bicara asal-asalan, siapapun bisa melakukannya.

Kok bisa video seperti ini viral? Bingung dengan sikap warganet yang latah ikut menyebarkan video tersebut. Miris, seakan dihipnotis, hanya demi sebuah jajanan, orang-orang rela antri mengular berpanas-panasan dari pagi sampai malam. Lebih bingung lagi, saat seorang pejabat malah memberikan penghargaan akan usaha laki-laki ini. Karena cara mempromosikan jajanannya dianggap menarik. Bukankah, masih banyak orang di luar sana yang punya prestasi lebih baik dan layak diberikan penghargaan?

Saya coba memutar ulang video itu lagi, bukannya jadi tertarik ingin beli malah semakin ngeri. Karena otomatis jadi membayangkan jajanan itu seperti rasa binatang yang diucapkan. Yang membuat tidak simpatik lagi, laki-laki itu juga sudah berlebihan dengan ucapan yang menghina bagi yang tidak mau membeli makanan tersebut.

Bukankah jajanan ini sudah lama ada dan terkenal enaknya? Bahkan sampai Presiden SBY ketika menjabat jadi presiden RI pernah membeli makanan ini. Lalu kenapa harus diiklankan dengan cara yang aneh?

Makin heran, dengan pergeseran pola pikir dan perilaku masyarakat, semakin hari semakin tidak jelas. Entah kenapa, sesuatu yang buruk malah lebih cepat tenar. Coba deh, bayangkan, video yang disebarkan terus, lama-lama tersimpan di dalam otak. Pada akhirnya, otomatis akan menganggap perkataan kasar itu adalah hal lumrah dan biasa. Jadi membuat banyak orang berpikir, untuk terkenal di zaman ini, tak perlu jadi orang yang cerdas. Cukup jadi orang yang absurd dan berkata kasar maka secepat kilat, akan tersohor sejagad raya.

Khawatirnya lagi, kalau yang meniru adalah generasi muda, apalagi anak-anak kecil. Di satu sisi orang tua dan sekolah sudah susah payah mendidik dengan berbagai adab dan norma-norma. Eh, di sisi lain, hanya dengan sekejap dirusak oleh suatu video viral yang nyeleneh.

Semoga jadi pertimbangkan lagi buat seseorang yang mau membuat suatu iklan dan endorse produk ke depannya. Termasuk yang ikut membagikan. Sayang saja, kalau harus dirusak dengan hal yang buruk. Jangan hanya ingin laris dan untung, lalu berbuat sesuka hati. Jualan itu bukan untung rugi, tapi surga neraka juga berkah atau tidak. Kreatif dan unik itu boleh, tapi janganlah sampai kebablasan. Ada banyak pilihan kata-kata baik dan lucu yang masih bisa diolah untuk diucapkan.

Kalau dalam Islam barang yang kita jual atau di endorse itu bukan hanya produknya yang harus halal dan thayib, tapi juga termasuk saat cara memasarkan produknya. Bagaimana mau berkah, kalau sesuatu yang tadinya halal, malah disandingkan dengan sesuatu yang buruk.

Jika seseorang tenar mendadak, gara-gara endorse dengan ucapan kasar, nanti tak lama akan tenggelam juga akibat kata-kata kasarnya. Hal ini pun terbukti. Sekitar seminggu lalu, sosok lelaki viral itu jadi bulan-bulanan warganet. Karena telah berkata kasar dan menghina seorang ayah muda saat membonceng gadis kecilnya, yang sedang berjuang mencari nafkah. Ya, begitulah, jika seseorang memang sehari-harinya terbiasa berbicara kasar, maka apa yang dikeluarkan akan selalu kasar.

Dalam Islam, setiap apa yang diucapkan akan dimintai pertanggung jawaban. Kita juga kerap kali diingatkan, untuk menjaga lisan dari perkataan yang buruk dan sia-sia. Janganlah mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain, sekalipun itu hanya candaan.

Semoga setelah ini, lelaki yang kini diangkat jadi duta kuliner bisa tersadarkan dan ke depannya menjadi orang yang lebih bijak dan santun dalam bertutur kata.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)***