Reportase
Reporter : Elia Iwansyah Putri
(Aktivis Muslimah Semarang,
Mahasiswa UNNES Semarang)

Dr. Nazreen Nawaz, aktivis muslimah asal Inggris berbicara mengenai perihal agenda Islamophobia Prancis yang sedang digencarkan, “…. diserukan pada kita untuk boikot sekulerisme karena sistem politik inilah yg memproduksi, memperbolehkan kelompok atau negara menghina Nabi Muhammad SAW dan tidak ada yang menghentikan, hal ini terjadi dibawah tatanan politik sekulerismme global, tata dunia global yang berbasis sekulerisme. Sehingga kita harus menolak kepalsuannya. Betapa pentingnya kita memboikot sistem sekuler karena itu bagian dari sistem jahiliyah” Dalam Acara 1 Jam bersama Dr. Nazreen Nawaz yang di adakan di Channel youtube Muslimah Timur Jauh (31/01/20).

Dr.Nazreen Nawaz mengungkapkan bahwa, momen terbunuhnya Samuel Patty ini menjadi kesempatan besar Prancis untuk mengampanyekan kebebasan berekspresi kepada dunia yang berakar dari kebencian terhadap Islam.

Lanjut beliau “agenda ini khusus ditargetkan untuk komunitas muslim, semata-mata mereka ingin menghidupkan nilai-nilai Islam versi Prancis. Tetapi bagaimanapun juga nilai Islam dan sekulerisme tidak akan pernah bertemu. Kebencian terhadap muslim inilah yang melatarbelakangi pemujaan kebebasan berekspresi”

“Agenda ini sebenarnya pengakuan tidak langsung bahwa Prancis telah gagal untuk meleburkan kehidupan sekuler liberal mereka kepada umat muslim, sehingga untuk menutupi semua kegagalan tersebut Prancis membuat suatu hal yang menundang emosi muslim. Dunia barat selalu membuat kerusuhan untuk menghilangkan jejak kegagalan sistemnya dalam menangani covid-19 serta kegagalan dalam menderadikalisasi islam”, Ungkap beliau.

Dr Nazreen Nawaz menyatakan, ada 2 penyebab islamofobia di Prancis. Pertama, penyebab ideologi dengan kebebasan berekspresi yang berakar dari kebencian terhadap islam. Kedua, politik Prancis tidak mau kalah dengan politik manapun, Prancis telah mengetahui adanya kebangkitan Islam di negara negara barat dan tahu bahwa ini merupakan ancaman. Prancis hendak meloloskan UU berdasarkan kemarahan kaum muslimin dan peristiwa kekerasan yang dilakukan, dengan kata lain ingin mengambinghitamkan Islam.

“Ketika tombol propaganda anti Islam diaktifkan untuk mengampanyekan Liberal, kita sebagai muslim juga harus mengaktifkan tombol untuk memerangi kebencian ini”, Pesan beliau dalam akhir acara tersebut.