Oleh: Nurlela Nasution (Aktivis Muslimah)

Sebagai orangtua yang menginginkan pendidikan terbaik untuk putra/putrinya, kualitas pendidikan yang berbiaya mahal kadang harus ditempuh oleh orangtua.

Orangtua yang ingin anaknya mendapatkan kualitas pendidikan terbaik, tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah. Sebagaimana pernyataan anggota DPRD Kota Medan, Hendra DS, yang sesalkan keputusan Wali Kota Medan yang terkesan mengabaikan Peraturan Daerah (Perda) 5/2014 tentang Wajib Belajar Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) yang sudah lama diterbitkan. Sudah 6 tahun Perda disahkan namun belum diterapkan dengan baik dikarenakan belum menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwal) sebagai petunjuk teknis pelaksanaannya. (geosiar.com, 29/10/2020). Menurut Hendra DS, penerapan Perda MDTA itu merupakan solusi strategis dan cerdas untuk menga­ntisipasi krisis akhlak umat khususnya generasi muda.

“Kita sangat menyesalkan Wali Kota mengabaikan Perda MDTA. Pada hal Perda sangat bagus membangun akhlak anak-anak kita khususnya beragama Islam,” ujarnya saat Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Kota Medan No 5/2014 tentang wajib belajar MDTA, Minggu (25/10/2020) di Jalan Jermal XII Kelurahan Denai Kecamatan Medan Denai.

Sebagai seorang ibu, pastinya merasa sangat miris dengan Perwal yang belum dioptimalkan. Sudahlah sistem belajar daring buat orangtua menjadi darting (baca: darah tinggi), ditambah dengan ketiadaan pelajaran tentang Akhlak. Mau jadi apa generasi hari ini?

Telah banyak kasus-kasus yang terjadi dan dialami anak didik seperti: hamil diluar nikah, prostitusi online, aborsi, pergaulan bebas, pembulliyan, kriminalitas, narkoba dan masalah remaja lainnya.

Apa yang salah dari pendidikan hari ini?
Kurikulum pendidikan yang sekuler hanya akan melahirkan generasi sekuler, generasi liberal dan generasi hedon.

Karena itu yang dibutuhkan adalah sistem pendidikan dengan kurikulum berbasis Islam sehingga mampu menciptakan generasi yg berakhlakul karimah.

Dalam syariah islam, mempelajari akhlak dan adab akan diutamakan dengan proses pembinanaan berupa talqian fikrian. Sejarah telah mencatat bagaimana islam mampu mencetak generasi yang luar biasa seperti Salahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al Fatih. Mereka adalah generasi gemilang dan tangguh yang memiliki kepribadian Islam serta memiliki pengaruh, faqih fiddin.

Salahuddin Al Ayyubi mampu membebaskan Masjid Al Aqso di Palestina. Muhammad Al Fatih yang di usia 21 tahun sudah menjadi pemimpin sebuah negara Islam dan mampu menaklukkan kota Konstantinopel.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (An Nisa: 9).

Pribadi tangguh, berakhlak mulia dan berkepribadian islam hanya akan lahir dari sistem/aturan yang benar, yaitu dari sistem islam.

Wallahu a’lam Bisshowwab.