By: Najiha Rasyida (Praktisi Kesehatan)

Tidak bisa dipungkiri pandemi memberi efek bagi segala bidang, begitu juga dengan bidang kesehatan. Momentum krisis pandemi dimanfaatkan oleh pemerintah untuk memperoleh untung. Pasalnya, masuknya rumah sakit dan tenaga medis asing bukan lagi wacana. Pemerintah sudah melangkah jauh dengan meminang rumah sakit asing untuk beroperasi di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjahitan mengungkapkan sejumlah rumah sakit (RS) asing akan masuk ke tanah air. Mereka berasal dari Australia hingga Singapura.

Menurut Luhut, lewat wisata medis ini nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera.

“Karena itu saya meminta BKPM untuk mencari investor potensial guna membangun rumah sakit berkelas internasional di Jakarta, Bali, dan Medan. Kita juga akan pertimbangkan ijin untuk dokter asing, untuk spesialis tertentu namun harus sesuai kebutuhan,” lanjutnya (cnbcindonesia.com, 21/10/2020).

Menutut Analis RHB Sekuritas Vanessa Karmajaya, keberadaan rumah sakit asing yang kemungkinan akan menyasar pangsa pasar kalangan menengah atas, Vanessa menilai masih ada potensi pertambahan volume pasien baik rawat jalan dan rawat inap sejalan dengan banyaknya pasien asal Indonesia yang gemar berobat ke Singapura dan Malaysia untuk mendapatkan layanan kesehatan yang efektif dan efisien (m.bisnis.com, 23/10/2020).

Logika pemerintah untuk mendapatkan untung melalui wisata medis yang akan menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia dan menguragi devisa adalah penyesatan cara pandang masyarakat.

Dibalik itu semua akan timbul ancaman besar bagi rakyat. Diantaranya, sumber daya manusia (SDM) lokal akan tergantikan dengan SDM asing yang artinya lapangan kerja akan semakin sempit untuk SDM lokal, dan biaya kesehatan akan semakin mahal mengikuti standar internasional. Layangan kesehatan ini hanya akan dapat dijangkau oleh masyarakat menegah keatas sedengkan masyarakat menengah kebawah pastinya akan sulit untuk menjangkaunya apalagi dalam krisis pandemi seperti sekarang.

Ancaman lainnya adalah dengan adanya internasionalisasi pelayanan kesehatan sehingga akan semakin hilang kendali negara terhadap kualitas layanan kesehatan, karena dominasi kekuasaan perusahaan asing. Biaya kesehatan yang mahal sedangkan standar layanan juga belum tentu sejalan dengan mayoritas muslim. Bidang kesehatan memang ladang bisnis yang sangat empuk untuk mendulang keuntungan dan lagi-lagi rakyat yang menjadi korban.

Dalam sistem kapitalis sekuler standar untung rugi adalah hal mutlak. Berbeda halnya dengan sistem islam. Dalam sistem islam kesehatan adalah hak dasar yang harus didapatkan oleh semua rakyat tanpa pandang bulu. Negara bertanggung jawab penuh menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat. Layanan kesehatan diberikan secara gratis, tidak ada perbedaan kategori kelas layanan bagi semua pasien. Semua pasien dilayani dengan standar kualitas yang sama.

Fungsi pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulatar dan fasilitator tetapi sebagai penyalenggara dan penyadia layanan kesehatan. Jamianan kesehatan yang gratis, mudah dijangkau, ditunjang penyediakan saran dan prasana yang berkualitas, penyediaan SDM yang ahli dalam bidangnya (para medis dan non medis), tata kelola secara seluruhan dengan menajemen yang baik. Semuanya ditujukan untuk memudahkan pelayanan kesehatan bagi rakyat tanpa mengambil keuntungan sedikitpun.

Demikianlah gambaran layanan kesehatan dalam sistem islam yang sungguh-sungguh mengurusi kesehatan rakyat tanpa bergantung dengan asing. Islam hanya mengenal prinsip pembiayaan kesehatan berbasis baitul mal yang bersifat mutlak.

Salah satu sumber pemasukan baitul mal adalah harta milik umum berupa sumber daya alam dan energi dengan jumlah berlimpah. Pengelolaannya tanpa bergantung dengan asing. Sehingga negara memiliki finansial memadai untuk pelaksanaan berbagai fungsi pentingnya, termasuk pembiayaan kesehatan. Disinilah islam sebagai rahmatan lil’alamin dapat dirasakan dan akan terwujut dengan menggunakan sistem islam. Wallahu a’lam bish-shawwab.