Oleh: Geta Yuanita (Pegiat Literasi Qatar)

Maa syaa Allah indahnya sore tadi. Langit terlihat merona karena sang raja siang hendak turun ke peraduan. Angin bertiup lembut. Udara musim peralihan ini terasa sangat nyaman. Ombak yang berkejaran dan aroma khas pantai, membuat suasana menjadi sangat segar.

Air laut yang surut memungkinkan kami untuk bisa turun jauh dari bibir pantai. Memarkirkan unta besi, dan mulai memasang kursi-kursi. Cukup ramai weekend kali ini.

Imamku membawa kedua anak kami berenang agak ke tengah. Bergabung bersama anak-anak lain yang sedang bermain air bersuka ria di dampingi orang tua mereka.

Sambil duduk nyaman di kursi pantai, pandanganku tiba-tiba tertuju pada sekumpulan burung yang tengah terbang hendak pulang ke sarang. Teringat perkataan Nabi yang mulia yang telah mengajarkan pada kita tentang makna tawakal sempurna.

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

“Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”.

(HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Mubarak dari Umar bin Khathab).

Selama raga masih diberi nyawa, tak perlu khawatir kehilangan rezeki, karena Allah telah menjamin dan menakarnya untuk kita.

Saat melihat burung mengepakkan sayapnya, ingatan seketika melayang pada salah satu ayat dalam Al Quran yang biasa dibacakan.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memerhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. ( Al-Mulk : 19)

Atau pada ayat lain yang hampir serupa :

أَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ مُسَخَّرَٰتٍ فِى جَوِّ ٱلسَّمَآءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Tidakkah mereka memerhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman”. (An-Nahl : 79)

Maa syaa Allah, semoga setiap kali melihat burung, bisa menambah keimanan dan kecintaan setiap hamba pada Penciptanya.

Sekawanan burung biasanya terbang membentuk formasi seperti huruf “V”. Ternyata itupun bukan tanpa arti. Dengan formasi itu, mereka bisa terbang dalam waktu yang cukup lama. Kepakan sayap dari burung yang ada di bagian depan membantu burung-burung yang ada di belakangnya, agar tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengepakkan sayapnya. Mereka bergantian memimpin, jika burung yang ada di depan kelelahan, maka burung yang ada di belakangnya sigap menggantikan. Sungguh kerjasama tim yang baik.

Alhamdulillah, sore ini banyak pelajaran yang bisa dipetik. Selain rasa syukur atas segala nikmat yang masih Allah berikan, lewat sekawanan burung kita semua diingatkan, bahwa apapun yang Allah ciptakan harus bisa menguatkan keimanan. Sungguh tak ada yang sia-sia.

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Alu Imran : 191)