Oleh: Ummu Zhafran
(Pengajar juga pegiat literasi)


Habib Umar bin Alhafidz, seorang ulama dunia suatu ketika pernah berucap, apa perlunya mencintai Nabi sampai meneteskan air mata? Lalu beliau menjawab sendiri. Bahwa Baginda Rasul saw. telah terlebih dahulu menangis karena kita, karena dosa kita. Tidak pernah ada manusia yang pernah mendoakan kita, meminta pada Allah swt. untuk mengampuni dosa kita sebagaimana Baginda Rasul saw. Beliau bersujud lama sambil menangis dan merayu pada Allah swt., agar diampunkan oleh Allah swt. atas semua kesalahan dan dosa yang umatnya lakukan.
Begitu lama hingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk membujuk Baginda Rasul saw. agar bangun dari sujudnya.

Cinta memang tak melulu soal apa yang dirasakan di hati. Seputar galau, resah dan rindu. Namun cinta juga menuntut bukti dan Rasulullah sudah jauh lebih dulu membuktikan cintanya pada umatnya hingga di akhir zaman. Allaahumma sholli wa sallim wa barik ‘alaih.

Karena itu pula, wajar jika umat bereaksi marah saat Nabi saw. dihina.
Kecintaan pada manusia paling mulia yang wajib dimiliki setiap muslim menjadi poin pemicu kemarahan tersebut.

Seruan boikot segala produk Perancis, negara asal penghina pun bergema dari Majelis Ulama Indonesia. Tentu dimaksudkan sebagai sanksi atas penistaan yang telah dilakukan.

Persoalannya, cukupkah dengan memboikot produk sementara pelaku yang menista Nabi bebas dari hukuman yang layak sesuai syariat? Sudah pasti hukuman mati yang dimaksud.

Allah swt. berfirman, “Orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.” (QS At-Taubah: 61)
Di ayat lainnya Allah swt. juga berfirman:

“Sungguh orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknati mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka siksaan yang menghinakan.” (QS Al Ahzab: 57)

Bagi orang Islam, hukum menghina Rasul jelas haram. Pelakunya dinyatakan kafir. Hukumannya adalah hukuman mati. Al-Qadhi Iyadh menuturkan, ini telah menjadi kesepakatan di kalangan ulama dan para imam ahli fatwa, mulai dari generasi sahabat dan seterusnya. Ibn Mundzir menyatakan, mayoritas ahli ilmu sepakat tentang sanksi bagi orang yang menghina Nabi saw. adalah hukuman mati. Ini juga merupakan pendapat Imam Malik, Imam al-Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawih dan Imam as-Syafii. (Al-Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi Tarif Huquq Al Musthafa)

Sayang sekali hegemoni sekularisme dengan demokrasi yang merupakan anak kandungnya di dunia menghalangi dilaksanakannya ketentuan syariat tersebut di atas. Tak lain karena paham ini berpandangan menjauhkan campur tangan Tuhan dari kehidupan. Menjadikan agama dipilah dan dipilih sesuai kemanfaatannya, bukan pada Ridho Allah atasnya. Sebagai gantinya, kebebasanlah yang dipertuhankan. Contohnya vulgar terpampang, ketika pelecehan terhadap Rasulullah dinilai sah atas nama kebebasan berbicara dan berekspresi.

Untuk itu selama sekularisme berikut anak dan cucu keturunannya seperti demokrasi dan liberalisasi dibiarkan bertahan di tengah umat maka selama itu pula penistaan terhadap Islam, Rasulullah dan Alquran serta simbol-simbol Islam lainnya akan terus ada. Subur bak cendawan tumbuh di musim hujan. Umat pun hidup dalam derita berkepanjangan.

Satu-satunya cara tuntas menghentikan penderitaan tersebut hanya dengan mencampakkan sekularisme ke dalam tong sampah peradaban. Lalu menempatkan Islam sebagai gantinya. Dien yang diturunkan Sang Pencipta sebagai rahmat bagi seluruh alam, tanpa kecuali. Asalkan kaffah diterapkan dalam naungan khilafah sebagaimana yang diwajibkan Allah atas umat muslim. Saat hal itu terwujud, setiap orang akan berpikir sejuta kali sebelum mencoba menghina Nabi saw. Sebab sanksi akan diberlakukan. Tak seorang pun kuasa mengelak. Hatta selevel Presiden sebuah negara Barat sekalipun.

Tertoreh dalam sejarah di masa Khalifah Sultan Sulaiman Al Qanuni. Beliau pernah menulis surat kepada Raja Perancis yang isinya,

“Telah sampai padaku berita bahwa kalian membuat dansa mesum antara laki-laki dan perempuan. Jika suratku ini telah sampai padamu, pilihannya: kalian hentikan sendiri perbuatan mesum itu atau aku datang kepada kalian dan aku hancurkan negeri kalian.”

Tak lama setelah surat itu sampai di tujuan, rencana pesta dibatalkan dan berhenti digelar hingga 100 tahun kemudian. (Ustadz Budi Ashari, pakar sejarah Islam) Wallahu a’lam.