Oleh : Dien Kamilatunnisa

Indonesia adalah negeri mayoritas muslim, sehingga memiliki potensi dalam banyak hal. Salah satunya potensi wakaf. Potensi wakaf secara nasional mencapai Rp 217 triliun atau sama dengan 3,4% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Maka ada ajakkan pada masyarakat Indonesia untuk berwakaf lewat instrumen surat berharga negara seperti surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk. Sehingga manfaat yang didapatkan dari dana wakaf ini bisa semakin besar (detik.com, 24/10/2010).

Memang harus diakui bersama bahwa
perekonomian di berbagai negara mengalami tekanan selama pandemi ini, termasuk Indonesia. Kegagalan sistem sekuler kapitalisme semakin nyata disaat pandemi. Tentu hal ini butuh dana penopang, salah satunya dana umat dari wakaf. Namun menjadi ironi tatkala disatu sisi umat Islam menjadi sasaran labeling negatif, dan kriminalisasi. Pengemban dakwah pun tidak luput dipersekusi. Disisi lain, dana umat dijadikan salah satu potensi penopang keuangan negeri.

Tentu tidak elok jika aturan Islam dipilih-pilih sesuai kepentingan tertentu. Padahal jika Islam diadopsi secara keseluruhan maka akan banyak kebaikan yang diperoleh. Salah satunya aturan Islam dalam ekonomi yang dikenal dengan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam sangatlah stabil dan tidak rentan resesi karena bertumpu pada sektor ekonomi riil. Dalam sistem ekonomi Islam, kepemilikan dibagi kedalam 3 kelompok diantaranya kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dengan mekanisme ini maka akan mampu menghindarkan dari dominasi segelintir pihak.

Selain itu sistem ekonomi Islam akan memperhatikan distribusi harta dari lingkup individu, masyarakat dan negara. Dengan hal ini maka pemenuhan kebutuhan primer masyarakat pun terpenuhi. Sistem ekonomi Islam akan berjalan tatkala sistem pemerintahannya berdasarkan aturan Islam, karena satu sama lain saling berkaitan. Oleh karena itu, sangat penting hadirnya sistem Islam Kaffah . Dengan sistem Islam Kaffah maka diharapkan kehidupan pun akan berkah. Wallohu’alam

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)