Oleh : Irayanti S.AB
(Relawan Media)

Presiden Macron beberapa waktu lalu mengomentari pembunuhan terhadap seorang guru di luar Kota Paris yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad pada murid-muridnya di kelas. Menurut Macron aksi pembunuhan ini merupakan serangan terhadap kebebasan berbicara sehingga pihaknya menyebut akan melawan “separatisme Islam” yang ada. (Kompas.com, 31/10/2020)

Pernyataannya ini memicu reaksi negatif dari berbagai pihak di dunia, khususnya negeri-negeri Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Turki dan lain sebagainya. Seruan boikot produk Perancis dan segala kecaman pun menggema. Apakah boikot adalah solusi tepat untuk menghapus dan meniadakan penghinaan terhadapIslam?

Boikot, Gertakan Kecil untuk Macron

MUI melayangkan seruan boikot melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020 tertanggal 30 Oktober 2020. Selain aksi boikot, MUI juga meminta agar Presiden Perancis, Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Umat Islam se-dunia. Sampai saat ini, Macron pun masih dengan kesombongannya.

Direktur Forecast Global di Economist Intelligence Unit, Agathe Demarais, mengatakan boikot itu akan berlangsung singkat jika mengacu pada peristiwa tahun 2015. Saat itu, protes serupa terjadi menyusul pembunuhan 12 orang di majalah satir Charlie Hebdo di Paris atas publikasi kartun yang sama. (CnbcIndonesia,27/10/2020)

Majalah Charlie Hebdo bukanlah sekali memublikasikan kartun nabi Muhammad. Sayangnya, aksi boikot yang dilakukan negeri muslim hanyalah panas-panas tai ayam. Setelah itu para penguasanya kelak akan bermesra lagi.

Namun, aksi boikot serta kecaman bisa dikatakan gertakan kecil kepada Perancis bahwa umat Islam akan marah kepada siapapun yang menghina Islam dan nabinya.

Boikot Sekulerisme

Pernyataan Macron yang berbau Islamphobia hanyalah salah satu kasus dari sekian kasus yang sering berulang. Pemboikotan dan kecaman pun sudah menjadi bumbu dalam tiap penghinaan.

Tak lupa, dengan kekejaman Israel kepada Palestina yang telah berpuluh-puluh tahun? Sebelumnya negeri kaum muslim menyerukan boikot dan kecaman tetapi semua hanya sementara, tidak memberi efek jera. Selanjutnya, penguasa negeri-negeri muslim melunak kembali.

Berharap pada penguasa-penguasa saat ini memang tidak akan memberi solusi. Dalih kebebasan berekspresi yang dinyatakan Macron pun diemban pula oleh negeri-negeri muslim.

Kebebasan berekspresi adalah salah satu kebebasan yang ada dalam sistem negeri kaum muslim dan diemban pula oleh sebagian umat Islam. Hukuman yang ada tidak akan menimbulkan efek jera karena sebatas penjara.

Padahal ulama telah bersepakat bahwa penghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hukumannya adalah dibunuh. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam Sharimul Maslul, “orang yang mencela Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam baik Muslim atau kafir ia wajib dibunuh.” Ini adalah madzhab mayoritas ulama.

Ibnu Munzir mengatakan: mayoritas ulama sepakat bahwa hukuman bagi pencela Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah dibunuh. Diantara yang berpendapat demikian adalah Malik, Al Laits, Ahmad, Ishaq, dan ini juga merupakan pendapat madzhab Syafi’i.

Memang hukuman bagi penghina NabiShallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan penghina Islam adalah dibunuh dan halal darahnya. Akan tetapi bukan berarti boleh membunuhnya secara zhalim dan tanpa hak. Yang bisa mengeksekusi pembunuhan adalah ulil amri yang sah dengan keputusan dari hakim, yang memang memiliki hak untuk memberikan hukuman.

Sangat disayangkan, tidak ada negara Islam. Aturan di atas hanya akan bisa diterapkan jika ada negara yang menjadikan Islam sebagai ideologi dan aturannya. Bukan seperti saat ini, negeri-negeri muslim terkubu-kubu serta penguasa yang berhukum dengan aturan buatan manusia (kapitalisme). Pemisahan agama dalam pengurusan kehidupan menjadi hal yang wajar. Hukum kepada penghina Islam dan Rosul dengan dibunuh dalam Islam, bahkan dianggap tidak sesuai HAM.

Ketika menyuarakan boikot produk Perancis, kaum muslim lupa bahwa demokrasi-sekulerisme yang hadir ditengah negeri-negeri mereka adalah produk pemikiran pula dari Perancis dan kafir barat. Sehingga penghinaan Islam dan nabinya akan terus berulang. Kaum muslim butuh solusi untuk menuntaskannya.

Perancis Berulah, Khilafah Bertindak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”(HR. Muslim)
Atas kecintaan tersebut, umat Islam tidak mau Rasul digambarkan atau dibuatkan sebuah kartun jelek.

Perlu diketahui, bahwa penghinaan yang dilakukan oleh negara Perancis bukanlah kali pertama ini. Pelecehan atas nama kebebasan pun pernah dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid. Prancis pernah merancang drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa). Drama itu berjudul “Muhammad atau kefanatikan”.

Setelah mendengar rencana pementasan tersebut, Sultan Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris untuk menghentikan pementasan drama itu. Jika Perancis meneruskan pementasan drama tersebut, Sultan Abdul Hamid akan siap tempur dengan Perancis. Alhasil Perancis ketakutan.

Ketakutan Perancis kala itu dikarenakan Islam sangat disegani dengan negaranya yang akan menindak dan diatur dengan aturan Islam secara totalitas. Persatuan dan semangat membela Islam ditunjukkan pula oleh kaum muslim saat masa pemerintahan Islam. Sudah seharusnya jika kita mengaku cinta nabi maka cintai pula syariat-Nya. Dengan cara kembali kepada hukum Islam. Nicsaya penghinaan terhadap Islam akan terhapuskan.

Wallahu a’lam bishowwab