New Normal yang Dipaksakan
Oleh: Masrina Sitanggang. Mahasiswa Pendidkan Biologi, UINSU

Angka Penyebaran virus Covid-19 di Wilayah Kota Medan hingga saat ini belum menunjukan penurunan yang signifikan.Dari data yang diperoleh melalui Satgas Covid-19 Kota Medan, Pada hari Senin, (3/11) Jumlah Pasien yang terkonfirmasi Covid -19 sebanyak 6.905 Orang, Suspek 325, Sembuh 5.224 dan 302 meninggal dunia. Pelaksana Harian Kepala seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan kota Medan Zulhelmi Hasibuan mengatakan, Dalam melakukan pencegahan penyebaran virus covid-19, Pemko Medan melakukan berbagai upaya salah satunya adalah terus melakukan edukasi dan sosialisasi Perwal No 27 Tahun 2020 Tentang Adaptasi kebiasaan baru ke sejumlah lapisan masyarakat.
Ditengah kondisi pandemi yang semakin menghawatirkan, masyarakat disuguhi berbagai macam edukasi dan sosialisasi untuk hidup dengan aktifitas normal ditengah kondisi yang tidak normal. Sebenarnya kegiatan ini merupakan usaha pemerintah yang patut diacungin jempol jika dilihat hanya sekilas. Namun jika diamati lebih mendalam, sosialisasi semacam ini hanya mampu menyelesaikan sebagian masalah cabang yaitu untuk menerapkan protokol kesehatan ditengah pandemi. Karena masalah pokoknya adalah bagaimana cara mengakhiri pandemi secara tuntas. Masalah cabang akan selesai dengan otomatis, ketika masalah pokok mampu diatasi. Artinya hal paling urgent dan utama untuk diselesaikan segera adalah masalah pokok.
Sejak berkembangnya virus corona di negeri tercinta, sejak saat itu pula pemerintah memberlakukan aturan untuk jaga jarak, pakai masker, sering cuci tangan, dan yang lainnya. Namun hingga saat ini jumlah korban terinfeksi covid-19 semakin meningkat. Artinya dengan memberlakukan protokol kesehatan saja, tidak mampu untuk menekan laju peningkatan korban dari virus tersebut. Inilah pentingnya pemerintah untuk mengarahkan pandangan dan fokus pada penyelesaian masalah pokok.
Solusi yang ditawarkan oleh sistem kapitalis adalah solusi parsial. Yang bahkan tidak mampu memberikan kepastian kepada masyarakat, kapan pandemi akan berakhir. Masyarakat di himbau mematuhi protokol kesehatan, sekolah tatap muka beralih daring, dan tempat ibadah juga terkena imbasnya. Namun sayang seribu sayang, penerbangan tetap berjalan, parawisata tetap terbuka lebar, pusat perbelanjaan juga ramai. seakan pemerintah setengah hati dalam menangani pandemi.
Jika pemerintah serius dalam menanangani wabah ini, harusnya pemerintah berkaca dan mengikut pada negara-negara yang telah tuntas dan lolos dari ancaman virus corona. Yaitu dengan mengambil tindakan lock down secara total, hingga kondisi benar-benar pulih kembali.
Jauh sebelum ini, pada zaman Rasulullah juga pernah terjadi masalah wabah, maka tindakan yang diambil oleh Rasulullah adalah me-lockdown daerah yang terkena wabah tersebut. Dengan cara, melarang orang memasuki area wabah, dan untuk orang yang ada di area wabah, dilarang keluar. Tentu Rasulullah juga meriayah dan memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga wilayah diluar area wabah masih tetap bisa melakukan aktifitas sebagaimana biasanya, hingga wabah benar-benar berakhir.
Dalam pandangan islam, sungguh menghindari bahaya lebih diutamakan daripada mendapatkan manfaat. Karena nyawa seorang muslim lebih berharga dari dunia dan seisinya dalam pandangan Allah. Menjadi seorang pemimpin adalah amanah yang akan Allah mintai pertanggung jawaban kelak atas segala tindakan yang ia ambil untuk rakyatnya. Apalagi hal ini menyangkut kesehatan dan nyawa manyarakat luas. Islam merupakan agama sekaligus memiliki sistem yang lengkap untuk panduan hidup manusia. Oleh karena itu, islam memiliki solusi atas segala pernasalahan, termasuk dalam hal menangani wabah. Tentu aturan islam ini sesuai dengan fitrah manusia yang menentramkan jiwa. Sebagaimana kita ketahui bahwa islam merupakan rahmat bagi seluruh alam.