Oleh: Yurike Prastika

Umat Islam di dunia kembali dipicu amarah nya untuk kesekian kalinya, dengan adanya penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dilakukan majalah satire Charlie Hebdo yang menerbitkan karikatur sosok Nabi SAW. Hal ini bukan baru sekali terjadi, namun pada tahun-tahun sebelumnya Charlie Hebdo juga pernah mempublikasikan kartun karikatur Nabi SAW yang serupa. Selain itu, dikutip dari palembang.tribunnews.com bahwasanya terjadi peristiwa pembunuhan pada seorang guru di sebuah sekolah di kota Paris yang bernama Samuel Paty sebab menunjukkan dan meminta murid sekolahnya untuk menggambar karikatur Nabi Muhammad SAW pada tanggal 6 oktober lalu. Menyikapi hal tersebut, presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan mendukung kebebasan berekspresi terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad SAW di negaranya.
Berawal dari hal inilah, muncul upaya pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang ramai-ramai dilakukan oleh negara-negara Timur Tengah dengan cara memboikot produk Prancis. Indonesia sendiri, juga mengecam. Dikutip dari tayangan konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10/2020) sore. Jokowi mengatakan “Yang pertama, Indonesia mengecam keras terjadinya kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice, yang telah memakan korban jiwa. Kedua, Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” tuturnya.
Tidak hanya itu, Majelis Ulama Indonesia ( MUI) juga mengeluarkan imbauan kepada seluruh umat Islam Indonesia untuk memboikot apapun produk negara Perancis.  Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam di seluruh dunia.
Adanya upaya pemboikotan produk Prancis ini merupakan salah satu tanda adanya ‘nyawa’ bagi umat Islam. Namun, sudah benarkah boikot menjadi solusi yang tepat? Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW kemungkinan dapat terulang kembali selama masih menerapkan Demokrasi. Sebab demokrasi lah, yang menjadi akar masalah. Sebab demokrasi merupakan sistem hasil pemikiran barat yang mendukung untuk kebebasan berekspresi. Menjadi penyebab mereka yang tidak suka Islam untuk bebas melakukan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dengan dalih kebebasan berekspresi. Terlebih lagi tidak adanya hukum yang tegas terhadap para pelaku.
Maka, memang sudah seharusnya, yang perlu dilakukan umat islam bukan sekedar boikot produk negara penghina Nabi SAW, melainkan juga memboikot total yang menjadi akar permasalahan, yaitu memboikot demokrasi serta paham-paham Barat yang sejenisnya seperti sekulerisme-kapitalisme. Umat Islam sudah saatnya untuk bersatu memperjuangkan dan menegakkan Khilafah Islamiyah, sehingga dapat terterapkannya seluruh aturan-aturan Allah. Tidak adanya seorang Daulah Khilafah, maka agama Islam dan Rasul yang Mulia akan terus dihina.
Wallahu a’lam bis showab.