Oleh: Ummu Irul

Di bulan Robi’ulawal ini,
suka cita menyelimuti seluruh kaum Muslim di dunia sebab bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi SAW. Berbagai acara di gelar dalam memeriahkan hari lahirnya baginda Nabi SAW. Mulai dari lomba membaca tartil al-Qur’an, tadarus (mengkhatamkan Al-Qur’an), sholawatan, pawai hingga menggelar tablig akbar meski via online dan masih banyak bentuk lainnya.

Hal ini menunjukkan kecintaan umat Islam kepada Nabinya, manusia yang telah membawakan obor penerang untuk menjalani hidup di dunia ini. Tatanan kehidupan umat manusia yang dulu penuh dengan kerusakan dan kehinaan, menjelma menjadi sebuah peradaban yang mulia, hingga menjadi mercusuar dunia, melalui risalah yang beliau bawa. Mencintai Nabi merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT.

Dan memang sudah selayaknya kaum Muslim mencintai dan meneladani Nabi SAW. Sebagaimana telah difirmankan Allah di dalam kitab-Nya, “Laqod kaana lakum fii Rosuulillaahi uswatun hasanah.”
Sungguh telah terdapat di dalam diri Rosullah suri tauladan yang baik bagimu (QS. Al -Ahzab (33): 21

Dengan ayat ini, sudah jelas bagi kita siapa yang harus dijadikan model/tauladan tatkala menghadapi berbagai masalah hidup ini.

Allah telah perintahkan pula mencintainya, di atas kecintaan kepada yang lain. Sebagaimana firman-Nya, di QS. Taubah: 24

قل إن كان ابآؤكم و أبنآؤكم و إخوانكم و أزواجكم و عشيرتكم و أموال اقترفتموها و تجارة تخشون كسادها و مساكن ترضونها أحب إليكم من الله و رسوله و جهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدى القوم الفاسقين ٢٤

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS. At-Taubah (09): 24)

Peringatan Allah di ayat ini, membuat kita orang beriman tidak cukup nyali untuk mencintai yang ada di dunia ini melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali “sendiko dawuh” dengan perintah Allah tersebut (mencintai Allah dan Rosul-Nya).

Penghina Nabi Yang Hadir Kembali

Di tengah suka cita kaum muslim di Robiul Awwal ini, harus dinodai dengan terjadinya pelecehan terhadap manusia mulia, Nabi Allah Muhammad SAW, oleh orang kafir di Perancis sana, yang dilegitimasi oleh sang Presiden Emanuel Macron, atas nama kebebasan berekspresi.

Peristiwa ini memantik kemarahan seluruh kaum Muslim sedunia. Di berbagai negara, kaum Muslim mengecam tindakan hina tersebut. Di negeri muslim terbesar ini, aksi bela Nabi digelar hampir seluruh kota, mereka menuntut agar pelaku dihukum berat.

Meski penodaan dan pelecehan terhadap manusia mulia itu telah mendapatkan kecaman dan protes dari seluruh muslim di dunia, namun hal itu terus terjadi, dari waktu ke waktu, semakin banyak saja ragamnya. Sepertinya tidak ada rasa jera kepada penghina dan pelecehan terhadap syari’at Islam. Mengapa? Kurang galakkah seluruh kaum Muslim, sehingga para penghina Nabi berani dan dengan jumawanya, melaksanakan aksinya? Atau karena kaum Muslim kini hanya seperti singa yang sudah tidak memiliki taring/
senjata untuk membalasnya? Apa sebenarnya akar permasalahannya?

Demokrasi Menyuburkan Penghina Nabi

Di alam demokrasi yang selalu mendewakan empat kebebasan, ( bebas beragama, berpendapat, berkepemilikan dan berperilaku). Kebebasan berperilaku, inilah yang memayungi perilaku penghina Nabi. Dengan dalih kebebasan berekspresi, termasuk membuat kartun yang melecehkan Nabi, memberikan ungkapan-ungkapan yang melecehkan Nabi dan sejenisnya, lahir dari slogan yang senantiasa didengungkan di negara demokrasi, yakni HAM (Hak Asasi Manusia). Atas nama HAM mereka bebas menghina panutan seluruh manusia di bumi. Bahkan manusia yang berhak memberikan pertolongannya/ syafa’atnya di kehidupan abadi kelak.

Inilah hebatnya demokrasi, HAM di luar Islam mereka junjung tinggi, namun hak asasi manusia untuk umat Islam tak satupun diperhatikan. Buktinya? Peristiwa di bulan ini, meski seluruh kaum Muslim di dunia mengutuk perbuatan penghinaan kepada Nabi, namun Sang Presiden tak bergeming, untuk menghentikan seluruh aktivitas yang menghina Nabi tersebut, sekali lagi atas nama kebebasan berekspresi (berperilaku).

Negara Perancis memang tidak kali ini saja menghina junjungan umat Islam. Sudah berkali-kali, majalah Charlie Hebdo melukai dan memancing kemarahan umat Muhammad. Mereka tahu banget bahwa kini umat yang berjumlah hampir 2 milyar itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah tidak punya pemimpin lagi. Dengan demikian jelaslah! Kaum Muslim tidak bisa berharap pada demokrasi untuk menghentikan para penghina Nabi.

Khalifah Hentikan Penghina Nabi

Islam akan memberikan rahmat bagi seluruh alam, ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, dalam suatu sistem Ilahiah yakni sistem Khilafah, di mana kepala negaranya disebut Khalifah. Negara Islam akan mampu menyelesaikan seluruh permasalahan umatnya, termasuk menghentikan para penghina Nabi SAW ini.

Khalifah diangkat umat Islam untuk menjalankan syariat yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi siapapun yang menghina Nabi, baik perorangan, kelompok atau bahkan sebuah negara jika melakukan tindakan apapun bentuknya untuk menghina junjungan umat Islam, akan dikasih sangsi yang tegas. Dengan sangsi tersebut akan memberikan efek jera bagi pelakunya, dan akan mencegah siapapun yang berniat melakukannya.

Sebagaimana dulu, pernah terjadi pula, negara Perancis akan menampilkan sebuah teater yang menghina Nabi Allah. Maka Khalifah Sulthan Hamid II dengan tegasnya melarang sekaligus mengancam, jika tetap dilakukan penghinaan tersebut.

Dengan tegasnya, maka sang Khalifah segera memanggil duta Perancis serta menyuruhnya untuk menghentikan rencana penayangan teater tersebut. Jika tidak!
Maka Khalifah akan mengerahkan pasukan kaum Muslim untuk memerangi Perancis!

Dengan ketegasan sikap Sang Khalifah maka negara penghina Nabi tersebut (Perancis) segera membatalkan pertunjukannya. Perancis takut luar biasa, sebab adanya Khalifah kaum Muslim yang luar biasa pula. Berani, benar dan tegas, terhadap para penghina Nabi.

Disamping ketegasan dan wibawa pemimpinnya, negara Khilafah juga memiliki kekuatan militer yang hebat dan besar yang menjadikan para penghina Nabi tunduk dan takut. Sebab ancaman Khalifah bukan hanya gertakan sambal belaka.

Seperti itulah keadaan kaum Muslim jika memiliki seorang pengayom, yakni seorang Khalifah. Mereka tidak dilecehkan, nabinyapun tidak ada yang berani menghina dan melecehkan. Sebab Rosulullah telah bersabda, “Sesungguhnya seorang Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kaum Muslim menghendaki lenyapnya para penghina Nabi dan pelaku pelecehan serta penodaan kepada Islam, pemeluk dan ajarannya, maka kita butuh tegaknya kembali Khilafah minhajjin Nubuwwah, sebagaimana bisyaroh baginda Nabi SAW, “…Selanjutnya akan kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (HR. Ahmad dalam Musnadnya (no. 1830), Abu Dawud Al-Thayalisi dalam musnad-nya (no. 439), Al-Bazzar dalam Sunannya (no.2796).

Wallahua’lam bish Ashowab