Oleh: Ummu Ahtar (Komunitas Setajam Pena)

Dilansir m.cnnindonesia.com, (20-10-2020)-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membidik partisipasi pengumpulan dana wakaf yang lebih besar dari masyarakat kelas menengah Indonesia, khususnya generasi muda alias milenial. Ia menyebut kesadaran kalangan ini terhadap instrumen wakaf tengah meningkat sehingga bisa dijadikan sumber keuangan baru untuk memenuhi pembiayaan dari dalam negeri.

Pemerintah tengah memperkuat ekosistem dan sinergi pengembangan dana wakaf di Tanah Air. Berbagai cara dilakukan, seperti mempersiapkan instrumen Cash Waqf Linked Sukuk (dana abadi wakaf tunai), hingga inisiasi Gerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT) yang dipelopori Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Upaya pemerintah dalam menambah pendapatan negara terkesan kehilangan akal. Pendapatan negara yang diambil dari pajak dan utang terasa belum cukup. Padahal sebelumnya telah dikritik pemerintah ikut campur dana urusan haji untuk pembangunan infrastruktur. Namun apalah dikata hutang negara telah menggunung apalagi ditengah pandemi saat ini kondisi ekononi porak poranda, tak mungkin lagi jika mrnambah hutang, tentunya tak sanggub membayar maka dana umat islam pun mulai diembat untuk menutupi defisit.
Seperti dilansir m.liputan6.com, (24-10-2020) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, “Ekonomi syariah berpeluang besar menjadi sumber baru bagi perekonomian nasional. Sekaligus dinilai mampu menjawab berbagai tantangan dinamika perekonomian nasional di masa kedaruratan kesehatan ini.”

“Kita akan berupaya memaksimalkan momentum pemulihan berjalan melalui ekonomi syariah untuk pemulihan ekonomi tahun 2021. Sehingga ekonomi kembali tumbuh positif di dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan ketimpangan,” ujar dia dalam Webinar Strategis Nasional “Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia”, Sabtu (24/10/2020).

Sistem ekonomi Islam memang sudah terkenal sejak dahulu karena mampu bertahan hingga lebih dari 13 abad lamanya. Maklum mayoritas penduduk Islam di ibu pertiwi ini mengidolakan dan mendambakan terwujudnya ekonomi yang mensejahterakan rakyatnya. Namun apakah ini hanya taktik untuk meraih simpati hati umat Islam saja. Yang mana habis manis sepah dibuang.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah ayat 208).

Jika hukum islam hanya diambil sebagian, tentunya terkesan pilih kasih dan tak sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW. Upaya rezim yang demikian tentu hanya bermaksud materi. Terutama pengagum ideologi abu-abu yang condong dengan Kapitalisme, kepuasan materi hanya untuk para Kapitalis dan anteknya. Wajar upaya-upaya demikian mencari hati umat islam untuk memuaskan nafsu bejat para Kapital yang sejatinya malah menusuk dari belakang. Karena segala upaya yang dilakukan atas nafsu diri tanpa ada dorongan ruh. Sehingga upaya mereka bertolak belakang dengan Ideologi Islam yang dulu dicontohkan Rasulullah SAW.

Islam mempunyai lembaga khusus untuk mengatasi semua masalah ekonomi yaitu Baitul Mal.Dana baitul mal diperoleh dari tiga sumber yaitu,

Pertama, pos pendapatan negara berasal dari harta rampasan perang, cukai kharaj, jizyah, usyur, pemilikan negara, harta tidak sah bagi penguasa dan pegawai, harta yang didapat secara tidak sah dan harta denda, bagi penguasa dan pegawai, harta yang didapat secara tidak sah dan harta denda, barang temuan dan tambang, harta tanpa waris, harta orang murtad, dan pajak. Hal itu digunakan secara khusus untuk kepentingan orang umum. Serta kemaslahatan rakyat sesuai ijtihas khilafah.

Kedua, pos harta kepemilikan umum berasal dari pengelolaan SDA. Yang mana hasilnya dikembalikan secara langsung kepada rakyat seperti layaknya subsidi. Selain itu pengeloaan harta umum digunakan untuk perbaikan infrastruktur dan kebutuhan lainnya.

Ketiga, pos zakat dan shodaqoh berasal dari zakat,shadaqah dan wakaf yang diambil dari kaum muslimin. Dialokasikan kepada penerima sesuai hukum syariat.

Baitulmal memainkan peranan yang sangat penting dalam memaju dan memperkembang sistem ekonomi Islam. Hal ini menjadikan salah satu faktor kemajuan negara Islam yang sangat bergantung pada kestabilan ekonomi. Sehingga negara tercipta kemandirian ekonomi yang kuat tanpa bergantung pada para Kapitalis.

Sehingga upaya pemerintah untuk membidik dana wakaf untuk pendapatan negara tidak sesuai dengan Islam. Karena wakaf bisa dinikmati manfaatnya oleh semua orang dan turun temurun. Wakaf adalah bagian dari grand design Allah SWT untuk kesejahteraan umat manusia melengkapi zakat dan infaq atau sedekah. Jika itu digunakan untuk keuntungan para Kapitalis dan anteknya sungguh dosa besar. Terutama para ulama-ulama pendukung mereka menjual agama demi cintanya dunia.

Sepatutnya negeri ini membutuhkan pemerintahan yang mandiri ,yang adil dan steril dari kerakusan kaum kapitalis. Hanya pemerintahan khilafah Islam yang bisa mewujudkannya. Sehingga kita perlu melanjutkan kehidupan ini sesuai syariat yang diajarkan Rasulullah SAW dan perintah Allah SWT dengan penerapan Islam secara kaffah.
Wallahu ‘alam Bisshawab