Oleh: Maman El Hakiem

Rasulullah saw. itu manusia paripurna. Dalam raganya telah “dibedah” oleh Malaikat yang mendatanginya semenjak masih dalam pengasuhan Halimatus Sadiyah. Tanda-tanda kenabiannya dikenali seorang Pendeta Nasrani, bernama Buhaira dan Rahib Nusthura dalam perjalanan niaga. Jalan kehidupan beliau menjadi pengalaman berharga dalam menjejaki proses kenabian selanjutnya, yang bukan saja menyampaikan risalah Islam, melainkan juga memimpin pemerintahan Islam di Madinah.

Dari sisi kenabian, jelas baginda Rasulullah Saw. terjaga dari kesalahan, apa yang disampaikannya murni perintah dan larangan dari Allah SWT, terbebas dari hawa nafsunya, sehingga kita harus yakin bahwah ajaran Islam yang disampaikannya bukan buatannya. Islam adalah agama yang meliputi akidah atau tauhid, dan syariah berupa aturan atau cara hidup manusia yang mengimani Allah SWT dan Rasul-Nya.

Namun, dari sisi manusia (basyariah), beliau terlahir sebagai makhluk yang secara jasadi dikarunia hajatul udhawiyah (kebutuhan jasmaniyah) dan naluri (gharizah) yang sama seperti manusia lainnya. Maka, beliau memiliki rasa lapar, haus, sakit dan ngantuk. Juga memiliki naluri syahwat, takut, perasaan sedih dan gembira. Inilah yang harusnya semakin menyadarkan kita, bahwa menteladani beliau selaras dengan fitrah manusia. Wajar, jika Michael Hart menempatkan beliau sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia membangun peradaban dunia.

Dua puluh tiga tahun sejak diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad Saw. melakukan revolusi pemikiran manusia dalam membangun peradaban dari sistem jahiliyah menjadi sistem Islamiyah yang penuh berkah. Ada proses pencapaian tertinggi, namun tidak mudah karena ditempuh melalui strategi dakwah yang matang dan penuh kesabaran.

Jalan dakwah yang dilakukan oleh baginda Rasulullah saw. bukan jalan pragmatis, melainkan ideologis. Keagungan pribadinya tidak dijadikan modal untuk meraih kekuasaan secara instan. Petunjuk Allah SWT yang memandu kehidupannya, telah membuat beliau bersikap tegas menolak tawaran harta, tahta dan wanita dari pemimpin Quraisy sewaktu fase dakwah di Makkah. Beliau istiqomah di jalan dakwahnya dan tidak tergoda meraih kekuasaan dengan cara “masuk sistem” jahiliyah.

Kekuasaan itu berada di tangan umat, bukan pada para pemimpin suku Quraisy, maka beliau dengan para sahabatnya terus berdakwah tanpa kenal lelah, menawarkan Islam kepada seluruh simpul tokoh umat. Inilah yang kemudian disebut aktifitas “Tholabun Nushrah”, mencari perlindungan dakwah agar Islam dapat diterima secara sadar dan sukarela. Rasulullah mendatangi tokoh kabilah di Makkah, Habsyi, Thaif sampai akhirnya mendapatkan amanah kekuasaan di Yatsrib. Pencapaian tersebut harus dicatat sebagai prestasi revolusi sistem peradaban manusia.

Beliau mewariskan sistem pemerintahan yang mampu bertahan sampai lebih dari tiga belas abad lamanya, itulah kekhilafahan Islam yang beliau pesankan di ujung usianya agar umat menggigitnya agar tidak lepas.”… Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidun, orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian…” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Wallahu’alam bish Shawwab.***