Oleh: Sherly Agustina, M.Ag
(Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Rasulullah Saw. Bersabda:
“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).

Dilansir oleh Suara.com, Publik beramai-ramai mengkritik film pendek berjudul ‘My Flag – Merah Putih Vs Radikalisme’ besutan Nahdlatul Ulama (NU). Film tersebut dituding memuat konten adu domba untuk membenci wanita bercadar. film yang telah dibuat untuk merayakan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2020 itu telah disaksikan lebih dari 135 ribu kali. (26/10/20).

Salah satu pemeran dalam film tersebut adalah Gus Muwafiq salah satu tokoh NU yang kontroversial. Sebelumnya dunia jagad maya dan nyata diramaikan dengan pernyataan beliau yang kontroversial. Mengatakan bahwa masa kecil Nabi Saw. rembes (bahasa Jawa) yaitu ingusan. Padahal, siapapun tak pantas menggambarkan atau memvisualisasikan Baginda Nabi demgan sesuatu yang kurang sopan.

Dalam film tersebut, terkesan tendensius dan provokatif salah satunya ialah tentang cadar. Digambarkan bahwa santri wanita adu fisik dengan santri wanita lain yang bercadar. Entah maksdunya santri wanita yang tak bercadar itu adalah santri NU di dalam film tersebut. Kemudian adu fisik dimenangkan oleh santri tak bercadar. Maka tak heran jika film ini menuai kontroversi dan banyak yang mengkritik di mana-mana, mulai dari netizen dan kalangan tokoh pun tokok NU itu sendiri.

Perbuatan ini khawatir mengandung provokasi (tahrisy). Al Baghawi mengatakan, “Tahrisy adalah memicu adanya saling bertengkar dan saling berbuat kasar antara sesama Muslim” (Syarhus Sunnah, 13/104).
Ibnu Atsir mengatakan, “Tahrisy adalah memancing pertengkaran antara orang-orang satu sama lain” (Jami’ Al Ushul, 2/754).

Provokasi antara sesama Muslim atau tahrisy adalah perbuatan setan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812) (muslim.or.id).

Pertanyaannya adalah, jika pembuat dan pemain film ini mengaku dari kalangan NU sementara NU identik dengan madzhab Syafi’i. Lalu ketika ditelaah bahwa pendapat cadar menurut madzhab Syafi’i ialah aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

Pertama, Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)

Kedua, Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

Ketiga, Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandangan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181) (muslim.or.id)

Dari pendapat mu’tamad di atas jelas cadar itu wajib bagi madzhab Syafi’i. Lalu, pembuat dan pemain film ini benar kah dari NU atau mengaku-ngaku NU? Jika benar NU, bermadzhaab Syafi’i atau siapa? Sementara jika seseorang sudah menganut madzhab tertentu maka dia harus terikat dengan pendapat ulama dari madzhab tersebut. Maka film ini justru menjadi blunder bagi pembuat dan pemainnya yang katanya mengaku paling NU dan pancasilais.

Permasalahan cadar ini banyak pendapat di kalangan para ulama, selama dalil yang digunakan berdasarkan dalil syariah maka dikatakan pendapatnya islami. Lalu, mengapa dipermasalahkan sehingga memicu keresahan dan kontroversi di tengah-tengah mansyarakat. Hendaknya bagi umat Islam, jangan mudah terprovokasi oleh apapun yang dilakukan oleh musuh Islam. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah seperti sarang laba-laba. Firman-Nya:

“…sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (TQS. an Nisa: 76).

Allahu A’lam Bi Ash Shawab.