Oleh: Maman El Hakiem

Laman BBC dan CNN Indonesia memberikan sorotan khusus terhadap kepulangan Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab atau lebih akrab dengan sebutan Habib Rizieq Shihab(HRS). Setelah lebih dari tiga tahun bermukim “overstay” di Saudi Arabia, Habib Rizieq akhirnya pulang ke tanah air, Selasa, 10 Nopember 2020. Ribuan massa FPI dan umat Islam pada umumnya menyambut kedatangannya, baik di bandara Soekarno Hatta maupun di Petamburan, Jakarta.

Kerinduan umat terhadap kepulangan HRS telah lama terpendam. Tokoh yang selalu menjadi ikon aksi reuni alumni 212 tersebut, telah menjadikan semangat perubahan umat menjadi isu utama. Cermin adanya penentangan terhadap kezaliman penguasa dan harapan adanya tokoh yang berani menyuarakan penerapan syariah. Hal inilah yang selalu menjadi tanda tanya besar, kenapa HRS selalu gagal pulang, alasannya tentu kepentingan politik penguasa.

Konstelasi politik dalam negeri yang memanas pasca kalahnya Ahok di Pilgub DKI Jakarta tahun 2017, menyisakan dendam politik sistem yang berkuasa. HRS harus mengalami pengasingan dan kelompok dakwah tertentu dicabut badan hukumnya. Kekuatan umat yang terbukti mampu mengalahkan kesombongan penguasa telah membuat kalangan tertentu memutar otak untuk membendung laju gerakan perubahan umat. Di sinilah makna pentingnya membangun jiwa kepahlawanan di tubuh umat, agar selalu kritis melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim.

Momentum hari pahlawan, 10 Nopember yang bertepatan dengan kepulangan HRS, adalah semangat dan kerinduan umat untuk perubahan kehidupan yang lebih baik dengan penerapan syariah secara kaffah. Dalam frame inilah harusnya umat menyatukan visi membanguna agenda dakwah ke depan. Umat bukan saja mencinta figur yang tegas melakukan perlawanan terhadap sistem yang batil, tetapi juga membuka ruang diskusi publik terhadap bisharah atau kabar baik yang disampaikan Rasulullah Saw. tentang akan tegaknya kembali kekhilafahan Islam.

Kepahlawanan umat di akhir zaman ini, itulah kunci yang mampu membuka harapan baru. Hanya melalui jalan umat, sesungguhnya kekuasaan itu bisa diraih tanpa harus berdarah-darah. Selama umat belum menyadari hakikat kepemimpinan sejati, maka sistem demokrasi selalu menawarkan diri membujuknya dengan segala cara, termasuk menggunakan politik adu domba umat Islam. Karena itu harus diwaspadai terhadap adanya upaya yang akan memecah belah persatuan kaum muslimin yang selama ini telah terjalin.

Kepulangan HRS kembali ke tanah air, bukan karena “hadiah” di hari pahlawan, melainkan atas perjuangan umat yang mencintai tokoh gerakan perjuangannya yang konsisten melawan kezaliman penguasa. Nilai heroisme umat yang sabar menunggu kepulangan HRS dan keistiqomahan jalan dakwah tanpa kekerasan, membuktikan umat merindukan negara hukum bukan negara otoriterisme. Sebuah harapan akan lahirnya kepahlawanan umat yang mampu membuka jalan perubahan untuk diraihnya kekuasaan yang memancarkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, melalui penerapan hukum-hukum Allah SWT secara kaffah.
Wallahu’alam bish Shawwab.***