Oleh: Maman El Hakiem

Duit kok bikin ribut. Duit atau uang fungsinya sebagai alat tukar barang atau jasa. Duit bukan segalanya, tapi segalanya butuh duit. Benarkah? Benar, jika segalanya harus ditukar dengan duit. Ingin barang harus dibeli dengan duit. Menyewa jasa harus diupah dengan duit. Ingin duit?

Dalam sejarah peradaban manusia, kehadiran uang telah memudahkan aktifitas tukar barang atau jasa. Karena itu uang harus memiliki nilai intrinsik yang sepadan dengan nilai barang atau jasa. Tetapi, faktanya sekarang uang yang resmi beredar hanyalah “kertas” yang dilegalisasi oleh pemerintah dan dianggap sebagai alat pembayaran yang sah. Jadi, yang bernilai dari uang bukan nilai intrinsiknya, karena selembar uang seratus ribu rupiah dengan seribu rupiah, kualitas kertasnya sama. Yang bernilai dari uang yang ada sekarang adalah nilai kepercayaan masyarakatnya.

Berbeda dengan uang dalam sistem pemerintahan Islam, uang harus ada nilai intrinsik atau standarnya, berupa emas atau perak. Karena itu keberadaan uang nilainya akan selalu stabil, tidak seperti uang kertas biasa yang beberapa tahun kemudian bisa rendah nilai, bahkan sudah tidak laku karena ditarik dari peredaran.

Orang yang mata duitan, selalu yang ada dipikrannya duit. Inilah sistem materialistis yang standar kebahagiannya adalah materi semata. Ketika duit itu sebagai materi yang dapat membeli kebahagiannya, maka itulah tujuan dari kepuasan hidupnya. Mengumpulkan harta berupa uang di bank menjadi gaya hidup, apalagi jika terpesona dengan bunga, dikiranya investasi, padahal itulah cara kapitalisme mengambil harta dengan keharaman riba.

Uang jika ingin berkembang harusnya dijadikan modal usaha secara riil atau menjadi jalan kebaikan dengan meminjamkannya pada mereka yang membutuhkan modal. Bedanya, dipakai modal ada nilai untung rugi, sedangkan dipinjamkan tidak boleh mengambil keuntungan, karena meminjamkan nilai amalnya menolong bukan investasi. Bagaimana jika disimpan?

Menyimpan uang tanpa tujuan sama dengan menimbun harta(kanzul maal) akan berpengaruh terhadap perekonomian secara umum. Karena dapat mempengaruhi sirkulasi dan pertukaran harta di tengah masyarakat, dan akhirnya akan mempengaruhi jalannya roda perekonomian. Alasannya, pendapatan seseorang atau lembaga, tidak lain, bersumber dari orang atau lembaga lain; alat pertukarannya adalah uang. Jika seseorang menimbun uang, itu artinya uang itu tidak masuk ke pasar. Karena penimbunan itu, sirkulasi harta di masyarakat pun terganggu. Pada tingkat tertentu, jika jumlah uang yang ditimbun banyak, roda perekonomian pun akan berjalan sangat lambat dan akibatnya perekonomian akan merosot.

Namun, berbeda jika uang yang disimpan sekedar ditabung dengan tujuan tertentu. Sebab, uang yang ditabung itu pada waktunya akan dibelanjakan sehingga pertukaran harta terjadi sehingga sirkulasi kekayaan tetap terjadi di masyarakat dan roda perekonomian tetap berjalan. Jadi, uang itu harusnya dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari, modal usaha dan meraih pahala, berupa zakat, infak atau sedekah. Boleh disisakan atau ditabung kalau ada tujuan tertentu, jika tidak ada tujuan apalagi ada riba, harta tersebut menjadi haram. Rasulullah saw. selalu gelisah jika sebelum tidur masih ada sekeping uang dibalik bantalnya. Wallahu’alam bish Shawwab.***