Oleh: Nurhayati (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Umat Islam dibuat marah lagi oleh orang-orang penganut paham kebebasan. Perancis, negeri menara Eifel yang mempunyai semboyan kebebasan, keadilan, persaudaraan sang penyulut kemarahan itu. Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menumbuhkan kemarahan di hati umat, ia menghina Kekasih Alloh, Muhammad SAW. Perbuatan ini memicu kemarahan hampir semua negeri muslim.

Macron memicu kemarahan dengan pernyataannya bahwa menggambar kartun Rasulullah adalah tidak salah dan termasuk kebebasan berekspresi. Ia mengatakan hal tersebut saat salah satu guru di Prancis meninggal setelah menunjukkan gambar kartun Nabi merupakan pelajaran kebebasan berekspresi. Guru tersebut, Samual Paty meninggal setelah ia dipenggal kepalanya oleh seorang pemuda akibat dari perbuatannya itu.

Seperti yang dilansir Palembang tribunnews.com (2020/10/28), pejabat dalam negeri Perancis menyatakan, “Posisi yang dipertahankan oleh Prancis (adalah) mendukung kebebasan hati nurani, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan penolakan panggilan untuk kebencian.”

Hal ini bisa dikatakan bahwa para pejabat Prancis menyatakan setuju dengan perbuatan Emmanuel Macron. Mereka tetap menyakini bahwa semboyan kebebasan merupakan hal yang terbaik untuk Prancis. Di negara ini semua individu berhak untuk mengekspresikan kebebasan meskipun itu masalah keyakinan umat yang lain.

Apa yang terjadi di Prancis dan sering dilakukan oleh negera kafir karena mereka menganut paham sekuler. Sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Sektor agama tidak boleh ikut dalam pemerintahan,  agama adalah masalah individu. Negara tidak akan mengatur masalah hukum-hukum agama dan permasalahan yang terjadi di tiap individunya.

Barat mengatakan bahwa dengan sekularisme kebebasan beragama akan terjamin. Tetapi kenyataannya bukan kebebasan agama, penodaan agama yang ada. Di saat orang komunis tidak mengakui adanya Sang Pencipta, Mereka menjadikan agama hanya simbol belaka dalam alam nyata justru terlepas dari agama. Serta mereka berfikiran di saat sekulerisme berjalan tidak akan menganak-emaskan agama tertentu, hal ini tidak akan mungkin terjadi karena sekuler lahir dari orang-orang nasrani yang akan tetap membela agama dan simbol-simbolnya.

Sekularisme benar-benar telah membuat kehidupan porak-poranda. Ia melecehkan apapun yang ia anggap bertentangan dengan hati nurannya walaupun yang dilakukan itu menyakiti, menimbulkan keonaran dan kemarahan orang lain. Mereka sudah tidak mengindahkan norma social, budaya bahkan agama. Hal ini yang membuat sekulerisme lebih berbahaya dari komunisme. Mereka beragama tapi seperti tidak mengenal agama.

Dengan adanya pelecehan yang dilakukan oleh Macron, maka wajar bila seluruh negeri muslim mengutuk dan mengambil jalan perlawanan, dengan jalan boikot semua produk Prancis. Perlawanan dalam perekonomian yang bisa dilakukan oleh kaum muslim. Perlawanan ini diambil karena dinilai cukup efektif untuk membuat prancis kalang kabut menghadapi porak-poranda menghadapi serangan ekonomi.

Para aktivis di media sosial menyerukan berbagai tagar seperti #Boycottfrance #Boycott_French_products #ProphetMuhammad. Tak hanya di media sosial, isu boikot produk-produk Prancis pun diserukan oleh para pemimpin negara-negara Islam. Di Kuwait, beberapa jaringan supermarket mulai mengeluarkan semua produk Prancis dari rak sebagai bentuk aksi protes. Di Qatar, Alwajba Dairy Company dan Almeera Consumer Goods Company mengatakan mereka akan memboikot produk Perancis (cnbcindonesia, 27/10/2020).

Gerakan boikot ini juga bisa menumbuhkan persatuan diantara kaum muslimin di seluruh negeri. Tanpa sekat kaum muslimin membela Nabi Muhammad. Betapa indahnya persatuan ini, jika kaum muslimin juga memboikot demokrasi yang membawa 4(empat) kebebasan yang membuat kerusakan di seluruh belahan negeri. Sebab akar masalah dari penodaan terhadap Rasulullah adalah demokrasi-sekuler.

Liberalisasi ini yang membuat manusia bebas melakukan apaun. Faham inilah yang harus kita boikot. Bagaimana caranya? Dengan kita meninggalkan demokrasi yang menghasilkan liberalisasi itu akan lebih membuahkan hasil yang maksimal. Ketika kita melakukan boikot suatu produk tanpa meninggalkan demokrasi, penodaan terhadap Islam masih akan berlanjut. Demokrasi hanya menghasilkan manusia-manusia yang tidak beradab. Manusia yang tidak memanusiakan dan tidak memuliakan yang mulia.

“Untuk apa umat Islam menjaga dan melangsungkan sistem yang melecehkan Islam sendiri? Belum cukupkah peringatan Alloh SWT dalam QS.Ali Imran:118
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Saatnya kita menenggok sistem yang bisa menjalankan syariah Islam, dalam bingkai Khilafah yang akan menjaga agama Islam dan menjalankan arti toleransi yang benar. Wallahua’lam bish-showab.