Oleh: Herawati,S.Pd.I

Video asusila mirip artis. Mirisnya, ini bukan pertama dan bukan satu-satunya. Sebagai mana dilansir dari dari Liputan6.com, Jakarta  Rekaman video asusila mirip artis Gisella Anastasia atau Gisel, tengah viral di media sosial. Kasus ini bak bola panas, menjadi perhatian luas, dan dilaporkan ke polisi oleh sejumlah pengacara.(13/11)

Tindak asusila kian marak di semua kalangan, ada apa dengan generasi saat ini? Kerusakan akhlak terus terjadi bahkan sebagian menunjukannya sebagai prestasi. Perkembangan teknologi berupa smart phone dan perkembanhan media sosial memudahkan para pelaku asusila mengabadikan tindakannya asusilanya tersebut dan berpotensi tersebar maya.

Indonesia sebagai negri muslim terbesar di asia tenggara, telah lama menganut budaya ketimuran yang sangat Islami dan terkenal dengan keimanan masyarakatnya yang kuat. namun saat ini budaya ketimuran itu sedikit demi sedikit telah terkikis dan digantikan dengan budaya barat yang hedonis liberalisme disemua aspek kehidupan.

Penerapan sistem yang keliru yaitu
sistem demokrasi kapitalisme sekuler, sistem ini telah memberikan jaminan kebebasan berperilaku pada setiap warga. Dan menjunjung tinggi kebebasan tanpa batas dalam semua aspek kehidupan. Inilah akar masa kenapa kasus tindakan asusila kian marak dan seolah tidak pernah tuntas. Apabila tidak ada perbaikan sistem maka dampak yang paling mengerikan adalah kerusakan moral generasi.

Kebebasan yang dijamin oleh negara ini menjadi alasan utama semakin maraknya pelaku Pornografi dan pornoaksi disemua kalangan, hal ini karena longgarnya filter dari negara terhadap situs-situs dewasa yang berasal dari dalam dan luar negri.

Ketiadaan sanksi dari negara untuk pelaku asusila yang dilakukan suka sama suka, maka sanksi UU ITE menyasar pada penyebar video bukan pada pelaku, pelaku hanya dikategorikan sebagai saksi atau korban.

Berbeda dengan sistem Islam
Islam membekali masyarakat dengan akidah yang kuat.
Penanaman dalam keluarga juga oleh negara melalui sistem pendidikan yang berorientasi penanaman kepribadian Islam. Hasilnya, individu yang berakhlak mulia.

Di sisi sistem pergaulan sosial, Islam menutup celah munculnya pergaulan bebas. Islam mengatur interaksi pria wanita. Mewajibkan jaga pandangan dan jaga aurat. Tidak bebas tanpa batas, tapi mulia dan bermartabat dengan syariat.

Memberikan sanksi tegas bagi pezina, juga penyebar pornografi.
Mengontrol ketat sistem penyiaran agar tertutup celah penyebaran pornografi pornoaksi.
Allah Subhanahu wa Ta’alal
berfirman

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مَائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَتَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.
[An Nur : 2]

Inilah ketegasan hukum dalam sistem Islam, tegas mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan, menjaga kemuliaan manusia dan menjadikannya manusia beradab dan bermartabat.

Wallahu Alam Bishawab..