Oleh : Nuril Izzati
(Ibu Rumah Tangga)

Joe Biden menang. Setelah sebelumnya berhasil mengalahkan kandidat dari Partai Republik, Donald Trump pada pemilu di AS yang telah dilaksanakan pada 3 November 2020 lalu.

Menyikapi kemenangan Joe Biden tersebut banyak kaum muslimin yang merasa mendapatkan angin segar, pasalnya dalam kampanyenya Joe Biden mengatakan bahwa jika ia terpilih menjadi presiden, ia akan mengakhiri larangan (Travel ban) bagi muslim pada hari pertamanya.

Dalam kesempatan yang lain pula, Kamala Harris sebagai pasangan Joe Biden seolah memberikan harapan manis tentang konflik yang terjadi di Palestina. Harris mengatakan bahwa mereka berkomitmen pada solusi dua negara dan akan menentang setiap langkah sepihak yang merusak tujuan tersebut. Tak hanya itu, mereka juga akan menentang aneksasi dan perluasan pemukiman. (sindonews.com)

Seperti kampanye-kampanye sebelumnya dalam sistem demokrasi, janji manis begitu mudah terlontar dari para perebut kursi kekuasaan, namun kenyataan di lapangan ketika sudah terpilih, janji tinggallah janji. Seperti janji manis yang sebelumnya pernah disampaikan oleh presiden AS yang juga berasal dari Partai Demokrat periode 2009-2017, Barack Obama. Ketika kampanye Obama mengumbar janji manis dengan mengatakan bahwa ia akan mengakhiri perang.

“Sekarang adalah waktunya untuk mengakhiri perang di Irak. Sekarang adalah waktunya untuk mulai membawa pasukan kita keluar dari Irak–segera”.

Meski benar sejak awal ia memerintah memang pasukan tempur AS di Irak berangsur-angsur berkurang, hingga pada Agustus 2010 pasukan tempur AS yang terakhir meninggalkan Irak (meski sekitar 50.000 personel masih tetap di Irak untuk mempersiapkan proses peralihan keamanan).

Namun di tahun-tahun setelahnya ternyata justru perang kembali dilakukan atas nama perang melawan terorisme. Seperti yang terjadi di Libya, Pakistan, Somalia, dan Yaman. Bahkan menurut laporan The Guardian, pada 2016 AS telah melepaskan sekitar 26.171 bom, ini setara dengan 72 bom per hari atau 3 bom setiap jamnya. Mengerikan.

Maka tidak layak bagi kaum muslimin untuk menggantungkan harapannya pada sistem demokrasi yang digawangi oleh Amerika Serikat. Terlebih menaruh harapan besar bagi perubahan keadaan di negeri-negeri muslim di berbagai belahan dunia.

Sudah saatnya umat muslim sadar dan tidak lagi terbuai dengan janji-janji manis para penguasa dimanapun mereka berada, baik di negeri adidaya seperti Amerika maupun di negeri-negeri mayoritas muslim seperti Indonesia. Karena dalam sistem demokrasi, janji-janji ketika kampanye hanya dijadikan cara untuk meraup suara.

Oleh karena itu, daripada terus berharap pada sistem demokrasi, lebih baik umat meletakkan harapannya hanya kepada Islam. Sebab hanya sistem Islam yang mampu berikan kebaikan juga keberkahan.

Cibinong-Bogor, Jawa Barat