Oleh: Maman El Hakiem

Momentum dalam kosakata ilmu Fisika, didefinisikan sebagai besaran yang dimiliki oleh benda yang bergerak. Besarnya momentum akan bergantung kepada massa dan kecepatan dari benda tersebut. Secara matematis momentum dapat dituliskan sebagai: p = mv, dengan p adalah momentum (kg m/s), m adalah massa benda (kg) dan v adalah kecepatan benda (m/s).

Membaca momentum dalam kehidupan, maknanya mengaitkan sebuah peristiwa tertentu dengan kecepatan gerak. Tidak ada sebuah peristiwa kehidupan yang tidak berkaitan, karena itu harus pandai membaca titik-titik penghubung yang membuat hukum kausalitas. Satu-satunya peristiwa yang tidak berkaitan dengan hukum sebab akibat, adalah ketetapan Allah SWT berupa qadarullah.

Rezeki itu qadarullah jalannya bisa darimana saja, tidak terikat pada sebab akibat. Tetapi, jika sudah menyangkut kepemilikan harta harus terikat dengan hukum kausalitas. Rezeki itu segala pemberian dari Allah SWT, sedangkan harta adalah materi yang ada dan tiadanya harus diupayakan. Karena itu Islam membagi kepemilikan harta menjadi tiga bagian, harta milik pribadi, umum dan negara.

Rezeki setiap makluk itu tetap, tetapi jumlah hartanya bisa berkurang atau bertambah, Islam tidak membatasi kuantitasnya, melainkan kualitasnya. Boleh mencari harta sebanyak-banyaknya, asalkan jalannya sesuai syariah. Karena kemuliaan harta seseorang bukan karena jumlahnya, melainkan dari kualitas harta yang digunakannya di jalan ketakwaan.

Momentum pemanfaatan harta sejatinya kesempatan memperbesar pahala. Semakin tinggi kecepatan dan massa(pengorbanan harta), membuatnya “ringan” saat hari harta itu akan dihisab. Bagaimana para sahabat Rasulullah saw. membaca momentum? Mereka merelakan menjadi “miskin” demi meraih kemuliaan di jalan dakwah.

Tidak mengherankan Mushab bin Umair meninggalkan kemewahannya saat harus menjadi duta dakwah di Yatsrib sebelum peristiwa hijrah. Pun Abdurrahman bin Auf yang hampir dua pertiga hartanya menjadi milik mereka orang miskin yang terlilit utang dan dakwah. Kenapa demikian? Karena para sahabat pandai membaca momentum, sebagai kesempatan memaksimalkan kecepatan gerak imannya. Tidak terhalang oleh kepentingan pribadinya. Besarnya pengorbanan harta tidak dalam upaya menggugurkan tugas dakwah, mereka bahkan turut maju ke medan jihad.

Lihatlah, sekalipun Mushab bin Umair telah berhasil memahamkan pendududuk Yatsrib untuk menerima Islam dan berkorban harta. Beliau tercatat sebagai pembawa panji Rasulullah saw. saat perang Badar dan Uhud. Sungguh para sahabat telah menjadikan imannya menjadi radar untuk membaca momentum dalam meraih derajat takwa yang sejati. Harusnya kita belajar untuk memanfaatkan momentum dakwah yang ada, untuk tidak bersikap minimalis. Karena Allah SWT telah membeli harta dan jiwa ini dengan surga-Nya.
Wallahu’alam bish Shawwab.***