Oleh : Isti Qomariyah

Sebagaimana yang kita tau, kaum muslim saat ini ibarat sebuah ikan yang tidak berada pada habitatnya. Kita dipimpin oleh pranata sosial selain islam, yakni sistem demokrasi kapitalis. Sebagian ruh dan cabang ide kebebasan yang lahir dari ideologi ini yakni kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan berkeyakinan/beragama dan kebebasan kepemilikan. Sebagaimana yang kita tau umat muslim saat ini di buat marah lagi oleh negara Perancis, negeri menara Eiffel yang memiliki semoboyan kebebasan, keadilan.
Namun,.kekacauan makin tak terbendung.

Masih, teringat di kepala, atas dalih kebebasan berpendapat, bolehnya menghinda dan merendahkan ajaran agama lain yakni Islam. Presiden Perancis, Immanuel Macron, menyatakan bahwa menggambar karikatur Nabi Muhammad bukanlah hal yang salah. Karena itu bagian dari kebebasan berekspresi.
Seperti yang dilakukan oleh Samuel Paty seorang guru di Perancis yang menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad SAW kepada murid-muridnya. Perbuatan tersebut sangat menyulut kemarahan ummat Nabi Muhammad.

Seperti yang dilansir Palembang tribunnews.com (2020/10/28), pejabat dalam negeri Perancis menyatakan, “Posisi yang dipertahankan oleh Prancis (adalah) mendukung kebebasan hati nurani, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan penolakan panggilan untuk kebencian.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa dari pejabat sampai masyarakat pun membenarkan tindakan tersebut.

Hal inilah yang memicu aksi boikot produk Perancis di berbagai negara. Negara berpenduduk muslim mengecam Macron hingga memboikot produksi perancis. Boikot itu sendiri menandakan konsekuensi keimanan yg ada pada diri ummat muslim.

Apa yang terjadi di Perancis karena negara tersebut menganut semuah paham sekulerisme. Sebuah paham yang memisahkan agama dengan kehidupan. Agama tidak boleh ikut campur dalam sektor negara dan kehidupan. Urusan agama merupakan urusan individu, apakah individu tersebut benar atau baik, terserah individunya. Beginilah, bahaya dari pada sekulerisme. Bahkan bisa dikatakan lebih berbahaya dari pada komunisme. Mereka beragama bamun tak mengindahkan dan membuang aturan agama. Mereka akan melakukan apa saja yang bertentangan dengan hati nurani, meskipun itu menyakiti dan membuat kerusakan.

Oleh karena itu, pemboikotan produk saja itu tidak cukup, jika tidak didukung oleh peran negara. Seharusnya yang perlu diboikot adalah, sekulerisme-liberalisme serta sistem kapitalisme. Karena sistem inilah yang mengijinkan penghinaan ini terjadi, dan bahkan memproduksi manusia-manusia tidak beradab lebih banyakagi dan orang-orang penghina nabi Muhammad lebih banyak lagi.

Maka untuk totalitas menbungkam mulut kebencian Perancis dan seluruh imperialis Barat (Eropa). Diperlukan persatuan seluruh umat muslim dunia dan kekuasaan Islam dalam bentuk naungan sistem Islam (Khilafah) yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut Kholifah atau amirul mukminin. Hal ini dulu pernah dilakukan oleh Sultan Hamid II. Kholifah terakhir yang menerapkan sistem islam/khilafah pada masa kekilafahan Turki Usmani.Sultan hamid II, marah besar karena Perancis ajang menggelar teater yg menampilkan tokoh utama Nabi muhammad SAW. Sultan Hamid II berkata “akulah khalifah umat Islam abdul hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitar mu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut”!
Maka Perancis pun ketakutan dan tidak jadi memerankan pertunjukan tersebut.

Selain Khalifah Abdul Hamid II, Khalifah Umar bin Kaththab ra yang terkenal sebagai Sahabat Nabi Saw tegas juga pemberani. Sebagai Khalifah yang adil beliau pernah mengatakan, “ Barangiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!”. Atsiar ini diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimaihullah.

Maka sudah seharusnya mengembalikan kemuliaan Islam dengan menegakkan Khilafah. Allahu A’lam Bishshawab.