Oleh : Binti Adib
Joe Biden akhirnya memenangkan pemilu di Amerika Serikat. Media Amerika Serikat melaporkan, presiden AS terpilih Joe Biden telah memenangkan 306 suara elektoral (electoral college). Sementara itu, petahana Presiden Donald Trump hanya meraih 232 suara ( Liputan6.com).

Janji manis kampanye telah Biden tebar. Di antara janji itu adalah jika ia terpilih, Joe Biden berjanji kepada umat Islam akan memperlakukan agama Islam sebagaimana mestinya (JAKBARNEWS). Kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden juga berjanji akan mencabut sejumlah kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait Palestina dan Timur Tengah.

Tampaknya janji manis Biden telah mengundang simpati umat Islam . Baik di dalam negeri AS maupun di luar negeri. Ada analisa kemenangan Biden akan mengubah konstelasi poliltik Timur Tengah.

Benarkah kemenangan Joe Biden akan memeberi kebaikan bagi umat Islam?
Janji kampanye tinggallah janji. Di berbagai Negara janji kampanye tidak bisa ditagih (diminta pertanggung jawaban). Kampanye yang dilakukan Biden tak lebih hanya untuk pencitraan, mendobrak elektabilitasnya sebagai calon presiden. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan pendahulunya. Ini juga sesuatu yang biasa terjadi dalam pemilu sistem demokrasi.

Kita sudah banyak melihat diberbagai belahan dunia pergantian pemimpin ,selama system pemerintahan yang diterapkan tidak berubah maka tidak akan banyak perubahan yang berarti.

Harusnya umat belajar dari sejarah sebelumnya. Ketika umat islam menaruh harapan baik kepada calon presiden Obama.

Ketika Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama berpidato di Universitas Al-Azhar Kairo, pada 12 Juni 2009 yang di antaranya menyatakan akan melakukan rekonsiliasi dengan Dunia Islam melalui upaya mendamaikan Palestina-Israel secara adil, muncul optimisme sayup-sayup dunia Islam dan khususnya dunia Arab (REPUBLIKA.CO.ID).

Obama diharapkan bersedia menekan Israel agar berdamai dengan Palestina berdasarkan situasi wilayah sebelum Perang 1967. Dan mengubah kebijakan unilateral terhadap dunia Islam.

Memang selama Presiden George Walker Bush berkuasa, hubungan dunia Islam dan Amerika Serikat bertambah buruk karena kebijakan-kebijakannya yang keras dan tidak simpatik terhadap dunia Islam.  Namun janji Obama ini hanyalah isapan jempol. Pada kenyataannya yang terjadi jauh dengan apa yang diharapkan.

Hal ini terjadi karena negara Amerika Serikat menganut ideologi kapitalisme. Salah satu asasnya adalah manfaat. Maka para penganut kapitalisme tidak akan berbuat mempertimbangkan benar salah, tapi keuntungan materi,non materi yang menjadi pertimbangan. Dan ideologi ini merupakan ideologi yang bertentangan dengan Islam. Sudah pasti selamanya tidak akan berpihak kepada Islam.

Jadi, umat tidak sepatutnya berharap banyak pada Joe Biden. Terlebih lagi, sebenarnya selama ini Amerika banyak menjadi dalang dari berbagai konflik yang ada di dunia. Contohnya : konflik di Suriah. Kalau jeli melihat peta konflik Suriah sesungguhnya ini tidak ada kaitannya dengan mazhab atau paham agama apapun. Melainkan pro tidaknya suatu pemerintahan pada kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah. Suriah dibawah Bashar Assad tidak bisa dikontrol AS, karena itu dirancang konspirasi untuk menjatuhkannya. Ali Abdullah Saleh di Yaman tidak perlu diusik karena memang pro AS dan dekat dengan Arab Saudi, meskipun mazhabnya Syiah. Demikian pula dengan Iran di bawah rezim Syah Pahlevi yang sedemikian akrab dengan AS dan Arab Saudi (liputanIslam.com).

Kepada siapa umat berharap?
Melihat perlakuaan Amerika Serikat, negara imperialis terhadap umat Islam selama ini. Tidak sepantasnya umat islam berharap ada kebaikan dari AS. Siapa pun presidennya, Amerika Serikat dengan ideologi kapitalismenya adalah Negara imperialis yang berusaha menjajah Negara lain sesuai ideologinya. Tabiat penjajah adalah menguasai Negara yang dijajah di berbagai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.

Negara yang benar-benar akan membawa kebaikan bagi umat Islam, adalah Negara yang tunduk pada aturan Ilahi. Negara yang menjaga nyawa, kehormatan manusia, tidak semena-mena menumpahkan darah manusia. Seperti yang dahulu pernah dicontohkan Rasulullah SAW, dan para Kholifah sesudah beliau.